JEDADULU.COM; JAKARTA โ Kabar kurang menggembirakan bagi masyarakat pengguna tabung gas melon biru dan hijau. Mulai 18 April 2026 lalu, harga resmi Liquefied Petroleum Gas (LPG) nonsubsidi ukuran 5,5 kg dan 12 kg resmi mengalami penyesuaian di berbagai wilayah Indonesia.
Kebijakan ini berlaku merata, meskipun besaran kenaikannya berbeda-beda tergantung pada biaya distribusi di masing-masing daerah. Berdasarkan laman resmi Pertamina yang dipantau pada Senin (20/4/2026), kenaikan ini menjadi yang pertama kali terjadi sejak akhir tahun 2023. Selama lebih dari dua tahun, harga sempat relatif stabil, namun kini masyarakat harus merogoh kocek lebih dalam.
Lonjakan Harga: Dari Rp17 Ribu hingga Rp36 Ribu per Tabung
Untuk tabung ukuran 5,5 kg yang biasa digunakan oleh rumah tangga menengah dan usaha kecil, harganya kini menjadi Rp107.000 per tabung. Angka ini melonjak Rp17.000 dari harga sebelumnya yang berada di angka Rp90.000 per tabung.
Sementara itu, untuk tabung ukuran 12 kg yang banyak dipakai oleh restoran, hotel, dan industri rumahan, harganya ditetapkan menjadi Rp228.000 per tabung. Kenaikannya cukup signifikan, yaitu Rp36.000 dari harga lama Rp192.000 per tabung.
“Penyesuaian harga LPG non-subsidi ini dilakukan setelah evaluasi pasar dan koordinasi dengan pemerintah serta pemangku kepentingan lain terkait dinamika biaya produksi dan distribusi,” demikian pernyataan resmi PT Pertamina Patra Niaga.
Perbedaan Harga di Setiap Wilayah: Timur Paling Terpukul
Yang perlu dicermati, harga di atas tidaklah seragam untuk seluruh Indonesia. Biaya distribusi yang tinggi membuat beberapa daerah harus membayar lebih mahal. Berikut rincian lengkapnya:
Wilayah Jawa, Bali, dan NTB:
- LPG 12 kg: Rp228.000 per tabung
- LPG 5,5 kg: Rp107.000 per tabung
Wilayah Sumatera dan Sebagian Sulawesi:
- LPG 12 kg: Rp230.000 per tabung
- LPG 5,5 kg: Rp111.000 per tabung
Wilayah Kalimantan dan Sebagian Indonesia Tengah:
- LPG 12 kg: Rp238.000 per tabung
- LPG 5,5 kg: Rp114.000 per tabung
Wilayah Timur Indonesia (Maluku dan Papua):
- LPG 12 kg: Rp285.000 per tabung
- LPG 5,5 kg: Rp134.000 per tabung
Free Trade Zone (FTZ) Batam:
- LPG 12 kg: Rp208.000 per tabung
- LPG 5,5 kg: Rp100.000 per tabung
Dari data ini, terlihat jelas bahwa masyarakat di wilayah timur Indonesia menjadi pihak yang paling terdampak dengan harga LPG 12 kg yang menembus hampir Rp300 ribu per tabung.
Mengapa Harga Gas Nonsubsidi Naik?
PT Pertamina Patra Niaga menjelaskan bahwa penyesuaian ini merupakan hasil evaluasi pasar yang mempertimbangkan dinamika biaya produksi dan distribusi. Selain itu, kenaikan harga energi global, termasuk LPG di pasar internasional, menjadi faktor pendorong utama. Fluktuasi pasar global dan biaya impor bahan baku yang ikut naik turut mempengaruhi harga di dalam negeri.
Dampak ke Rumah Tangga dan Pelaku UMKM
Kenaikan ini diperkirakan akan langsung berimbas pada pengeluaran rumah tangga, terutama bagi pelanggan yang mengandalkan tabung 12 kg dan 5,5 kg untuk kebutuhan dapur sehari-hari. Tidak hanya rumah tangga, para pelaku usaha kecil menengah (UKM) seperti warung makan, katering, dan pedagang kaki lima juga akan merasakan tekanan biaya operasional yang meningkat.
Para ekonom pun mengingatkan masyarakat agar mulai mempertimbangkan langkah-langkah efisiensi energi di rumah, misalnya dengan menggunakan kompor hemat energi atau merencanakan pembelian gas secara lebih bijak. Konsumen di kota-kota besar yang menjadi pusat konsumsi LPG diperkirakan akan paling cepat merasakan dampak perubahan harga ini.
Kabar Baik: LPG 3 Kg Tetap Bersubsidi
Di tengah kabar kurang menyenangkan ini, pemerintah memastikan bahwa harga LPG subsidi 3 kg tetap dijaga dan tidak ikut naik. Kebijakan ini diambil untuk meringankan beban rumah tangga berpenghasilan rendah.
Namun, masyarakat tetap diingatkan bahwa distribusi gas subsidi ini dibatasi sesuai ketentuan dan aturan yang berlaku, termasuk larangan pembelian oleh pengguna yang tidak berhak.
Dengan kenaikan harga yang mulai berlaku sejak 18 April 2026, masyarakat diimbau untuk lebih cermat dalam mengelola kebutuhan energi keluarga serta terus memantau potensi perubahan harga di bulan-bulan mendatang.
(Sumber: gebrak.id)

Komentar