Ternyata Kartosuwiryo Adalah Salah Satu Penggagas Bahasa Indonesia

SM Kartosuwiryo

Mungkin sebagian dari kita belum tahu siapa tokoh di balik penggagas Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, yang hingga kini digunakan oleh kita dalam aktivitas dan pergaulan sehari-hari.

Bahasa Indonesia adalah hal yang sangat penting bagi Bangsa Indonesia, terutama  bagi para pemuda karena Bahasa Indonesia merupakan salah satu butir Sumpah Pemuda, yakni  “KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA.
 
Kita mungkin akan sangat terkejut bila ternyata SM Kartosuwiryo merupakan salah satu penggagas bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, terlepas segala kesalahannya yang dituduh ingin mengkudeta Republik Indonesia.

Kartosuwiryo adalah salah satu tokoh penting dalam peristiwa Sumpah Pemuda. Kartosuwiryo  memberontak dan mendirikan DII bukan karena tidak setuju pada ideologi Pancasila, tetapi ia merasa kecewa dengan  Perundingan Renville yang dianggap merugikan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dalam perjanjian itu, Pemerintah Indonesia setuju untuk meninggalkan Jawa Barat. Atas dasar itulah Kartosoewirjo beserta pengikutnya menganggap Jawa Barat bukan lagi daerah republik setelah  Perjanjian Renville.

Agresi Militer Belanda II berupa serangan dadakan atas Ibu Kota Republik Indonesia pada 19 Desember 1948—yang disertai penawanan para pejabat tingginya—kemudian dijadikan dalih oleh Kartosuwiryo untuk memulai suatu negara baru.

Belum juga ada negara baru, pada 25 Januari 1949, ada bentrokan antara TNI dari Divisi Siliwangi yang sudah kembali dari Jawa Tengah dengan satuan TII.

Petinggi Republik seperti Mohamad Hatta atau Mohammad Natsir sudah mampu membaca niatan Kartosuwiryo untuk lepas dari republik. Keduanya tak mau laki-laki yang pernah tinggal di rumah Tjokroaminoto di Jalan Paneleh Surabaya ini jadi musuh republik dan membuat negara baru.

Masa itu adalah masa ketika komunikasi antara daerah satu dengan daerah lain tergolong sulit. Meski sudah ada radio, jumlahnya sangat sedikit. Kartosuwiryo kemungkinan kurang mengikuti perkembangan situasi sengketa Indonesia-Belanda setelah Sukarno dan pejabat republik lainnya dibebaskan. Di mata Kartosuwiryo, Republik Indonesia, yang pernah ia dukung di awal-awal kemerdekaannya, sudah mati.

Adapun sejarah Bahasa Indonesia sangat erat kaitannya dengan bahasa Melayu. Sejak dulu, bahasa Melayu merupakan bahasa yang digunakan sebagai bahasa perantara atau pergaulan. Sehingga dasar bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Awal mulanya adalah ketika Kerajaan Sriwijaya maju ke wilayah Asia Tenggara menggunakan bahasa Melayu Kuno sebagai bahasa perantara dengan kerajaan lain.

Tanpa adanya Bahasa Indonesia, sulit bagi  bangsa Indonesia yang waktu itu belum merdeka, untuk bersatu. Dengan adanya Bahasa Indonesia, mempersatukan bangsa Indonesia dan bersama-sama berjuang untuk meraih kemerdekaannya.

Di berbagai sumber dituliskan bahwa pengagas Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan adalah Mohammad Tabrani.

Mohammad Tabrani lahir di Pamekasan, Madura, pada 10 Oktober 1904. Ia merupakan Ketua Kongres Pemuda I yang berlangsung di Solo pada 1926. Ia juga seorang wartawan yang mulai bekerja pada harian Hindia Baru.

Ketika itu, Tabrani menyebut Bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan bangsa. Konsep kebangsaan yang muncul dari gagasan M Tabrani tersebut merujuk pada kondisi nyata keberagaman manusia yang masih bersifat kedaerahan/kesukuan dan masih mengutamakan kepentingan suku atau pun daerahnya masing-masing sebagaimana terbentuknya organisasi-organisasi pemuda pada masa itu.

Dalam Kongres Pemuda I tersebut, Tabrani berbeda pendapat dengan Mohammad Yamin yang ingin menggunakan Bahasa Melayu. Menurut Tabrani pada saat itu, jika sudah mempunyai Tanah Air Indonesia, Bangsa Indonesia, maka bahasa juga Bahasa Indonesia. 

Digagas pula oleh Kartosuwiryo

Selain Mohammad Tabrani, pada Kongres Pemuda 2, yaitu pada Kongres Jong Islamieten Bond, 
Kartosuwiryo, pemimpin DI/TII yang mendeklarasikan Negara Islam Indonesia, ternyata  merupakan pelaku sejarah penting dalam lahirnya Bahasa Indonesia.

Kartosuwiryo amat kritis. Ia banyak menulis kritikan baik bagi penguasa pribumi maupun pemerintah kolonial di Harian Fadjar Asia,

Pendapat Kartosuwiryo senada dengan pendapat M Tabrani. Ia sebenarnya terlahir dari kalangan Bangsawan Jawa namun karena berafiliasi dengan PSI yang anggotanya terdiri dari suku bangsa di Indonesia,  ia tidak mengusulkan Bahasa Jawa  sebagai bahasa persatuan karena organisasinya selalu menggunakan Bahasa Melayu yang kemudian disebut Bahasa Indonesia.

Tuntutan Kartosuwiryo untuk  menjadikan Bahasa Indonesia  sebagai bahasa perjuangan, 
merupakan dampak  dari upaya  Kolonial Belanda untuk memperbodoh dan menciptakan rasa rendah diri di kalangan  pribumi karena kaum pribumi dilarang menggunakan Bahasa Belanda.
Menurut Kartosuwiryo, PSII adalah partai yang berdiri di luar lembaga yang didirikan oleh Belanda. Oleh karena itu, ia menuntut suatu penerapan politik hijrah yang tidak mengenal kompromi.

Menurut sejarawan Ahmad Mansur Surya Negara,  Kartosuwiryo menyampaikan pernyataanya enam bulan sebelumnya  kepada Kongres Budi Utomo, tetapi Budi Utomo menolak pelaksanaan cita-cita persatuan bangsa . Hal ini menyadarkan Kartosuwiryo  untuk mencari bahasa yang dapat digunakan untuk menyampaikan aspirasi nasional.

(Damar Pratama Yuwanto)
blog lain: damarpeyek.blogspot.com


loading...

No comments