Menu
Jedadulu

Deretan Virus Ganas yang Ancam Dunia

Virus/Pixabay
Kematian akibat virus corona terus bertambah. Secara global, hingga Rabu, 29 April 2020, kasus positif corona sudah menimpa lebih dari tiga juta orang dengan sekitar 210 ribu kematian di seluruh dunia.

Jumlah ini bisa saja terus bertambah karena belum ada obat yang benar-benar mujarab untuk sembuh dari corona. Sehingga, belum bisa dipastikan kapan wabah ini akan berakhir.

Jutaan kasus virus yang diduga berasal dari Wuhan, China, itu tersebar di 214 negara dan wilayah. Sebenarnya, selain virus corona yang mematikan, sejarah mencatat ada berbagai macam virus yang pernah membuat geger dunia. Berikut virus-virus ganas yang mengancam peradaban manusia.

Cacar (10.000 SM-1979), 300 juta korban


Jauh sebelum dunia bebas dari ancaman cacar pada 1980, selama ribuan tahun manusia harus bertarung dengan cacar. Pada abad ke-20, cacar menyebabkan 300 juta kasus kematian. Sebelum dihilangkan oleh program vaksinasi yang dimulai dengan sungguh-sungguh pada pertengahan 1960-an, penyakit cacar telah menewaskan sedikitnya 300 juta orang di abad ke-20. Penyakit ini sudah ada sejak berabad-abad yang lalu. Telah terdeteksi dalam sampel jaringan yang diambil dari mumi-mumi Mesir kuno, dan pada abad ke-18, sekitar 400 ribu orang Eropa per tahun meninggal akibat penyakit ini dengan banyak lagi yang dibiarkan buta atau cacat.

Campak (abad 7 SM-1963), 200 juta korban


Seperti cacar, pandemi campak juga sudah dikenal di masa sebelum masehi. Campak menjadi salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia dengan korban jiwa mencapai 200 juta orang di seluruh dunia. Virus ini sangat mudah menjangkit anak-anak berusia prasekolah. Seseorang akan bebas dari ancaman campak jika pernah satu kali terjangkit penyakit tersebut. Wabah campak pertama kali mengemuka di lingkup komunitas global pada 1912, kala Amerika Serikat mengumumkan campak sebagai bencana nasional.

Justinian (540-740), 25-50 juta korban


Berasal dari China. Ini adalah wabah pes pertama kali yang mencapai Eropa sekitar 540 Masehi. Penyakit ini menyerang di seluruh benua selama hampir 200 tahun dan diperkirakan telah menyebabkan populasi Eropa turun sekitar 50 persen dari waktu ke waktu. Penulis sejarah Yunani Procopius menulis, pada puncaknya wabah itu menewaskan 10 ribu orang per hari di Konstantinopel. Jumlah sebenarnya korban wabah Justinian mungkin tak akan pernah diketahui. Namun para sejarawan meyakini itu sebagai salah satu pandemi paling mematikan yang pernah ada. Antara 25 dan 50 juta orang tewas selama dua abad wabah teror, jumlah kematian yang setara dengan hampir seperempat populasi dunia pada saat wabah pertama.

Black Death (1340-1771), 75 juta korban


Black Death atau Kematian Hitam, yang melanda Asia dan Eropa sejak 1340-an dan 1350-an adalah salah satu pandemi paling ganas dalam sejarah manusia. Paling ganas karena mengakibatkan kematian sekitar 75 hingga 200 juta orang. Para sejarawan percaya, penyebaran dimulai di suatu tempat di China, melalui sepanjang Jalur Sutera untuk menyebar melalui Krimea dan ke Eropa. Populasi dunia pada saat itu diperkirakan sekitar 475 juta. Black Death mengurangi jumlah itu menjadi sekitar 350 juta. Sejarawan Norwegia Ole Benedictow memperkirakan bahwa jumlah kematian mungkin lebih parah.



Flu Spanyol (1918-1919), 500 juta korban


Pada 1918, usai perang yang menghancurkan Eropa, varian baru dari virus influenza H1N1 muncul. Ini menginfeksi 500 juta orang di seluruh dunia, termasuk beberapa daerah paling terpencil. Jumlah korban tewas diperkirakan telah mencapai setidaknya 50 juta, dan mungkin mencapai 100 juta. Sekolah dan teater ditutup selama tahun 1919 dan 1920, dengan beberapa digunakan sebagai kamar mayat sementara. Flu Spanyol ini berasal dari kamp penempatan pasukan di Prancis. Pada 2014, sejarawan Mark Humphries berspekulasi bahwa 96 ribu buruh China yang telah dipekerjakan untuk menggali parit untuk pasukan Inggris dan Prancis mungkin menjadi sumber pandeminya. Flu Spanyol hingga sekarang tetap menjadi epidemi paling mematikan yang pernah ada.

HIV AIDS (1981-sekarang), 25-40 juta korban


Saat ini, HIV masih menjadi salah satu pembunuh terbesar. Diperkirakan sekitar 25-40 juta orang meninggal akibat infeksi HIV sejak virus ini pertama kali ditemukan pada 1980-an. Virus ini diperkirakan pertama kali muncul pada monyet di Afrika pada 1920-an. Penyakit ini tetap menjadi momok hingga saat ini, khususnya bagi orang-orang yang ada di negara-negara berpendapatan rendah atau sedang. Di negara-negara ini sekitar 95 persen kasus infeksi HIV baru terjadi setiap tahunnya.

Flu Babi (2009-2012), 500 ribu korban


Pandemi flu pada 2009 ini dikenal saat itu sebagai flu babi. Flu babi diperkirakan telah menewaskan sedikitnya 285 ribu dan mungkin hingga 580 ribu orang. Virus ini adalah varian dari H1N1, infeksi yang sama yang menyebabkan flu Spanyol pada 1918 yang mengerikan. Saat itu, di Amerika Serikat ada 113.690 kasus dikonfirmasi dan lebih dari 3.000 kematian. Varian lain pada virus yang sama, seperti epidemi flu Asia 1958 dan 1968, menyebabkan jutaan kematian di seluruh dunia. Tetapi secara keseluruhan memiliki tingkat kematian lebih rendah.

