Menu
Jedadulu

Dahlan Abdulah, Pahlawan Indonesia yang Dilupakan Sejarah


(H Bagindo Dahlan Abdullah/kanan,Foto:docplayer.info)            

Presiden pertama Republik Indonesia Ir Sukarno alias Bung Karno pernah mengatakan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Kita semua pasti mengenal banyak pahlawan nasional yaang berjasa merebut dan mempertahankan kemerdekaan baik di buku pelajaran maupun di internet .

Kita pasti mengenal banyak sosok pahlawan seperti Ir Sukarno, RA Kartini, Jendral Sudirman, dan lain-lain. Tapi ada juga pahlawan nasional yang kurang terekspose dan jarang ditulis dalam sejarah, meskipun banyak pahlawan yang berpikir lebih baik bersikap jadi pahlawan dibandingkan dikenang jadi pahlawan.

Salah satu pahlawan nasional yang kurang terkenal dan jarang ditulis buku sejarah adalahDahlan Abdullah. H Bagindo Dahlan Abdullah (lahir di Pasia,,Pariaman, Hindia Belanda, 15 Juni  1895) 
Setelah menempuh pendidikan di Universitas Leiden Belanda, Dahlan dikenal terlibat aktif dalam pergerakan mahasiswa untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sepulangnya ke Tanah Air, Dahlan bersama pejuang lainnya bergabung dengan Partai Indonesia Raya (Parindra), seangkatan dengan Mohammad Husni Thamrin.

Berbagai jabatan pun pernah diemban olehnya di saat Republik Indonesia masih seumur jagung. Mulai dari jabatan Duta Besar RI untuk Irak dan sebagian negara-negara Timur Tengah, hingga menjadi Wali Kota DKI Jakarta yang pertama. 
Dahlan kemudian dipercaya menjadi anggota Dewan Kota Batavia pada tahun 1939, lalu terpilih sebagai anggota Badan Pekerja Harian Kota Batavia. Pada 1942, sewaktu Jepang mengambil alih kekuasaan dari Belanda, Dahlan kemudian diangkat menjadi Tokubetsu Sicho atau Wali Kota Istimewa Jakarta.

Di saat inilah peran Dahlan untuk kemerdekaan Indonesia sangat besar. Sebagai pejabat di zaman Jepang, ia tentu sangat dekat dengan pembesar Jepang di Indonesia.

Coba dibayangkan seandainya Dahlan tidak melobi penguasa Jepang, kemungkinan proklamasi kemerdekaan tidak bisa dibacakan. Ia begitu intens berkomunikasi dengan Bung Hatta dan kelompok Menteng 31.

Selain  itu,  Dahlan  merupakan orang Indonesia pertama yang menggunakan kata 'Indonesia' dan 'orang Indonesia' dalam konteks wacana politik di Negeri Belanda.

Untuk pertama kalinya Dahlan mengucapkan kata itu dalam sebuah ceramah publik yang bernuansa politis dalam acara Indisch Studiecongres dalam rangka lustrum perkumpulan mahasiswa Indologi (Indologenvereeniging) di Leiden, Belanda, pada 23 November 1917.

Pada umur 54 tahun, Dahlan adalah seorang pejuang kemerdekaan dan  diplomat Indonesia. Ia pernah diutus negara sebagai  Duta besar  RIS untuk Irak, Syiria, dan  Trans Jordania. Namun sekitar tiga bulan kemudian, Dahlan meninggal dunia akibat serangan jantung dan dimakamkan pada tanggal 19 Mei 1950.  Sesuai saran dan nasihat dari Menteri Luar Negeri dan Perdana Menteri Haji Agus Salim saat itu, jenazah Bagindo Dahlan Abdullah akhirnya dimakamkan di Baghdad, Irak. Hal ini bertujuan agar makam Dahlan akan dikenang lama dan menjadi simbol tali persahabatan antara Indonesia dan Irak. Hanya saja, sampai saat ini, ia belum dianugerahi gelar pahlawan nasional.   (Damar Pratama Yuwanto)
blog lain: damarpeyek.blogspot.com

(H Bagindo Dahlan Abdullah/kanan, Foto:docplayer.info)             Presiden pertama Republik Indonesia Ir Sukarno alias Bung Karno...
Menulis Indonesia 15 Feb 2020
Jedadulu

Ternyata Kartosuwiryo Salah Satu Penggagas Bahasa Indonesia

SM Kartosuwiryo

Mungkin sebagian dari kita belum tahu siapa tokoh di balik penggagas Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, yang hingga kini digunakan oleh kita dalam aktivitas dan pergaulan sehari-hari.

Bahasa Indonesia adalah hal yang sangat penting bagi Bangsa Indonesia, terutama  bagi para pemuda karena Bahasa Indonesia merupakan salah satu butir Sumpah Pemuda, yakni  “KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA.
 
Kita mungkin akan sangat terkejut bila ternyata SM Kartosuwiryo merupakan salah satu penggagas bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, terlepas segala kesalahannya yang dituduh ingin mengkudeta Republik Indonesia.

Kartosuwiryo adalah salah satu tokoh penting dalam peristiwa Sumpah Pemuda. Kartosuwiryo  memberontak dan mendirikan DII bukan karena tidak setuju pada ideologi Pancasila, tetapi ia merasa kecewa dengan  Perundingan Renville yang dianggap merugikan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dalam perjanjian itu, Pemerintah Indonesia setuju untuk meninggalkan Jawa Barat. Atas dasar itulah Kartosoewirjo beserta pengikutnya menganggap Jawa Barat bukan lagi daerah republik setelah  Perjanjian Renville.

Agresi Militer Belanda II berupa serangan dadakan atas Ibu Kota Republik Indonesia pada 19 Desember 1948—yang disertai penawanan para pejabat tingginya—kemudian dijadikan dalih oleh Kartosuwiryo untuk memulai suatu negara baru.

