Di Balik Kemunculan Kerajaan Baru (Palsu) di Indonesia


Logo Sunda Empire (foto: wikipedia)
Baru baru ini muncul sejumlah kerajaan baru tapi palsu di Indonesia. Sukar dimengerti mengapa banyak yang tertipu oleh kerajaan-kerajaan palsu tersebut.

Padahal, sudah jelas melalui Perjanjian Gianti, Kerajaan Mataram Islam hanya dibagi oleh  dua kerajaan, yaitu Yogyakarta dan Surakarta. Kemudian, Perjanjian Salatiga yang membagi Surakarta menjadi Kasunan dan Mangkunegara

Sangat aneh jika ada orang yang mengaku jika kerajaan palsunya adalah kerajaan penerus kerajaan-kerajaan Jawa Kuno karena nyatanya kerajaan-kerajaan penerus imperium Jawa Kuno, keraton dan silsilah rajanya masih ada sampai sekarang.

Jadi sudah jelas tak ada kerajaan lain  yang menjadi penerus kerajaan Jawa Kuno, selain kerajaan yang tersisa sampai sekarang, yaitu Yogyakarta dan Surakarta. Kepercayaan masyarakat akan datangnya lagi pemerintahan kerajaan di Indonesia kerap kali disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab untuk melakukan penipuan.

Sebenarnya peristiwa karajaan palsu bakanlah hal baru di Indonesia.  Kecintaan masyarakat Indonesia kepada kejayaan raja-raja masa lalu selalu dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab untuk meraup keuntungan.

Kabar kerajaan palsu dan raja-raja fiktif  yang menghiasi media massa, rupanya tak hanya menipu warga biasa. Presiden pertama Republik Indonesia (RI) Soekarno juga pernah mengalaminya.

Keberadaan raja dan ratu palsu rupanya sudah ada sejak zaman Pemerintahan Presiden Soekarno. Bahkan, Soekarno juga menjadi korban penipuan raja dan ratu palsu bernama Idrus dan Markonah

Sang raja dan ratu fiktif itu disambut bak tamu penting di Istana Kepresidenan. Siapakah raja dan ratu fiktif yang berhasil memperdayai orang nomor satu Indonesia kala itu? Mereka adalah Idrus dan Markonah. Keduanya mengaku sebagai raja dan ratu dari Suku Anak Dalam di  Lampung. Bahkan raja ratu palsu itu disambut seperti tamu penting oleh Presiden Soekarno

Bung Karno pun segera memerintahkan penyambutan besar-besaran bagi tamu agung yang datang dari jauh. Hotel berbintang, restoran mewah, dan wisata ke Pulau Dewata pun telah disiapkan, demi mengajak sang ratu dan raja yang terhormat. Harapannya agar seluruh Suku Anak Dalam turut mendukung sepenuhnya perjuangan Trikora.

Ratu Markonah dan Raja Idrus berdandan sangat mewah dan berpenampilan sangat meyakinkan. Ratu Markonah mengenakan kaca mata hitam yang tak pernah dilepasnya. Konon kaca mata ini untuk menutupi luka pada salah satu bola matanya.

Beberapa hari kemudian, penduduk Jakarta dan seluruh rakyat Indonesia dibuat tercengang dan heboh setengah mati, dengan kabar yang menyebutkan bahwa Markonah dan Idroes sama sekali bukan ratu dan raja. Mereka hanyalah ratu dan raja palsu.

Setelah beberapa hari berada di Jakarta dan kerjanya hanya makan-minum dan tinggal di hotel berbintang dalam gelimang kemewahan, kedok mereka terbongkar.

“Saat itu ada tukang becak yang mengenali Idrus. Karena Idrus itu tukang becak. Dari sinilah wartawan melakukan investigasi dan membongkar kedok penipuan itu. Sementara Markonah rupanya seorang pelacur kelas bawah di Tegal. Lucu itu, presiden kok bisa tertipu,” kenang sejarawan UI Anhar Gonggong.

Anhar berkeyakinan, Presiden Soekarno bisa tertipu karena sedang mencari dukungan rakyat untuk proyek pembebasan Irian Barat. Selain itu sebagai pemimpin, Soekarno ingin menunjukkan dirinya dekat dengan rakyat

Kerajaan palsu di zaman sekarang


Seakan kasus-kasus ini terus ada sepanjang zaman, saat ini awal tahun 2020, sedang heboh kerajaan fiktif seperti Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire. Mereka meminta sejumlah uang iuran dari para pengikutnya.

Raja Keraton Agung Sejagat Toto Santoso diamankan bersama sang ratu yang diketahui bernama asli Fanni Aminadia. Seperti yang ramai diperbincangkan, Keraton Agung Sejagat yang terletak di Purworejo ini diindikasi melakukan penipuan.

Ada berita terbaru jika Toto Santoso, raja Keraton Agung Sejagat, juga pernah menjadi anggota Sunda Empire mungkin ia terinspirasi  dari Sunda Empire untuk membuat kerajaan fiktif. 

Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Sunyoto Usman mengatakan , fenomena ini tak lepas dari faktor ekonomi. Pencetus kerajaan-kerajaan itu menyasar masyarakat kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Dua hal ini; agama dan adat, memiliki warisan kuat yang tidak bisa dipertanyakan lagi. Jadi ada ikatan emosionalnya, orang akan langsung percaya sehingga mereka dengan mudah akan mengikuti

Selain itu, psikolog sosial UGM Koentjoro menilai banyaknya pengikut keraton fiktif ini menunjukkan keinginan untuk dihargai dan dipandang lebih. Status kerajaan pun dinilai bisa memenuhi ilusi soal kebesaran itu. Tak heran jika warga rela membayar hingga Rp 3 juta agar bisa jadi bagian Keraton Agung Sejagat.

Bisa jadi karena masyarakat kelas bawah ini ingin dihargai. Dengan simbol status itu harapannya mereka bisa lebih dihargai, berkhayal dengan pakaian kebesaran .

Selain itu, lanjut Koentjoro, keberadaan pemimpin yang persuasif juga menguatkan kepercayaan masyarakat. Misalnya, pimpinan Keraton Agung Sejagat maupun Sunda Empire yang gencar berpidato dengan penuh semangat.

Tindakan-tindakan itu, kata Koentjoro, membuat para pengikut terbius dengan kekuatan massa yang muncul ketika mereka berkumpul. Sehingga ketika bersama kelompoknya dengan pakaian kebesaran, ada perasaan bangga, mantap, dan mereka tidak tahu kalau ditipu.

Tak ketinggalan, lanjut Koentjoro, fenomena ini sejalan dengan tren hoaks yang makin marak. Masyarakat pun mudah terpengaruh oleh hal-hal yang tak masuk akal. Fenomena ini masih akan terjadi mengingat sekarang orang mudah sekali terkena hoaks. Apalagi dibumbui dengan cerita-cerita menarik.

(dari berbagai sumber)

No comments