(Dinar K Dewi)
Sumber: Daily Star, Live Science, National Geographic

Virus/Pixabay Kematian akibat virus corona terus bertambah. Secara global, hingga Rabu, 29 April 2020, kasus positif corona sudah menimp...
Menulis Indonesia 28 Apr 2020
Jedadulu

Cari Toko Bahan Kue Online? Pilih TokoWahab Saja


 
Bahan kue/ilustrasi/pixabay
Tak semua ibu rumah tangga memiliki hobi memasak. Namun sebagian besar dari ibu rumah tangga pasti sangat suka membuat makanan ringan, seperti kue yang bisa dijadikan usaha rumahan sekaligus cemilan di kala merasa bosan atau menjadi suguhan saat ada yang datang bertamu.

Saat ini, mungkin para ibu sudah memiliki kesibukan tersendiri, misalnya harus mengurus rumah, anak, dan lain sebagainya sehingga membuat si ibu merasa kesulitan untuk mencari toko bahan kue di Jakarta yang paling lengkap dengan harga terjangkau.

Namun jangan khawatir, karena sekarang ini sudah ada jalan keluar terbaiknya, yaitu TokoWahab dengan keunggulan sebagai berikut:

  1. Bisa Beli Online
Sekarang ini, semua sudah serba menggunakan teknologi sehingga masyarakat Indonesia pun semakin dimudahkan untuk bisa melakukan sesuatu maupun mendapatkan yang diinginkan. Hal ini termasuk dengan bahan makanan atau bahan untuk membuat kue. Saat ini, ada begitu banyak toko bahan kue Jakarta yang menjual produknya secara online sehingga sangat mudah untuk ditemukan dan didapatkan.

  1. Menggunakan Website
Belanja online pun memiliki banyak cara, yakni salah satunya adalah dengan menggunakan situs online yang sudah tersedia dan dapat digunakan dengan menggunakan ponsel pintar Anda. Hanya dengan memilih bahan-bahan mana saja yang akan dipergunakan dalam membuat kue, maka bahan tersebut pun selanjutnya akan dipesan dan diantarkan langsung ke rumah Anda. Cara ini tentunya sangat memudahkan setiap ibu rumah tangga yang memiliki waktu terbatas karena tugas serta kewajibannya.



  1. Banyak Produk Tersedia dan Ready Stock
Jalan keluar terbaik yang bisa para ibu rumah tangga pergunakan untuk dapat membuat kue sendiri di rumah dengan bebas adalah dengan membelinya pada distributor bahan kue Jakarta online yang paling terpercaya, di mana banyak produk tersedia dan menjual berbagai jenis bahan terlengkap seperti coklat atau keju yang berkualitas tinggi. Pastinya, dengan berbelanja bahan di toko ini akan membuat rasa kue semakin lezat dan tidak akan kesulitan dalam pembuatannya. Harga yang ditawarkan sangatlah terjangkau sehingga akan sangat menguntungkan bagi Anda yang ingin mencoba untuk menjual kue dengan rasa lezat karena dibuat dari bahan-bahan pembuat kue yang lengkap.

(Dinar Kencana Dewi)

  Bahan kue/ilustrasi/pixabay Tak semua ibu rumah tangga memiliki hobi memasak. Namun sebagian besar dari ibu rumah tangga pasti s...
Menulis Indonesia 24 Apr 2020
Jedadulu

Tujuh Peluang Bisnis Online untuk Mahasiswa


Namanya Naufal. Ia mahasiswa di salah satu PTN di Depok, Jawa Barat. Mahasiswa semester tiga ini sudah enam bulan terakhir menjalankan bisnis iseng yang katanya kecil-kecilan. Sekadar mengisi waktu luang dengan hal yang bermanfaat.

Naufal menjual sepatu gaul dari berbagai merek branded yang dijajakan ke teman-temannya di kampus. Tak hanya secara offline, Naufal juga menjajakan dagangannya secara online. Hasilnya, lumayan. Ia kini bisa membiayai kuliahnya sendiri tanpa bantuan orang tua.

Bisnis online bisa dibilang usaha yang menjanjikan bagi siapa saja termasuk Naufal yang masih menjadi mahasiswa. Selain bisa digunakan untuk mengisi waktu luang, berbisnis online ini juga merupakan usaha menguntungkan.

Peluang usaha bisnis online ini terbuka lebar bagi Anda para mahasiswa karena kapan pun dan di mana pun, bisnis ini bisa dijalankan. Melalui bisnis online Anda dapat menghasilkan keuntungan yang tidak sedikit sehingga berpotensi membantu keuangan ketika masa-masa kuliah.

Jika saat ini Anda masih berada pada masa-masa kuliah, maka hal ini menjadi waktu yang tepat untuk mulai berbisnis. Di bawah ini ada tujuh rekomendasi bisnis online yang cocok bagi mahasiswa:

1.  Menjadi Seorang Penulis Lepas

Menjadi penulis dapat menjadi peluang bisnis dan usaha kecil menguntungkan terbaik jika Anda seorang yang suka menulis dan memiliki kemampuan untuk menuangkan ide dalam bentuk tulisan. Bisnis ini selain mudah untuk dikerjakan juga nyaris tanpa mengeluarkan modal, yang diperlukan hanya laptop atau komputer untuk media menulisnya.

Untuk menjadi seorang penulis lepas tetap dibutuhkan kreativitas, imajinasi, dan kemampuan menulis yang baik. Selain itu, bisnis ini dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja karena memang pekerjaan ini tidak terikat dengan tempat dan waktu.

Bisnis menjadi penulis lepas ini juga bisa menjadi usaha sampingan yang lumayan menjanjikan untuk mahasiswa, karena tidak perlu mengeluarkan modal juga tidak akan banyak mengganggu waktu mahasiswa. Bentuk tulisan yang ditawarkan juga beragam, seperti artikel umum yang memuat berbagai topik.


2 . Menjadi Blogger atau Memiliki Website Sendiri


Banyak sekali di luar sana orang yang bisa menghasilkan keuntungan hingga ratusan juta per bulan dari membuat blog. Namun tentu saja hal itu tidak di dapatkan dengan cara yang instan, perlu banyak usaha dan berbagai macam proses terlebih dahulu  yang harus Anda lalui.