Belum juga ada negara baru, pada 25 Januari 1949, ada bentrokan antara TNI dari Divisi Siliwangi yang sudah kembali dari Jawa Tengah dengan satuan TII.

Petinggi Republik seperti Mohamad Hatta atau Mohammad Natsir sudah mampu membaca niatan Kartosuwiryo untuk lepas dari republik. Keduanya tak mau laki-laki yang pernah tinggal di rumah Tjokroaminoto di Jalan Paneleh Surabaya ini jadi musuh republik dan membuat negara baru.

Masa itu adalah masa ketika komunikasi antara daerah satu dengan daerah lain tergolong sulit. Meski sudah ada radio, jumlahnya sangat sedikit. Kartosuwiryo kemungkinan kurang mengikuti perkembangan situasi sengketa Indonesia-Belanda setelah Sukarno dan pejabat republik lainnya dibebaskan. Di mata Kartosuwiryo, Republik Indonesia, yang pernah ia dukung di awal-awal kemerdekaannya, sudah mati.

Adapun sejarah Bahasa Indonesia sangat erat kaitannya dengan bahasa Melayu. Sejak dulu, bahasa Melayu merupakan bahasa yang digunakan sebagai bahasa perantara atau pergaulan. Sehingga dasar bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Awal mulanya adalah ketika Kerajaan Sriwijaya maju ke wilayah Asia Tenggara menggunakan bahasa Melayu Kuno sebagai bahasa perantara dengan kerajaan lain.

Tanpa adanya Bahasa Indonesia, sulit bagi  bangsa Indonesia yang waktu itu belum merdeka, untuk bersatu. Dengan adanya Bahasa Indonesia, mempersatukan bangsa Indonesia dan bersama-sama berjuang untuk meraih kemerdekaannya.

Di berbagai sumber dituliskan bahwa pengagas Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan adalah Mohammad Tabrani.

Mohammad Tabrani lahir di Pamekasan, Madura, pada 10 Oktober 1904. Ia merupakan Ketua Kongres Pemuda I yang berlangsung di Solo pada 1926. Ia juga seorang wartawan yang mulai bekerja pada harian Hindia Baru.

Ketika itu, Tabrani menyebut Bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan bangsa. Konsep kebangsaan yang muncul dari gagasan M Tabrani tersebut merujuk pada kondisi nyata keberagaman manusia yang masih bersifat kedaerahan/kesukuan dan masih mengutamakan kepentingan suku atau pun daerahnya masing-masing sebagaimana terbentuknya organisasi-organisasi pemuda pada masa itu.

Dalam Kongres Pemuda I tersebut, Tabrani berbeda pendapat dengan Mohammad Yamin yang ingin menggunakan Bahasa Melayu. Menurut Tabrani pada saat itu, jika sudah mempunyai Tanah Air Indonesia, Bangsa Indonesia, maka bahasa juga Bahasa Indonesia. 

Digagas pula oleh Kartosuwiryo

Selain Mohammad Tabrani, pada Kongres Pemuda 2, yaitu pada Kongres Jong Islamieten Bond, 
Kartosuwiryo, pemimpin DI/TII yang mendeklarasikan Negara Islam Indonesia, ternyata  merupakan pelaku sejarah penting dalam lahirnya Bahasa Indonesia.

Kartosuwiryo amat kritis. Ia banyak menulis kritikan baik bagi penguasa pribumi maupun pemerintah kolonial di Harian Fadjar Asia,

Pendapat Kartosuwiryo senada dengan pendapat M Tabrani. Ia sebenarnya terlahir dari kalangan Bangsawan Jawa namun karena berafiliasi dengan PSI yang anggotanya terdiri dari suku bangsa di Indonesia,  ia tidak mengusulkan Bahasa Jawa  sebagai bahasa persatuan karena organisasinya selalu menggunakan Bahasa Melayu yang kemudian disebut Bahasa Indonesia.

Tuntutan Kartosuwiryo untuk  menjadikan Bahasa Indonesia  sebagai bahasa perjuangan, 
merupakan dampak  dari upaya  Kolonial Belanda untuk memperbodoh dan menciptakan rasa rendah diri di kalangan  pribumi karena kaum pribumi dilarang menggunakan Bahasa Belanda.
Menurut Kartosuwiryo, PSII adalah partai yang berdiri di luar lembaga yang didirikan oleh Belanda. Oleh karena itu, ia menuntut suatu penerapan politik hijrah yang tidak mengenal kompromi.

Menurut sejarawan Ahmad Mansur Surya Negara,  Kartosuwiryo menyampaikan pernyataanya enam bulan sebelumnya  kepada Kongres Budi Utomo, tetapi Budi Utomo menolak pelaksanaan cita-cita persatuan bangsa . Hal ini menyadarkan Kartosuwiryo  untuk mencari bahasa yang dapat digunakan untuk menyampaikan aspirasi nasional.

(Damar Pratama Yuwanto)
blog lain: damarpeyek.blogspot.com


SM Kartosuwiryo Mungkin sebagian dari kita belum tahu siapa tokoh di balik penggagas Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, ...
Menulis Indonesia
Jedadulu

Pulang ke Ulee Lheue (Cerpen)


Pantai Ulee Lheue (Ilustrasi/foto: indonesia-tourism.com)

Oleh Endro Yuwanto

Agam menatap nanar semak-semak di hutan belukar yang seolah mencibir nasibnya di negeri orang. Belukar rimbun itu berdiri angkuh seakan menertawai Agam yang harus tidur di atas gundukan kuburan Cina ditemani lolongan anjing malam. Tak ada alas yang empuk, apalagi bantal dan guling. Ia hanya tidur beralaskan kardus bekas. Belum lagi kalau hujan deras tiba-tiba turun, ia harus lari terbirit-birit mencari tempat berteduh.

