JEDADULU.COM; JEDDAH โ Perjalanan Timnas U17 Indonesia di Piala Asia U17 2026 harus berakhir lebih cepat dari harapan. Garuda Muda dipaksa menyerah 1-3 oleh raksasa Asia, Jepang, pada laga pamungkas Grup B di Lapangan A Komplek Stadion King Abdullah Sports City Training, Selasa (12/5/2026) waktu setempat.
Kekalahan ini tak hanya menghentikan langkah di fase grup, tapi juga mengubur mimpi tampil di Piala Dunia U17 2026. Hasil minor ini menempatkan Indonesia di posisi juru kunci Grup B. Ironisnya, Garuda Muda hanya mengoleksi tiga poinโsama dengan China dan Qatarโnamun kalah dalam perhitungan selisih gol head to head.
Sementara Jepang melenggang sempurna sebagai juara grup dengan sembilan poin, justru China yang lolos sebagai runner-up setelah menundukkan Qatar 2-0 di laga paralel.
Jepang Terlalu Perkasa
Sejak peluit babak pertama dibunyikan, dominasi Samurai Biru sudah tak terbendung. Permainan agresif Jepang memaksa lini belakang Indonesia bermain dengan lima bek dalam formasi bertahan total. Namun kokohnya tembok pertahanan itu akhirnya jebol juga.
Ryoma Tsuneyoshi membuka keunggulan Jepang pada menit ke-28, memanfaatkan umpan matang Rekuto Shiraogawa. Skor 1-0 bertahan hingga jeda.
Di babak kedua, intensitas serangan Jepang justru meningkat. Kapten Takeshi Wada menggandakan penderitaan Indonesia di menit ke-59. Meski sempat memberi asa lewat gol tendangan bebas indah Peres Akwila Tjoe pada menit ke-70, Jepang hanya butuh waktu satu menit untuk kembali menjauh. Pemain pengganti Arata Okamoto mencetak gol ketiga pada menit ke-71, mengunci kemenangan 3-1 sekaligus memupuskan harapan Indonesia.
Pelatih Pasang Badan, Minta Maaf
Usai laga, pelatih kepala timnas U17 Indonesia Kurniawan Dwi Yulianto dengan lapang dada memasang badan atas kegagalan timnya. “Atas nama pribadi dan juga sebagai head coach, sebagai penanggung jawab di tim ini, saya mohon maaf atas kegagalan ini,” ujarnya dalam rekaman suara yang dirilis PSSI, dikutip Rabu (13/5/2026).
Namun di balik kekecewaan, mantan striker Timnas Indonesia itu menolak menyalahkan para pemain mudanya. Ia justru menitipkan pesan penuh harapan, bahwa karier Garuda Muda masih panjang. “Saya berpesan kepada mereka bahwa ini bukan akhir segalanya. Karier mereka masih panjang, terus berlatih, terus menjadi pemain profesional yang sejati,” kata Kurniawan.
Kurniawan juga menyampaikan apresiasi atas kerja keras seluruh staf dan pemain sepanjang turnamen. Ia menegaskan siap bertanggung jawab penuh, meski tak menampik evaluasi besar-besaran dibutuhkan agar sepak bola usia muda Indonesia bisa lebih kompetitif di level Asia.
Loncatan Kecil yang Belum Cukup
Kegagalan ini memang pahit. Apalagi jika menilik perjalanan di Grup B, Indonesia sejatinya mengawali langkah dengan kemenangan meyakinkan 1-0 atas China. Sayangnya, konsistensi tak terjaga setelah takluk 0-2 dari Qatar di laga kedua.
Hasil tiga poin dari tiga laga memperlihatkan bahwa level persaingan di kelompok usia ini masih membutuhkan lompatan kualitas yang signifikan. Meski demikian, pengalaman menghadapi tim-tim kuat seperti Jepang dan Qatar dinilai penting sebagai bagian dari proses pembinaan jangka panjang PSSI.
Kini, fokus beralih pada bagaimana federasi memetakan ulang strategi pembinaan usia muda. Sebab mimpi besar menembus Piala Dunia tak cukup hanya dengan semangat, melainkan juga fondasi teknis dan regenerasi yang berkelanjutan.
(Sumber: PSSI)

Komentar