Hal itu sama seperti ketika berbisnis offline. Bagaimana caranya untuk mendapatkan uang dari blog? Anda bisa menguangkan website seperti Google Adsense atau bisa juga dengan menjual produk Anda sendiri, dan masih banyak cara lain yang bisa digunakan agar website bisa menghasilkan uang. Dari sana Anda akan mendapatkan penghasilan dari website atau blog dan hasilnya bisa Anda kelola sendiri.

3.    Menjadi Seorang Penerjemah


Jika Anda menguasai bahasa asing seperti bahasa Inggris atau bahkan bahasa lainnya di luar bahasa Inggris, Anda bisa menjadikan hal itu sebagai peluang usaha untuk menjadi seorang penerjemah.

Kini media online telah banyak menghubungkan, orang-orang dari berbagai belahan dunia. Untuk menjelaskan yang terjadi di luar negeri, maka Anda bisa menerjemahkan sebuah artikel atau samacamnya agar dapat dibaca oleh pembaca yang tak mengerti bahasa asing.

Bagaimana cara menjadi seorang penerjemah? Anda hanya cukup menawarkan jasa untuk menjadi penerjemah kepada perusahaan atau klien yang memerlukan data.


4 .    Membuka Jasa Desain Grafis


Jasa desain grafis ini merupakan bisnis online yang bisa dilakukan dengan mengeluarkan modal yang sedikit. Apalagi jika Anda merupakan mahasiswa Jurusan Desain Grafis, maka bisnis ini menjadi peluang usaha yang bisa di coba karena selain modalnya yang sedikit, bisnis yang satu ini cukup dibutuhkan jasanya dan cukup laris juga.

Jika desain yang Anda buat sangat bagus, Anda bahkan bisa mendapat konsumen yang berasal dari luar negeri. Untuk masalah harga, Anda juga bisa mengaturnya sendiri tergantung seberapa besar tingkat kesulitan saat membuatnya.

5.    Menjadi Youtuber


Kini bekerja menjadi seorang Youtuber sepertinya sudah banyak di gandrungi oleh masyarakat Indonesia, terlebih di kalangan anak muda. Youtuber ini menjadi salah satu bisnis yang bisa dilakukan dengan mengeluarkan modal yang kecil.

Hasil dari menjadi seorang Youtuber juga lumayan menjanjikan, semakin banyak viewers pada video Anda, maka semakin besar pula pendapatan yang bisa diperoleh. apalagi jika ada sponsor yang mau melakukan kerja sama dengan Anda.
Konten yang bisa Anda pilih juga beragam, jika Anda seorang pemula maka video untuk tutorial hujab, tutorial make up, dan tutorial lainnya bisa menjadi pilihan  mudah  yang bisa kamu lakukan.

6.    Menjadi Reseller


Bergabung di komunitas reseller Indonesia . Itu berarti pekerjaan Anda adalah menjadi perantara antara konsumen dan produsen. Semisal, jika ada seorang yang ingin membeli baju di toko online namun karena dia tidak memiliki akses untuk pergi, maka Anda bisa menjadi perantaranya. Menjadi dropshipper atau reseller bisa dijadikan usaha sampingan di sela-sela kesibukan kuliah.

Ada banyak sekali Social Commerce Indonesia yang bisa Anda coba untuk mencari penghasilan tambahan dengan berjualan produk mereka. Menjadi dropshipper mereka pun bisa Anda coba untuk menambah penghasilan tambahan.

7.    Membuka Usaha Jastip


Cara melakukan pekerjaan ini yakni dengan membuka pesanan. Pesanan apa? Ketika Anda hendak bepergian ke luar kota atau ke luar negeri, Anda bisa menjadi jasa pengantar barang untuk orang lain. Anda bisa membelikan barang yang ingin orang lain beli dan membelikannya di tempat yang diinginkannya.

Anda dapat menentukan barang apa saja yang bisa dibeli. Semisal tas, baju, makanan ringan, atau sepatu. Dan hal itu menyesuaikan ke mana Anda akan pergi. Pekerjaan ini bisa kamu jadikan sebagai usaha sampingan, istilahnya sambil menyelam minum air, karena pekerjaan ini dilakukan ketika Anda hendak berlibur atau bepergian ke luar kota bahkan ke luar negeri.

Namanya Naufal. Ia mahasiswa di salah satu PTN di Depok, Jawa Barat. Mahasiswa semester tiga ini sudah enam bulan terakhir menjalankan bi...
Menulis Indonesia 23 Apr 2020
Jedadulu

Sebutir Peluru untuk Batagol (Cerpen)

Sepak Bola (Ilustrasi Pixabay)

Oleh Endro Yuwanto

Batagol mengikat tali sepatunya. Dia bergegas memasuki lapangan. Tak ada yang berubah. Riuh-rendah gemuruh suara penonton, rumput yang terhampar bagai permadani hijau, dan dua gawang yang berdiri kokoh saling berhadapan laksana dua ksatria menghunus pedang. Tak ada yang berubah. Semua masih sama, kecuali dirinya.

Tujuh tahun lalu, Batagol adalah bintang. Namun seiring makin bertambahnya usia, dia kini hanyalah pecundang di lapangan. Tak ada lagi teriakan mengelu-elukan namanya saat beraksi di lapangan. Justru saat melakukan kesalahan caci-maki terdengar bergema memenuhi sudut-sudut lapangan.

Batagol masih ingat, tadi pagi istrinya mengeluh beban pengeluaran rumah tangga yang kian menghimpit. Segala tagihan bulan ini belum dibayar; mulai dari listrik, telepon, cicilan motor, dan rumah. Belum lagi dua anaknya, Isabel dan Lura, yang akan masuk SD dan SMP, minggu depan. Tentu butuh biaya yang tidak sedikit.

Pikiran Batagol kian ruwet setelah sejak dua minggu lalu pihak manajemen klub memotong gajinya lantaran tanpa sengaja dia mencetak gol bunuh diri. Tindakan ceroboh bagi seorang penyerang berpengalaman seperti dirinya.

Dia masih bisa bernafas lega karena nasibnya tak setragis Andreas Escobar, pemain yang membuat gol bunuh diri bagi tim Kolombia di Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Escobar akhirnya tewas diberondong peluru seusai pertandingan di sebuah klab malam.