Hutan belukar bukanlah pemandangan yang membuat suasana hati Agam teduh. Ia selalu rindu suasana kampungnya. Sebuah pantai nelayan yang luas. Pantai dengan debur ombak yang selalu ramah dan tak pernah mengejek nasibnya sebagai pedagang ikan. Jarang sekali terdengar lolongan anjing, karena warga kampungnya jarang yang memelihara anjing. Suara-suara orang mengaji lebih sering terdengar di mushala yang bertebaran di pemukiman nelayan.

Sudah setahun Agam rindu suara debur ombak. Ia juga selalu terkenang istrinya, Aminah, dan dua anak lelakinya yang masih mungil. Saat melihat dua anaknya berlarian menyongsong ombak kecil yang hadir di tepi pantai, ia selalu merasa begitu menikmati hidup, meski dalam himpitan kemelaratan. Anak-anak itu selalu ceria saat bermain pasir dan berlomba menghindari ombak kecil. Agam dan Aminah selalu mengembangkan senyuman saat menyaksikan kedua buah hatinya yang belum sekolah itu bermain lepas di tepi pantai.

Ah, setiap membayangkan debur ombak, Agam selalu menyesal mengapa terlanjur meninggalkan istri dan anaknya. Tapi ia tak bisa memendam penyesalan terlalu dalam. Ia sadar garis nasib telah memaksanya meninggalkan kampung. Ia pergi ke rantau bukan karena jenuh menjadi pedagang ikan. Ia pun tak merasa lelah mengais rezeki di kampung yang hasilnya hanya cukup untuk memberi makan dua kali sehari bagi keluarganya. Ia pergi lantaran selalu menjadi 'kambing-hitam' pertikaian antara pasukan TNI dan GAM.

Tak jarang Agam disangka sebagai simpatisan GAM sehingga beberapa kali ia harus mendekam dalam jeruji besi. Diintrogasi dan lalu dipukuli oleh para tentara seperti binatang. Setelah babak-belur dan memberi keterangan yang sebenarnya, ia baru dilepaskan. Kadang gerombolan GAM turun gunung dan menculiknya di tengah malam. Kelakuan gerombolan itu tak ubahnya seperti tentara. Mereka menginterogasi dan memukuli Agam karena menyangka ia mata-mata TNI. Hidup Agam seperti terombang-ambing di antara pertikaian dua kubu yang seakan tak pernah berujung. 

Lolongan anjing malam kembali terdengar nyaring. Namun Agam sama sekali tak khawatir dengan lolongan itu. Bulu kuduknya justru berdiri dan merinding saat mendengar teriakan polisi diiringi suara peluit yang memekakkan telinga. Itulah sebabnya Agam selalu memilih tidur di atas gundukan tanah agar bisa melihat dengan jelas kedatangan polisi. Ia berusaha agar tak tertangkap.

Agam merasa tidur di atas kuburan atau di atas pohon lebih sering membuatnya aman. Ia tak perlu pontang-panting mencari perlindungan seperti pekerja-pekerja lain. Sering, keesokan harinya Agam tak lagi bisa menjumpai beberapa pekerja. Mereka tertangkap polisi.

Agam selalu berusaha agar tak tertangkap. Banyak cerita duka dari para pekerja yang tertangkap. Disekap di penjara selama berbulan-bulan. Bahkan bisa lebih lama lagi sampai menunggu jumlah kuota pemulangan, sekali buang 500 orang .

Agam dan pekerja-pekerja yang senasib dengannya memang menjadi makanan empuk polisi. Tak jarang meski bisa bebas dari tangkapan polisi, mereka harus membayar denda 100 ringgit. Bila sudah mendekam di penjara, para pekerja itu hanya mendapat jatah makan sekali sehari. Bahkan ada yang harus merasakan hukuman cambuk dengan rotan seperti kerbau dungu di tengah sawah.

Di Rawang, daerah pegunungan dan masih banyak hutan belukar, Agam menjadi kuli bangunan. Rawang berada cukup jauh di sudut Kuala Lumpur. Perjalanan menuju Rawang biasanya menggunakan kereta api dari ujung barat jalur Pelabuhan Klang sampai ke ujung timur jalur kereta api Rawang, yang lebih dulu melalui Kuala Lumpur.

Agam tak pernah lupa, ia berangkat ke Kuala Lumpur sebagai TKI legal tahun lalu. Ia bekerja di sebuah perkebunan kelapa sawit. Namun ia hanya menerima gaji pertama sebesar 200 ringgit untuk masa kerja 20 hari. Lantaran gajinya tak sesuai dengan yang dijanjikan, Agam memberanikan diri menghadap toukeh besar.

''Bos apa macam nih, gaji aku 200 ringgit. Mana cukuplah, aku ini jauh-jauh dari Indonesia datang ke sini sempat tinggalkan pekerjaan sebagai pedagang, karena orang PJTKI kasih tawaran gaji 1000 ringgit,'' cetus Agam di suatu pagi.

Agam hanya bisa pasrah ketika sang toukeh memberi jawaban sinis. ''Itu salah bangsa awak sendirilah. PT Indonesia kasih tipu, saya tak ada tipu, di sini semua TKI terima 10 ringgit sehari.''

Kebingungan mendera Agam, antara meneruskan pekerjaan atau berhenti dan memilih mencari pekerjaan lain. Ia lantas memilih berhenti. Namun, meski keinginannya  dikabulkan, ia hanya menerima fotocopy paspor dari toukeh. Kala itu Agam tak peduli. Dalam benaknya hanya ada keinginan keluar dari area perkebunan sawit itu.

Di kemudian hari Agam baru sadar, hanya memegang fotocopy paspor berarti  posisinya sebagai TKI legal sirna. Menjadi TKI ilegal berarti membuatnya berada dalam situasi tak menentu setiap waktu. Ia menjadi mangsa empuk bagi para toukeh dan polisi yang selalu memperlihatkan taringnya. Tapi ia berusaha tak peduli. Bersama teman sekampungnya, Uddin, ia lalu mencari peruntungan di Rawang.

Dari Rawang yang penuh jebakan razia, Agam melompat pindah ke Ampang untuk membantu menyelesaikan proyek gedung bertingkat 30 di depan menara kembar KLCC di pusat kota Kuala Lumpur. Agam merasa lebih nyaman di Ampang, karena rata-rata bangunannya tertutup. Para toukeh pun telah membayar uang keamanan pada polisi kerajaan. Sehingga semua pekerja, walaupun ilegal bisa bekerja dan tidur dengan tenang. Tidak lagi perlu lari, apalagi sembunyi. Agam pun mulai bisa berkirim kabar lewat surat dan telegram kepada Aminah. Ia juga sudah mulai lancar mengirim wesel sejak dua bulan terakhir.

Tapi hanya beberapa pekan Agam menikmati ketenangan. Perasaan gundah kembali mencuat. Bayangan kejar-kejaran dan intimidasi polisi kembali menghiasi pelupuk mata. Ia mendengar kabar, sebulan lagi Pemerintah Malaysia mencanangkan tekad melakukan razia besar-besaran terhadap TKI dan imigran ilegal. Berita razia bahkan sudah disebar besar-besaran di media massa.

Belum reda gundahnya mendengar isu razia, sehari kemudian Agam menerima surat dari Aminah di kampung. ''Bang kalau bisa lekas pulang, si Amin sakit keras kena demam berdarah. Pulang ya Bang. Kita di sini tak punya biaya buat pengobatan.''

Agam menghela nafas panjang. Tak ada pilihan baginya selain kembali pulang. Di dompetnya masih ada 2000 ringgit. Ia berpikir uang itu bisa digunakan untuk mengobati Amin dan sekalian mengurus paspor. Ia pun sudah rindu ingin bertemu Aminah dan si kecil, Ahmad.

Dengan sembunyi-sembunyi, Agam berhasil lolos hingga ke pelabuhan. Beruntung, ia bisa menemukan perahu motor yang memuat kain dan hendak menuju kampungnya, Ulee Lheue. Ia membayar 600 ringgit.

Perjalanan mestinya hanya berlangsung 40 jam. Namun, perahu motor yang panjangnya hanya sepuluh meter itu seperti siput yang berjalan di padang pasir. Sudah 60 jam perahu belum juga sampai tujuan. Beberapa kali perahu itu terombang-ambing dipermainkan ombak. ''Tak biasanya ombak di selat ini begitu besar,'' keluh Yani, sang pemilik perahu.

Mendekati pantai, ombak semakin mengganas dan menjelma menjadi gelombang  menggunung. Laut seakan murka dan menumpahkan seluruh isinya ke daratan. Gelombang memperlihatkan sosok raksasa hitam pekat.
Agam, Yani, dan penumpang lain begitu ketakutan. Yani yang beberapa kali diguyur air laut mengaku kesulitan menemukan pantai. Yani tak bisa mengendalikan perahunya. Agam hanya bisa pasrah dan berdoa agar selamat dari gelombang yang menakutkan itu. Ia berpegangan erat di bibir perahu. Tiba-tiba ombak setinggi gedung menggulung perahu. Semuanya menjelma gelap.

Entah sudah berapa lama Agam pingsan. Ketika siuman, ia sudah berada di daratan. Tapi meski sejak lahir tinggal di Ulee Lheue, ia tak mengenali lagi di mana persisnya kampung nelayan. Ia hanya tahu tubuhnya tersangkut di pucuk pohon kelapa.

Perahu-perahu nelayan yang biasanya bersandar di tepi pantai tak terlihat lagi. Begitu pun deretan rumah warga yang dulu bertebaran di bibir pantai. Semuanya sirna. Yang tersisa hanyalah batang-batang pohon kelapa yang menjulang, di antara gelimangan mayat-mayat dan bangkai-bangkai binatang.

Agam meringis kesakitan. Kemeja yang dikenakannya sudah compang-camping. Bahunya sobek dan darah masih mengalir dari lengan kirinya yang terluka. Ia tak tahu darimana datangnya luka itu. Ia tak sempat memikirkannya. Pelan-pelan ia turun dari atas pohon. Di benaknya hanya ada pertanyaan, di mana istri dan anak-anaknya. Juga sanak-saudaranya yang menetap di Ulee Lheue.

Dengan tertatih-tatih Agam berjalan menjauhi pantai. Di perjalanan, ia bertemu seseorang yang berhasil menyelamatkan diri. Orang itu lelaki separuh baya. Lelaki itu sudah terlihat kelelahan, tapi tetap memaksakan diri mendorong gerobak kayu berisi lemari es. ''Ini hari ulang tahun istri saya,'' katanya kepada Agam. ''Pagi tadi saya pergi ke kota untuk memberi kado istimewa, lemari es ini. Saya juga membeli makanan istimewa untuk pesta makam malam ulang tahun. Saya belum sempat menikmatinya. Saya belum sempat bertemu istri saya. Sekarang milik saya satu-satunya yang tersisa hanyalah lemari es ini.''

Agam hanya bisa membisu dan memapah lelaki itu pergi dari situ. Ia lalu terus melanjutkan perjalanan ke arah kota. Agam sadar, kerusakan dahsyat akibat gelombang itu bisa membunuh seluruh warga di tepi pantai Ulee Lheue. Tapi ia berharap, Aminah dan anak-anaknya bisa selamat karena mukjizat.

Namun, harapan Agam pelan-pelan luruh seperti bukit pasir yang terkikis air. Di perjalanan ia lebih sering menemui ribuan mayat bergelimpangan. Tersangkut di atas pohon, terkapar di atap rumah, berserakan di pinggir trotoar, dan tertimbun bangunan runtuh. Lelaki, perempuan, ibu-ibu, kakek-kakek, nenek-nenek, anak kecil, bayi, polisi, dan tentara, semua tak bisa lepas dari gelombang.