Namun itu tetap belum bisa mengurangi beban Batagol. Apalagi ketika di ruang ganti pakaian, pelatih mengancam akan memecatnya jika gagal mencetak gol ke gawang lawan. Klub yang dibela Batagol saat ini memang tengah terancam terlempar ke divisi yang lebih rendah dan membutuhkan kemenangan untuk bisa mempertahankan posisi.

Dulu Batagol begitu mudah melesakkan bola. Namun kini semua kepiawaiannya seakan sirna. Tahun ini dia bahkan baru mencetak satu gol dalam puluhan pertandingan.

Batagol sadar kariernya mungkin sudah memasuki ujung senja. Waktunya semakin terbatas untuk mengeruk uang di lapangan hijau. Dia ingat nasib George Weah, penyerang bintang Liberia yang uzur dan didepak klubnya ke klub gurem. Namun dia juga menyadari tak bisa tampil terlalu ngotot karena dia harus hati-hati untuk menjaga kakinya, investasi terbesar kariernya. Dia tak ingin seperti Marco van Basten, bintang besar asal Belanda yang terpaksa gantung sepatu di usia relatif muda karena cedera engkel yang berkepanjangan.

Semakin uzur usianya, Batagol kian sadar, olah raga khususnya sepak bola sudah kian menjauh dari sisi sportivitas. Bukan sekadar menang dan kalah, bukan lagi sekadar persoalan bagaimana melahirkan tubuh dan jiwa yang sehat. Atau bukan semata-mata media relaksasi. Di sepak bola, begitu banyak jumlah uang yang dipertaruhkan. Sepak bola menjadi medan pertarungan yang melibatkan banyak kepentingan terutama perebutan kekuasaan dan dominasi modal. Ia telah menjadi industri.

Setiap pemain dihargai sesuai kemampuannya menggocek bola. Pemain hanyalah buruh-buruh yang menggerakkan roda industri sepak bola. Dan harga Batagol kian tahun kian menyusut. Meski perputaran uang membesar, di negeri ini sepak bola belum menjamin kesejahteraan para pemainnya. Batagol sangat khawatir, jika pensiun sebagai pemain bola, maka nasibnya tak akan jauh berbeda dengan teman-temannya yang lebih dulu gantung sepatu.

Batagol ingat nasib Brangkah yang tahun lalu gantung sepatu dan kini menjadi penjual minuman ringan dan rokok di pinggir jalan. Lantas si Somad yang kini menjadi penyobek tiket di pintu stadion. Atau Si Jupri yang berprofesi sebagai tukang ojek di pasar inpres. Hanya Benirto yang bernasib agak baik. Benirto saat ini bekerja sebagai tukang cuci kostum para pemain di sebuah klub terkenal.

''Bataaa, itu bolamu !!!'' Batagol tersadar dari lamunannya. Si kulit bundar sudah meluncur deras. Batagol tergagap. Ia gagal mengontrol bola sehingga dengan mudah direbut pemain belakang lawan. Teriakan, ''Huuu!!!'' bergemuruh dari tribun penonton.

***

Di sebuah rumah petak di lorong gang kumuh yang becek dan penuh sampah, Sukra nampak gusar. Ia merobek-robek puluhan poster Batagol di dinding kamarnya yang sumpek dan bau anyir. Sukra kecewa dan murka setelah idolanya itu kian tampil buruk tahun ini. Dulu ia selalu menang taruhan saat menjagokan tim yang diperkuat Batagol. Kini ia sering kehilangan uang, setelah kalah taruhan.

Bahkan Surip, kawan sesama tukang becak, dua hari lalu dipukuli orang sampai koma. Gara-garanya Surip tak bisa melunasi utang, setelah uang yang seharusnya digunakan untuk membayar dipakai berjudi. Dan Sukra menyarankan Surip untuk bertaruh pada tim Batagol. Tim Batagol kalah dan salah satu penyebabnya adalah gol bunuh diri Batagol. Niat Surip untuk menggandakan uang justru berakhir sebaliknya.

Sukra ingat malam seusai pertandingan segerombolan tukang kredit menggebuki Surip hingga babak-belur. Surip kini terbaring lemah di rumah sakit dan sama sekali belum disentuh perawat apalagi dokter karena ia tak sanggup membayar uang muka pengobatan.

Sukra tak mampu menolong temannya. Uangnya yang tersisa juga sudah dihabiskan untuk bertaruh. Rasa sesal Sukra semakin tajam seperti pisau yang mengiris ulu hatinya. Uang itu sebenarnya akan digunakan untuk membiayai persalinan anak pertamanya. Namun kepahitannya tak juga berakhir. Tadi malam, lantaran tak memiliki sepeser uang untuk menyewa mobil ambulan atau taksi, ia nekat mengantar istrinya dengan mengayuh becaknya menembus keremangan malam. Namun, akibat pendarahan yang terlalu banyak, istri dan anak dalam kandungan akhirnya meninggal di depan klinik bersalin.

***

Stadion Lebak Membara masih bergemuruh. Kedudukan kedua kesebelasan masih imbang 0-0. Kedua tim silih berganti melancarkan serangan. Waktu tersisa tiga puluh detik.

Sukra masih duduk tegang di bangku tribun penonton paling depan. Meski tak tampil di lapangan, peluh keringat membasahi sekujur tubuhnya. Di pangkuannya tersembul lembaran kertas koran bekas. Dua belah tangannya tersembunyi di balik kertas koran itu.

Diam-diam sejak memasuki stadion, Sukra telah menyembunyikan pistol rakitan dalam ransel kumal dan berhasil lolos dari penjagaan petugas keamanan yang tidak terlalu ketat. Sukra menyewa pistol itu dengan cara utang dari Jaki, preman tetangganya. Pistol dan dua butir peluru itu akan digunakannya untuk menembak Batagol. Pemain idola yang kini dianggap telah menghancurkan hidupnya.

***

Batagol masih berdiri di antara dua pemain belakang lawan. Sudah empat peluang yang disia-siakannya. Selintas ia melihat sang pelatih tampak gusar menyaksikan penampilannya. Bayangan kesedihan istri dan anak-anaknya menghiasi pelupuk mata.

Tiba-tiba bola lambung mengarah kepadanya. Seorang pemain belakang lawan terpeleset dan ia lepas dari jebakan off-side (*). Bola tepat di hadapannya. Jarak dengan gawang juga tinggal sembilan langkah. Batagol tinggal melakukan tendangan. Suara penonton kian bergemuruh.

Detik-detik serasa seperti adegan lamban. Batagol memfokuskan pandangan ke depan. Di saat yang bersamaan, Sukra bersiap menarik pelatuk pistol dari balik kertas koran. Jarak Sukra dan Batagol yang berdiri sendirian di mulut gawang hanya sekitar 50 meter.

Ujung sepatu kaki kanan Batagol menyentuh bola. Sedikit lagi Sukra menyentuh pelatuk pistolnya. ''Dorrr !!!'' Bola melesat ke sudut kanan atas gawang. Penjaga gawang lawan menerjang bola namun gagal menghalaunya. Batagol roboh. Teman-temannya langsung berhambur mengerubunginya seraya merobohkan diri untuk merayakan gol. Sukra kembali menyimpan pistol ke dalam ransel kumal.

Senayan, Oktober 2003

(*) off-side: seorang pemain berada dalam posisi off-side jika pemain tersebut berada lebih dekat ke garis gawang lawan daripada bola dan pemain lawan yang kedua terakhir. Untuk tiap pelanggaran off-side wasit memberikan tendangan bebas tidak langsung kepada tim lawan (Law of The Game FIFA 2001).

Sepak Bola (Ilustrasi Pixabay) Oleh Endro Yuwanto Batagol mengikat tali sepatunya. Dia bergegas memasuki lapangan. Tak ada yang berub...
Menulis Indonesia 11 Apr 2020
Jedadulu

Jalan Kematian (Cerpen)

Ilustrasi (Twitter)

Oleh Endro Yuwanto

Ranggalawe terkulai lemas di tepi sungai itu. Kebo Anabrang roboh bersimbah darah. Lembu Sora menatap nanar dengan keris terhunus, yang masih meneteskan darah kental merah berkilap.

Lembu Sora tak mengerti, siapa yang pantas disalahkannya. Dua sahabat yang terkapar itu, dirinya, atau bahkan sang raja pemberi titah. Sementara, kehidupan telah menggariskannya. Pantaskah ia menyalahkan sang Pemberi Hidup yang pada akhirnya memberikan kematian?

Keris yang masih saja tergenggam di tangan, diangkat tinggi-tinggi dan diarahkan tepat ke jantungnya. Namun, pelan-pelan keris itu diturunkan kembali. Di antara kilatan ujung keris itu, Lembu Sora menyadari, suatu saat nanti, kematian pasti juga akan menjemputnya, dengan jalan yang ia sendiri tak akan pernah mengerti.

Burung-burung gagak hitam terlihat bertebaran di angkasa seperti ribuan anak panah yang dilepaskan pasukan Majapahit, menghujam tubuh-tubuh lelah ratusan bala tentara Tuban. Burung-burung hitam yang hanya memiliki naluri mencabik dan melahap daging ratusan tubuh tak bernyawa itu  seakan tak pernah puas. Sambil mengepakkan sayap-sayapnya mereka meloncat ke sana ke mari di antara onggokan bangkai prajurit-prajurit yang masih setia mendampingi Ranggalawe hingga jiwa terpisah dari raga.

Matahari mulai condong ke barat. Langit menjelma warna merah jingga. Warna air yang mengalir di sungai kecil itu juga belum berubah. Masih merah darah. Lembu Sora ingat, dua purnama lalu ia melepaskan Ranggalawe kembali ke Tuban di tepi sungai itu. Sungai yang saat itu masih mengalirkan air bening sehingga bebatuan dan ikan-ikan mungil di dasarnya bisa terlihat dari atas permukaan.

"Kang Sora, aku mohon diri. Tak ada gunanya aku berlama-lama di sini," tutur Ranggalawe sebelum menunggang kuda jantan hitam.

"Dimas Lawe, apa tidak ada cara lain, selain meninggalkan Majapahit?'' Lembu Sora masih berharap Ranggalawe menggurungkan niatnya.

"Tidak Kang. Tak ada jalan lain. Toh Raden Wijaya sudah tak menginginkanku mengabdi di sini. Beliau lebih memilih Nambi sebagai mahapatih. Raden Wijaya juga sudah memerintahkanku menjadi bupati di Tuban,'' Ranggalawe sudah duduk di atas pelana kudanya sambil memegang tali kekang.

Lembu Sora mendesah lirih. Tak ada yang bisa diperbuat untuk menolong sahabatnya. Pikirannya buntu. Tapi ia memahami pilihan sulit Ranggalawe untuk segera menyingkir dari hutan Tarik. Ia pun menyadari keputusan Raden Wijaya semata hanya membalas budi bupati Madura Arya Wiraraja, ayahanda Nambi.

Arya Wiraraja adalah sosok yang melindungi Raden Wijaya sebelum duduk di atas Singgasana. Berkat bantuan Arya Wiraraja, Raden Wijaya bisa diselipkan untuk mengabdi pada Raja Kediri, Jayakatwang. Seorang raja bengis yang membantai mertua Raden Wijaya, Kartanegara sang penguasa Singosari.

Arya Wiraraja juga berandil membujuk Jayakatwang untuk memberi izin Raden Wijaya membuka hutan Tarik sebagai daerah tempat tinggal. Di hutan terpencil dan jauh dari pangawasan Jayakatwang itu, diam-diam Raden Wijaya melatih pasukannya dan mendirikan Majapahit. Bersama pasukan Arya Wiraraja dan para sahabatnya, seperti Ranggalawe, Kebo Anabrang, Lembu Sora, Jurumedung, Gajah Biru, dan juga bala tentara Mongol, Raden Wijaya balik memukul dan menghancurkan Jayakatwang.

Tapi Raden Wijaya seakan melupakan jasa besar sahabatnya, Ranggalawe, yang memimpin pasukan Majapahit di segala pertempuran. Ranggalawe sang panglima perang tanpa-tanding yang selalu berada di garis depan dengan keris yang selalu teracung ke langit. Ketika terhunus dari sarungnya, tujuh liukan keris itu berkilat-kilat seperti tarian dewa maut. Siapa pun lawan yang mendekatinya, berarti mati.