Agam pun hanya bisa pasrah. Di perjalanan menuju kota, ia selalu mendengar orang-orang yang selamat saling bercerita, ''Anak saya sudah tak ada'', ''Istri saya sudah tiada'', ''Suami saya entah di mana'', ''Bapak dan ibu saya meninggal'', ''Adik saya jadi korban'', ''Kakak saya tak luput dari bencana'', ''Harta saya habis''.  

Agam hanya bisa menengadah. Langit masih terlihat cerah. Namun di permukaan Ulee Lheue semua nyaris punah. Ribuan cerita duka akan terus mengalir dari mulut  orang-orang yang selamat dari bencana tsunami. Termasuk dari dirinya.
                                      
Kemanggisan Utama Raya, Februari 2005

Pantai Ulee Lheue (Ilustrasi/foto: indonesia-tourism.com) Oleh Endro Yuwanto Agam menatap nanar semak-semak di hutan belukar yang se...
Menulis Indonesia 13 Feb 2020
Jedadulu

Sehari Merantau (Cerpen)


Oleh Damar PY

Aku benar benar muak dengan sekolahku. Ini baru sehari diberi pekerjaan rumah (PR), besoknya diberi PR lagi, terkadang dua mata pelajaran diberikan PR di hari yang sama. Jika tidak dikerjakan sudah pasti akan dihukum.

Para guru seakan tidak merasakan bagaimana menjadi siswa yang disiksa. Aku memukul-mukuli buku matematika yang membuat tanganku semakin berkeringat karena tidak ada kipas angin yang cukup untuk menurunkan suhu di kamarku. Hanya kipas yang patah setengah. Tapi kalaupun aku mengeluh, aku yakin tidak akan menyelesaikan masalah yang kuhadapi. Aku bagaikan telur di ujung tanduk saat besok menemui Pak Tejo, guru matematikaku.

Di sekolah sering kali aku dihukum oleh guru BP di tiang bendera karena dituduh tawuran. Padahal sering kali bukan aku yang mencari masalah lebih dulu, biasanya Hasan dan teman-temannya dari SMP M yang suka mengeroyokku dan teman temanku dengan gesper.

Sungguh tak adil hukum di sekolahku. Harusnya aku dipuji sebagai pahlawan karena menolong teman. Sungguh tak adil hukum di dunia ini, aku dan teman temanku melindungi Malin yang tengah berjalan sendirian dan dipalak oleh anak SMP M. Bahkan aku dipaksa tanda tangan di atas materai untuk tidak mengulang tawuran.

Aku berpikir setengah mampus untuk menyelesaikan PR matematikaku. Selembar kertas soal itu bagaikan berton-ton di suhu panas dalam kamarku. Agar suasana lebih lunak dan adem aku menyetel lagu Mbah Surip, kakek bertopi Jamaika, itu selalu bisa menghapus segala kepahitan dalam hidup. Aku juga membeli es lilin seharga dua ribu rupiah untuk mendinginkan suasana.

Begitulah diriku. Aku memang punya banyak masalah. Ibuku pun selalu menangis saat aku terima rapor. Ibuku ingin aku menjadi sukses di masa depan, itu sebabnya dia tak menginginkanku punya masalah di sekolah karena aku satu-satunya tulang punggung yang ia impikan di masa depan untuk menggantikan peran ayahku yang sudah meninggal enam tahun lalu. Ibu tak pernah marah, hanya menangis, tapi tangisnya itulah yang kerap membekukan nyali dan langkahku.

Inilah aku
sirip matahari yang jelajah
setiap bias cuaca
sejarah daun daun memori di ujung kota
ku tak akan menghindar dari rasa takut walaupun selangkah


Untuk menyelesaikan pekerjaan rumahku terutama matematika, seringkali aku menulis ulang soalnya dalam lembar jawaban, sama seperti temanku, Wildan, sang berandalan di mata guru.

"Woy, Arman lu udah beresin PR belom?" tanya Wildan teman satu gengku.

"Udahan gue tapi jawabannya ditulis ulang dari soalnya," jawabku.

"Sama wkwkwk, udah ngasal aja terima nasib," cetus Wildan.

Terjadi obrolan yang cukup seru antara kami berdua, tanpa kami sadari tak lama kemudian datanglah Pak Tejo, guru killer matematika, membawa tongkat penggaris kayu panjang yang siap memukul para berandalan pembangkang.

Para murid langsung mengucap salam dan tersenyum manis dengan terpaksa melihat orang yang mereka takuti ada di hadapan mata. Tapi guru yang mendapat julukan Raja Iblis dari Gunung Merapi itu hanya menjawab dengan raut wajah marah dan mata melotot, mungkin agar terlihat berwibawa.

"Assalamualaikum, Pak Tejo," ujar para murid dengan senyum kecut.

"Wa alaikum salam," dengan nada tegas Pak Tejo menjawab. "Anak anak sudah mengerjakan PR?"

Hampir seluruh siswa di kelas menjawab "sudah" karena takut terkena sabetan kayu. Tapi aku dan Wildan hanya membisu.

Pak Tejo pun berkeliling kelas sambil mengelus-elus penggaris kayu kesayangannya dengan mata setajam burung pemakan bangkai, ia seakan bisa mencabik dan menerkam kami, kapan saja.

Ramalanku benar. Ia pun langsung menghardikku bagai sambaran geledek sambil memukul mejaku dan Wildan dengan penggaris panjangnya itu.

"Mana PR-nya?" teriak Pak Tejo.

"I-ini, Pak," jawab kami.

Hening. Sesaat kemudian. "Kok ditulis ulang soalnya, kamu gak belajar?" hardik Pak Tejo lagi.

"Belajar Pak tapi," kami tertunduk.

"Gak usah ngomong ini buktinya," bentak Pak Tejo sambil memukul meja kami dengan kayu.