Kecerdikan Ranggalawe juga membuat Majapahit berhasil mengusir tentara Mongol dari tanah Jawa. Tapi selanjutnya Ranggalawe justru dibuang ke daerah tandus di Tuban, sedangkan Nambi yang belum pernah memimpin pertempuran dinobatkan sebagai mahapatih; jabatan jelmaan tangan kanan raja.

''Selamat jalan Dimas Lawe, semoga sang waktu masih mempertemukan kita,'' ujar Lembu Sora. Ranggalawe hanya tersenyum getir. Setelah itu, derap-derap langkah kaki kuda Ranggalawe menjauh, diiringi ratusan derap kaki kuda para prajurit yang masih setia mendampingi Ranggalawe. Lembu Sora tak sanggup dan tak ingin mencegah kepergian ratusan prajurit yang mengiringi perjalanan Ranggalawe.

Lembu Sora masih saja berdiri mematung. Ketika kepulan debu bekas derap ratusan kaki kuda itu menghilang di kelokan jalan hutan, kebimbangan kembali menyeruak. Ia ingat pesan Raden Wijaya saat ia hendak mengantar kepergian Ranggalawe, ''Sora, jangan sampai ada satu pun prajurit yang menemani  Ranggalawe ke Tuban. Aku tak ingin pasukan Majapahit terpecah!" Ah, begitu sulitkan menjatuhkan pilihan antara kepentingan negara dan kesetiaan kepada seorang sahabat.


***

Entah angin busuk dari mana yang membongkar rahasia kepergian Ranggalawe dengan ratusan prajurit. Rahasia itu bocor sampai ke telinga Raden Wijaya. Raja Majapahit itu murka dan menganggap Ranggalawe sudah berani melakukan penghinaan. Ranggalawe telah melakukan pengkhianatan. Di mata baginda, Ranggalawa makar. Ranggalawe adalah pemberontak. Ranggalawe pantas dihukum mati. Tanpa banyak pertimbangan, Raden Wijaya memerintahkan Mahapatih Nambi dan ribuan tentara Majapahit menyerbu Tuban.

Gajah Biru, ksatria muda bekas anak buah Ranggalawe, mendengar rencana penyerbuan itu. Bergegas ia mengumpulkan puluhan prajurit tersisa yang masih setia dengan Ranggalawe. Senopati muda itu lalu berangkat menuju Tuban untuk mengabarkan rencana Raden Wijaya.

Malam itu hujan deras mengguyur tapal batas Majapahit. Petir menyambar di mana-mana. Angin kencang melayangkan dedaunan dan ranting-ranting rapuh. Pohon-pohon angsana yang kukuh, tercerabut sampai akarnya, seperti malaikat maut yang dengan mudahnya mencabut nyawa manusia. Tanpa ada tunda, tanpa ada tambahan masa. Semua tepat sesuai titah Penguasa.

Rembulan hilang di balik mendung kelam. Angin kencang lalu berubah seperti berbisik lirih kepada puluhan prajurit setia yang selalu merindukan bercumbu dengan maut.

Di tepi sungai Brantas, Gajah Biru dan teman-temannya tersentak ketika ribuan pasukan Majapahit menghadang dari atas bukit. Tapi anak-anak muda itu selalu percaya, karang pun tak sanggup melenyapkan buih-buih samudera, seperti janji ombak kepada pantai untuk selalu setia menemaninya. Seperti juga janji mereka kepada Ranggalawe, panglima perang kebanggaan semua, untuk menjaga kewibawaannya.

"Aku ingin membela Kang Lawe. Ini semua tak adil. Kang Lawe sama sekali tidak bersalah!'' teriak Gajah Biru bersama tiupan angin yang tiba-tiba kembali kencang bergemuruh. Menderu selaksa gelegak darah muda Gajah Biru.

"Dimas Gajah Biru, siapapun yang membangkang perintah raja pantas dihukum mati. Ranggalawe adalah pemberontak!" Nambi berteriak lantang. Lengan kirinya menutupi mata dari rintik-rintik hujan yang masih menderas.  "Jika membela Ranggalawe, Dimas juga pantas mati!"

Seperti kilat Nambi menghunus keris pusaka. Beberapa detik kemudian ribuan tentara Majapahit menyerbu turun ke tepi sungai seperti kawanan lalat yang mengerubungi bangkai.

Di antara rintik-rintik hujan, perang sesama prajurit Majapahit tak terhindarkan. Perang yang hanya sekedipan mata itu lebih tepat disebut pembantaian puluhan teman-teman Ranggalawe. Jeritan meregang nyawa bertebaran di mana-mana. Gajah Biru pun tewas di tepi sungai di tapal batas Majapahit. Wajah pemuda tampan yang berlumuran darah itu tampak bersinar. Senyuman kemenangan terkembang di bibirnya. Nambi hanya tercenung dari kejauhan di atas bukit.

***

Lembu Sora masih menatap nanar asap hitam tebal seperti jelaga dalam gumpalan-gumpalan besar pekat di angkasa. Cahaya  merah bernuansa kilauan oranye terlihat di mana-mana. Kobaran lidah api mengelilingi kediamannya. Seperti air terjun yang tumpah dari atas tebing, api merah yang marah itu merayap deras menuju pendopo. Seperti ular sanca yang meliuk-liuk mencari mangsa.

Lembu Sora masih terlihat bersila di atas tempat duduknya. Ratusan prajurit Majapahit telah mengepungnya. Putera-putera terbaik Lembu Sora telah gugur demi membela kehormatan orang tua. Tapi ia tak pernah menyalahkan keganasan para prajurit muda Majapahit yang hanya mengemban tugas sang raja Jayanegara, putera mendiang Raden Wijaya, raja Majapahit berikutnya. Prajurit-prajurit muda itu hanya paham, Lembu Sora adalah pemberontak yang harus dihukum pancung.

Teriakan-teriakan meregang nyawa dari sisa-sisa pengawalnya terdengar membahana. Samar-samar Lembu Sora mengingat kisah Nambi yang pulang ke Lumajang untuk mengubur jasad ayahandanya, Arya Wiraraja. Entah hasutan dari mana, Nambi dituduh Jayanegara sebagai pemberontak yang sedang menyusun kekuatan. Tujuh malam Lumajang digempur habis-habisan. Nambi dan seluruh keluarganya binasa.