Pak Tejo pun langsung menggiring kami keluar kelas sambil menjepit telinga kami. "Berdiri kalian di sini! Dasar berandalan sekolah," gerutunya.

Aku sudah terbiasa dihukum. Inilah diriku apa adanya, setidaknya ini melunasi rasa puasku. Tak lengkap rasanya jika hidup tanpa tantangan, bagaikan kopi tanpa kafein.

Aku dan Wildan dihukum dan hukumannya pun akhirnya berakhir pada saat bel pulang sekolah berbunyi nyaring.

Saat pulang sekolah aku tidak langsung balik ke rumah, sangat membosankan. Aku sering nongkrong di pangkalan tukang ojek pengkolan. Teman-temanku yang lain, termasuk juga Hasan anak SMP M yang menjadi musuh abadiku juga ada di sana. Aku pun berpura pura tidak melihatnya. Mereka sedang menonton TV yang tersedia di pangkalan ojek. Mereka tak bisa memalingkan pandangan dari aksi demonstrasi mahasiswa di depan Gedung DPR/MPR RI. Tak hanya mahasiswa, ternyata pelajar SMP, SMA, dan SMK ada juga yang terlibat dalam demonstrasi itu.

Wildan berbicara pada seorang temanku di pos ojek, "Abid, Bang Nasrul udah jalan belom?"

"Udah dari tadi, kenapa?" tanya Abid balik.

"Gak apa apa emang dia ngapain?" tanya Wildan lagi.

"Dia bantuin Bang Cecep yang udah kuliah buat demo"

"Bantuin ngapain?"

"Masih nanya lagi? Ya bantuin demolah tuh liat aja di TV!"

"Luh di sini ngapain Bid?"

"Nungguin bak terbuka gelombang kedua, lu mau ikut?"

"Ya iyalah solidaritas!"

Wildan pun menepuk pundakku.

"Woi, Arman lo mau ikut gak?"

"Gak ah entar emak gua nyariin gua kasihan."

Abid dengan senyum yang agak sinis mengatakan, "Mental tempe luh!"

Wildan ikut menimpali. "Iya Man lu bilang lu suka hidup yang penuh tantangan."

"Gua emang suka tapi gua khawatir emak gua nyariin ke Jakarta pasti pulangnya malam," timpalku.

"Yah elah Man kita kan sahabat harus saling kompak."

Tak lama setelah mereka berdebat, bus besar pun datang di halte dekat pengkolan ojek. Anak-anak Pancoran Mas sudah siap dan mulai menyanyikan yel yel. Mobil bak terbuka urung datang dan diganti bus karena jumlah peserta semakin banyak. Rahmat memilih menggunakan bus untuk mengangkut massa para pelajar itu.

Rahmat adalah anak kelas 2 SMA. Ia ketua berandal Pancoran Mas. Ia menamai gengnya, Pancoran Mas, untuk menyatukan seluruh sekolah di Kota Depok, seperti Mahapatih Gajah Mada menyatukan Nusantara lewat Sumpah Palapa. Seluruh geng Pancoran Mas yang dibawa oleh Rahmat berjumlah sekitar 75 orang.

Aku tak ingin mengecewakan teman-temanku, jadi aku memutuskan ikut. Aku ikut untuk mencari pengalaman baru. Aku yakin petualanganku kali ini berbeda dengan tawuran yang biasa aku lakukan.

Hasan yang biasanya menjadi musuhku saat tawuran tersenyum dengan giginya yang bersih. Ia menjulurkan tangannya. "Kita bukan musuh lagi ingat PERSATUAN INDONESIA." Dari raut mukanya dia sudah melupakan permusuhan selama ini yang terjadi di antara kami berdua. Aku pun mau bersalaman dengannya.

Aku punya prinsip dalam petualangan terbaruku ini, "Cintailah perdamaian, tapi lebih cintailah keadilan."

Aku merasa langkahku sudah tepat untuk mewujudkan kata-kataku. Di dalam bus aku tidur lelap sambil memangku ransel merahku...

Mendadak, teriakan dan ledakan gas air mata memecahkan gelembung tidur siangku. "Woy bangun woy!!!" teriak Wildan padaku dengan sangat panik.

Seluruh temanku menyiapkan gespernya. Tampak Rahmat membawa peralatan huru-hara yang lengkap, petasan, botol berisi bensin, dan korek api.

"Ayo tempur, ayo tempur!!!" teriak yang lain dengan semangat ala jihad.

Aku pun langsung menarik gesper dari celana. Aku melihat dari kejauhan seorang polisi yang babak belur menjadi bulan-bulanan para pelajar dari berbagai sekolah.

Gas air mata yang digunakan polisi seakan tak dapat memadamkan semangat para pelajar yang meledak-ledak. Gas air mata itu bagaikan obat nyamuk semprot murahan yang tak mempan mengusir nyamuk.

Wildan berkata di tengah kebisingan huru-hara massa bahwa dahi Hasan tertimpa batu dan berdarah. Aku tahu Hasan musuh bebuyutanku, tapi hatiku merasakan sesuatu yang tak pernah kurasakan sekali pun dalam hidup. Sedih dan marah. Aku dan Wildan berusaha menolongnya dengan cara menggotongnya ke tempat yang aman.

Setelah polisi yang menjadi bulan-bulanan pelajar itu pingsan, langsung datang ratusan polisi memakai perisai menutup jalan menuju Gedung DPR/MPR. Tapi Rahmat, pemimpin geng Pancoran Mas, tak kehabisan akal untuk situasi apapun.

"Ya udah gini aja kita kita dorong mobil pick-up itu ke arah kerumunan polisi biar kita bisa lewat," ujar Rahmat dengan sedikit raut muka yang agak panik.

Sekitar sepuluh orang berdiri di atas pick-up untuk menambah berat pick-up serta puluhan lainnya mendorong dari belakang. Mereka akhirnya berhasil memporakporandakan barisan polisi berperisai itu.

Para polisi itu pun mulai kehabisan kesabaran. Setelah jumlahnya bertambah banyak, polisi merangsek. Beberapa dari kami yang lari lebih dulu akhirnya berhasil lolos dari kejaran para polisi. Tetapi yang berjalan agak lamban tertangkap. Aku dan Wildan pun tertangkap karena menggotong Hasan. Ini membuat langkah kami terhambat dan polisi pun berhasil menangkap rombongan kami. Kami lalu dibawa ke kantor polisi terdekat.

Di kantor polisi, kami pun akhirnya disetrap dengan push-up, sit-up, dan jongkok sebagai hukuman. Saat push-up aku menoleh ke atas. Ada seorang polisi menghampiriku, dia punya kumis yang cukup panjang dan agak beruban di alisnya.

Dia menanyaiku beberapa hal, "Dari mana, dek?" tanya polisi separuh baya tersebut.

"Dari SMP di Depok," jawabku dengan cemberut dan agak kesal.

"Ke sini dalam rangka apa?"

"Demo RUKUHP," jawabku dengan polos meskipun sebenarnya aku tak paham benar masalah yang terjadi.

"Tau gak salah kamu apa?"

"Gak tau tuh"

Suara polisi itu mulai meninggi. "Jadi kamu gak merasa salah?!" hardiknya dengan mata melotot.

"Tidak saya merasa baik baik saja, justru menurut saya bapak dan rekan rekan bapak yang salah. Bapak tega menembaki kami dengan gas air mata, padahal kami memiliki hak untuk berdemokrasi dan menuntut hak kami. Bapak lebih sayang pejabat daripada kami rakyat yang harusnya Bapak lindungi. Bapak dan rekan rekan Bapak rela melindungi pejabat yang mendzalimi rakyat. Menurut saya para pejabat di DPR itulah yang pantas disirami gas air mata," ujarku sambil senyum dengan agak belagu.

"Gak usah sok pinter kamu. Kok bisa bikin huru-hara kayak gini kamu bilang gak salah?!" sepertinya kesabaran polisi separuh baya itu hampir habis.

"Saya tidak tahu mengapa saya tidak merasa salah yang jelas saya yakin melangkah dengan tepat tak pernah seyakin ini," jawabku dengan tegas dan penuh keyakinan.

"Berani kamu ngelawan hah," dia sudah siap melakukan apa saja.

Polisi itu pun mulai menampariku bertubi tubi hingga pipiku kemerah-merahan. Untunglah, polisi lain dengan sigap memisahkanku dengan orang itu.

Aku sama sekali tidak melawan biar bagaimana pun dia orang tua harus tetap dihormati.

Sesudah semua kejadian itu, aku dan teman teman berandal Pancoran Mas dipulangkan ke sekolah masing masing.

Aku sampai di sekolahku kira kira pukul 11.30 malam. Saat baru turun dari mobil, aku tak menyangka ibuku telah menantiku di lapangan sekolahku yang gelap gulita.

Ibu tampak gelisah. Aku mendatanginya dan ia menoleh ke mobil itu sambil menangis bahagia. Seakan hartanya yang paling berharga selamat dan masih utuh.

"Sayang, ibu sangat khawatir sama kamu," ucapnya sambil berlari mendekapku.

"Ibu, ibu gak marah lagi?" tanyaku dengan kaget.

"Gak Nak, Gak tau kenapa ibu gak pengen marah atau sedih ibu malah bangga sama kamu, ibu jadi inget sama ayahmu yang meninggal karena kebakaran saat kerusuhan di pabrik untuk menuntut haknya sebagai buruh. Dia adalah pejuang demokrasi sama sepertimu, tapi usiamu lebih muda. Kamu memang anak yang pemberani," ujarnya dengan pipi yang masih basah sembari tersenyum.

Ibu memelukku erat-erat seakan tak mau melepaskan pelukan hangatnya. Tapi aku sebenarnya masih tak mengerti mengapa ibu benar-benar tidak marah. Sampai akhir zaman perasaan ibu yang seperti itu lebih baik tetap jadi misteri.

Besok, aku harus menyiapkan diri untuk berdiri di depan tiang bendera saat upacara. Awalnya aku merasa menjadi jagoan yang tak terkalahkan, tapi saat merantau sehari di Jakarta, aku menyadari aku bukan siapa-siapa.

Kamar Atap Depok, 2019
 
(Cerpen ini sudah dimuat di www.republika.co.id, pada 19 Januari 2020)

Oleh Damar PY Aku benar benar muak dengan sekolahku. Ini baru sehari diberi pekerjaan rumah (PR), besoknya diberi PR lagi, terkadang d...
Menulis Indonesia 8 Feb 2020
Jedadulu

Di Balik Kemunculan Kerajaan Baru (Palsu) di Indonesia


Logo Sunda Empire (foto: wikipedia)
Baru baru ini muncul sejumlah kerajaan baru tapi palsu di Indonesia. Sukar dimengerti mengapa banyak yang tertipu oleh kerajaan-kerajaan palsu tersebut.

Padahal, sudah jelas melalui Perjanjian Gianti, Kerajaan Mataram Islam hanya dibagi oleh  dua kerajaan, yaitu Yogyakarta dan Surakarta. Kemudian, Perjanjian Salatiga yang membagi Surakarta menjadi Kasunan dan Mangkunegara

Sangat aneh jika ada orang yang mengaku jika kerajaan palsunya adalah kerajaan penerus kerajaan-kerajaan Jawa Kuno karena nyatanya kerajaan-kerajaan penerus imperium Jawa Kuno, keraton dan silsilah rajanya masih ada sampai sekarang.

Jadi sudah jelas tak ada kerajaan lain  yang menjadi penerus kerajaan Jawa Kuno, selain kerajaan yang tersisa sampai sekarang, yaitu Yogyakarta dan Surakarta. Kepercayaan masyarakat akan datangnya lagi pemerintahan kerajaan di Indonesia kerap kali disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab untuk melakukan penipuan.