Setelah Nambi tewas, sahabat mendiang Raden Wijaya yang tersisa hanya tinggal Lembu Sora. Ia menjadi satu-satunya calon mahapatih. Tapi fitnah menyergapnya. Lembu Sora dianggap bersekongkol dengan Nambi oleh raja belia itu.

Kicauan burung hantu yang bertengger di ranting pohon beringin di depan kediaman Lembu Sora kian terdengar menyayat hati. Kicauan itu seakan mendendangkan tentang kefanaan dunia. Usia hanyalah perjalanan angka-angka dalam tahun. Lalu sejarah hadir. Kenangan tentang kehidupan orang-orang yang datang entah dari mana dan yang pergi entah ke mana.

Lembu Sora sama sekali tak menyesal kematian hadir menjemputnya dengan jalan seperti ini. Ia hanya menyesalkan, mengapa Majapahit yang begitu megah dibangun di atas mayat-mayat ribuan prajurit dan rakyat jelata. Juga di atas mayat ksatria-ksatria yang sukarela berperang dan membuka hutan Tarik untuk sahabatnya, Raden Wijaya. Ksatria-ksatria yang gugur bukan karena menghadapi lawan dari mancanegara atau memberantas pemberontakan. Tapi, ksatria-ksatria yang melepas nyawa dalam tikaman keris, tombak, dan mata panah sahabat-sahabatnya sendiri.

Lembu Sora, perwira yang sanggup membunuh puluhan orang hanya dari jarak sepuluh langkah, tak kuasa menyimpan berjuta kegetiran dalam dada. Perlahan-lahan air matanya meleleh. Membasahi pipi tuanya yang mulai keriput. Namun air matanya tak cukup untuk membangunkan istrinya yang tiba-tiba terbujur kaku di pangkuannya dengan sebatang anak panah menancap di perut. Air matanya tak cukup untuk memadamkan api yang menjilati sekujur tubuh emban-embannya yang mengendong puluhan cucu-cucunya. Air matanya juga tak cukup untuk menyiram kobaran api yang melumatkan kediamannya.

Ketika ratusan anak panah menghampiri Lembu Sora seperti halilintar yang menyambar puncak menara istana, pertanyaan-pertanyaan terus berkecamuk dalam dirinya. Mengapa dulu ia tak pernah menyangkal titah Raden Wijaya untuk mengangkat Nambi sebagai mahapatih? Mengapa ia tak mencegah ulah sembrono Gajah Biru? Haruskah ia mengizinkan ratusan prajurit mengiringi kepergian Ranggalawe ke Tuban?

Pantaskah ia membeberkan rahasia kelemahan Ranggalawe yang tak sanggup bertarung lama dalam air pada Kebo Anabarang? Satriakah ia ketika meloncat dan menghujamkan keris ke dada Kebo Anabrang saat Ranggalawe sekarat dalam jepitan sahabatnya dari Pamalayu itu?  Haruskah ia mengabarkan kematian Ranggalawe ke Tuban sehingga dua istri sahabatnya itu dengan seketika menghujamkan keris ke dalam raga? Haruskah seluruh keluarganya menjadi tumbal kebesaran Majapahit? Tapi, kini Lembu Sora hanya bisa pasrah. Ia menyerah.

Slipi Jaya, Mei-Juni 2004

Ilustrasi (Twitter) Oleh Endro Yuwanto Ranggalawe terkulai lemas di tepi sungai itu. Kebo Anabrang roboh bersimbah darah. Lembu Sora me...
Menulis Indonesia 10 Apr 2020
Jedadulu

Setelah 360 Bulan (Cerpen)

Pantai (Ilustrasi/Pixabay)

Oleh Endro Yuwanto

Aku menantinya di tepi pantai ini setiap senja asyik menenggelamkan matahari. Aku menunggunya di setiap malam, ketika suara-suara binatang malam mengalun tenang. Aku tetap setia di sini, bersama mimpi-mimpi yang kurajut setiap hari.

Kapal-kapal datang dan pergi di pelabuhan itu. Setiap hadir kapal yang berlabuh di pantai, tak henti-hentinya kuamati orang-orang turun dari tangga kapal. Aku melongok berharap cemas, siapa tahu engkau tiba-tiba muncul di sana. Namun, sudah tiga ratus enam puluh bulan, sosokmu tak pernah hadir di pantai itu, dengan senyuman indah seperti saat engkau meninggalkanku.

Masih kuingat lambaian tanganmu dulu, saat engkau berdiri di atas geladak kapal. Tanganku pun tak lelah  melambai,  mengiringi keberangkatanmu. Aku terus memandang kapal itu bergerak perlahan  seperti ditelan lautan. Hingga tersisa tiang-tiang kapal. Dan akhirnya semuanya seperti sirna di sana.

Sore ini aku masih menunggumu di sini, di bawah lengkungan pelangi yang tiba-tiba saja hadir, seusai rintik-rintik hujan terhenti dipulas cahaya mentari. ''Mi, masuklah ke dalam rumah, angin kencang bisa mengganggu kesehatanmu,'' ajak Surip yang selalu setia menemaniku. Aku hanya menoleh sesaat, kemudian tetap tepekur di atas bangku kayu yang reot dimakan usia. Sepertiku.

''Sudahlah Mi, bersabarlah. Dia pasti pulang,'' hibur Surip seraya menarik lenganku. Ia lalu membimbingku memasuki rumah  panggung yang berdinding bambu. Malam lalu merayap pelan.

Tapi setiap hari aku tak lelah keluar rumah untuk duduk di bangku tua. Aku selalu menyaksikan kapal-kapal yang merapat di tepi pantai. Berharap, engkau tiba-tiba ada di hadapanku. Namun, sama seperti kemarin, dan kemarinnya lagi, dan  lebih jauh lagi, sosok rupawanmu dengan bahu yang kekar tak pernah ada di sana.  Engkau bahkan tak pernah sempat menyaksikan kedua anak kita tumbuh dan berkembang. Mereka sekarang telah dewasa dan berjodoh. Anak-anak kita kini menetap di Jakarta.