Sebenarnya peristiwa karajaan palsu bakanlah hal baru di Indonesia.  Kecintaan masyarakat Indonesia kepada kejayaan raja-raja masa lalu selalu dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab untuk meraup keuntungan.

Kabar kerajaan palsu dan raja-raja fiktif  yang menghiasi media massa, rupanya tak hanya menipu warga biasa. Presiden pertama Republik Indonesia (RI) Soekarno juga pernah mengalaminya.

Keberadaan raja dan ratu palsu rupanya sudah ada sejak zaman Pemerintahan Presiden Soekarno. Bahkan, Soekarno juga menjadi korban penipuan raja dan ratu palsu bernama Idrus dan Markonah

Sang raja dan ratu fiktif itu disambut bak tamu penting di Istana Kepresidenan. Siapakah raja dan ratu fiktif yang berhasil memperdayai orang nomor satu Indonesia kala itu? Mereka adalah Idrus dan Markonah. Keduanya mengaku sebagai raja dan ratu dari Suku Anak Dalam di  Lampung. Bahkan raja ratu palsu itu disambut seperti tamu penting oleh Presiden Soekarno

Bung Karno pun segera memerintahkan penyambutan besar-besaran bagi tamu agung yang datang dari jauh. Hotel berbintang, restoran mewah, dan wisata ke Pulau Dewata pun telah disiapkan, demi mengajak sang ratu dan raja yang terhormat. Harapannya agar seluruh Suku Anak Dalam turut mendukung sepenuhnya perjuangan Trikora.

Ratu Markonah dan Raja Idrus berdandan sangat mewah dan berpenampilan sangat meyakinkan. Ratu Markonah mengenakan kaca mata hitam yang tak pernah dilepasnya. Konon kaca mata ini untuk menutupi luka pada salah satu bola matanya.

Beberapa hari kemudian, penduduk Jakarta dan seluruh rakyat Indonesia dibuat tercengang dan heboh setengah mati, dengan kabar yang menyebutkan bahwa Markonah dan Idroes sama sekali bukan ratu dan raja. Mereka hanyalah ratu dan raja palsu.

Setelah beberapa hari berada di Jakarta dan kerjanya hanya makan-minum dan tinggal di hotel berbintang dalam gelimang kemewahan, kedok mereka terbongkar.

“Saat itu ada tukang becak yang mengenali Idrus. Karena Idrus itu tukang becak. Dari sinilah wartawan melakukan investigasi dan membongkar kedok penipuan itu. Sementara Markonah rupanya seorang pelacur kelas bawah di Tegal. Lucu itu, presiden kok bisa tertipu,” kenang sejarawan UI Anhar Gonggong.

Anhar berkeyakinan, Presiden Soekarno bisa tertipu karena sedang mencari dukungan rakyat untuk proyek pembebasan Irian Barat. Selain itu sebagai pemimpin, Soekarno ingin menunjukkan dirinya dekat dengan rakyat

Kerajaan palsu di zaman sekarang


Seakan kasus-kasus ini terus ada sepanjang zaman, saat ini awal tahun 2020, sedang heboh kerajaan fiktif seperti Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire. Mereka meminta sejumlah uang iuran dari para pengikutnya.

Raja Keraton Agung Sejagat Toto Santoso diamankan bersama sang ratu yang diketahui bernama asli Fanni Aminadia. Seperti yang ramai diperbincangkan, Keraton Agung Sejagat yang terletak di Purworejo ini diindikasi melakukan penipuan.

Ada berita terbaru jika Toto Santoso, raja Keraton Agung Sejagat, juga pernah menjadi anggota Sunda Empire mungkin ia terinspirasi  dari Sunda Empire untuk membuat kerajaan fiktif. 

Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Sunyoto Usman mengatakan , fenomena ini tak lepas dari faktor ekonomi. Pencetus kerajaan-kerajaan itu menyasar masyarakat kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Dua hal ini; agama dan adat, memiliki warisan kuat yang tidak bisa dipertanyakan lagi. Jadi ada ikatan emosionalnya, orang akan langsung percaya sehingga mereka dengan mudah akan mengikuti

Selain itu, psikolog sosial UGM Koentjoro menilai banyaknya pengikut keraton fiktif ini menunjukkan keinginan untuk dihargai dan dipandang lebih. Status kerajaan pun dinilai bisa memenuhi ilusi soal kebesaran itu. Tak heran jika warga rela membayar hingga Rp 3 juta agar bisa jadi bagian Keraton Agung Sejagat.

Bisa jadi karena masyarakat kelas bawah ini ingin dihargai. Dengan simbol status itu harapannya mereka bisa lebih dihargai, berkhayal dengan pakaian kebesaran .

Selain itu, lanjut Koentjoro, keberadaan pemimpin yang persuasif juga menguatkan kepercayaan masyarakat. Misalnya, pimpinan Keraton Agung Sejagat maupun Sunda Empire yang gencar berpidato dengan penuh semangat.

Tindakan-tindakan itu, kata Koentjoro, membuat para pengikut terbius dengan kekuatan massa yang muncul ketika mereka berkumpul. Sehingga ketika bersama kelompoknya dengan pakaian kebesaran, ada perasaan bangga, mantap, dan mereka tidak tahu kalau ditipu.

Tak ketinggalan, lanjut Koentjoro, fenomena ini sejalan dengan tren hoaks yang makin marak. Masyarakat pun mudah terpengaruh oleh hal-hal yang tak masuk akal. Fenomena ini masih akan terjadi mengingat sekarang orang mudah sekali terkena hoaks. Apalagi dibumbui dengan cerita-cerita menarik.

(dari berbagai sumber)

Logo Sunda Empire (foto: wikipedia) Baru baru ini muncul sejumlah kerajaan baru tapi palsu di Indonesia. Sukar dimengerti mengapa banya...
Menulis Indonesia