Kesedihanku terasa kian membuncah kala lebaran tiba dan mereka berkumpul di sini sambil membawa cucu-cucu kita .  Cucu-cucu kita yang mungil dan lucu-lucu itu selalu melontarkan pertanyaan yang selalu tak mampu kujawab,'' Nek, Kakek di mana?''

***

Pagi ini aku kembali berada di beranda rumah, duduk di bangku tua. Permukaan laut terlihat tenang. Semilir angin berhembus menerpa rambutku yang mulai dipenuhi uban. Sebuah kapal nampak merapat. Para awak kapal terlihat sibuk membongkar muatan.  Puluhan penumpang berbondong-bondong meninggalkan pantai.

Seorang lelaki nampak berjalan tenang menghampiriku. Aku terkesiap. Sosok itu sepertinya tak asing bagiku. Bahunya kokoh dan sunggingan senyumannya seakan bisa membuat terlena siapa saja yang memandangnya. ''Dia datang..,'' desisku ragu. Buru-buru aku beranjak dari bangku. Namun pijakan kakiku belum sempurna benar. Tubuhku limbung, jatuh di atas tanah pasir yang kering.

''Mi, ada apa Mi !'' teriak Surip dari dalam rumah. Bergegas dia menghampiriku. ''Aku melihatnya, aku melihatnya!'' teriakku histeris sambil menunjuk lelaki itu.

''Itu bukan dia Mi, bukan,'' sergah Surip. ''Tidak, pasti dia. Dia sengaja datang menjemputku,'' tukasku tak mau kalah.

''Kalau benar dia, pasti sosoknya tak jauh beda dengan kita, Mi. Dia jauh lebih muda. Dan lagi, dia itu Somad, anak tetangga sebelah yang baru merantau dari Makassar,'' tegas Surip meyakinkanku.

Aku terhenyak, kesadaranku berangsur pulih. Aku lalu hanya bisa menangis sesegukan. ''Sudahlah Mi, relakan saja jika memang dia telah pergi,'' hibur Surip.

''Tidak, aku yakin dia masih hidup,'' elakku sambil menahan air mata yang mulai menderas. Siang mulai terik. Dengan lembut Surip membimbingku memasuki rumah.

Sudah tiga hari sejak peristiwa itu, Surip menghilang dari rumah. Namun dia sempat pamit pergi ke rumah kawan lamanya di kampung sebelah. Hari-hari menjadi semakin sepi. Tak ada lagi celoteh lucu Surip yang sering membuatku tersenyum. Tak ada lagi siulan-siulan isengnya melantunkan lagu yang entah aku sendiri tak tahu apa judulnya. Yang ada hanya deburan ombak dari pantai yang tak pernah sepi dari kapal-kapal yang merapat di tepinya.

Aku masih duduk di bangku tua yang makin lapuk dan reot di makan usia. Sesekali kuteguk kopi buatanku sendiri yang terasa hambar. Aku jadi teringat Surip. Biasanya dia rajin membuatkan kopi untukku.  Tapi kini aku tak tahu, dia berada di mana dan sedang mengerjakan apa. Sejak tiga ratus enam puluh bulan silam, Surip selalu menemaniku. Termasuk membesarkan anak-anak. Sebagai nelayan, hampir setiap hari hidupnya berada di tengah lautan. Namun di darat, perhatiannya tetap tercurah kepada kami.

Surip dulunya sempat menikah dengan perempuan kampung sebelah. Namun pernikahannya yang baru seumur jagung berakhir tragis. Ia menikam istrinya tujuh belas kali. Surip menyaksikan dengan mata-kepala sendiri saat istrinya tanpa benang sehelai pun berada di kamar bersama lelaki penjual ikan. Sepuluh tahun Surip mendekam di jeruji besi. Setelah bebas, dia mendampingiku. Meski hanya adik ipar, aku menganggapnya seperti adikku sendiri. Usia kami terpaut lima tahun. Ah, aku menyesal, mengapa kemarin harus bersitegang dengannya.

Tapi kehadiran Surip selama ini tetap tak bisa melenyapkan bayangannya. Aku tak mengerti, apa yang menarikku jatuh ke dalam suatu ikatan batin, setipis kabut senja di puncak-puncak gunung. Aku selalu bisa menjawab pasti, mencintai matahari karena kesetiaannya menerangi bumi. Aku mencintai bumi karena pada permukaannya aku berpijak. Aku mencintai bintang karena kerlap-kerlipnya memperindah malam. Aku pun mencintai malam karena pada sepinya aku bisa merenung bijak. Tapi aku tak pernah bisa menjawab, mengapa aku begitu mencintainya.

Hari beranjak siang, sengatan sinar matahari makin terasa di kulit tuaku yang mulai keriput. Aku menggeser bangku tua itu menjauh dari cahaya matahari. Mendadak seorang lelaki melintas di hadapanku.

Aku terhenyak. Sekuat tenaga aku berteriak memanggilnya, ''Bang Sukra ..., Bang Sukra .., aku di sini!''

Lelaki itu nampak heran. Di belakangnya tiba-tiba berjalan seorang perempuan muda yang tengah mengusung keranjang ikan.   ''Dasar nenek genit. Nek Mi, ini Mardun, suamiku. Sudah pikun ya ?!'' teriak perempuan itu kesal.

Aku malu sekali. Meski usiaku lebih dari separo abad, aku belum terlalu pikun. Buru-buru aku beringsut dan menutup pintu.

***

Ketika hari mulai sore, aku berniat kembali duduk di beranda. Saat pintu kubuka kembali, seorang pengemis renta sudah berdiri sepuluh meter di depan rumah. Pelan-pelan pengemis itu menghampiriku. Langkahnya gontai, menyeret kruk dari kayu untuk menyangga kaki kirinya yang buntung. Matanya picak sebelah. Baju yang membungkus tubuh dekilnya lusuh dan compang-camping.

''Mi, oh Mi, engkau masih di sini?'' gumam pengemis itu.

Aku kaget sekali, pengemis itu sepertinya mengenaliku. ''Kakek siapa, tolong jangan dekat-dekat ke sini,'' timpalku seraya melempar uang logam limaratusan.

''Aku ini Sukra Mi. Suamimu yang merantau ke Aceh beberapa tahun lalu,'' sela pengemis itu seraya bersimpuh di hadapanku.

''Tak mungkin, kakek jangan mengada-ada. Bang Sukra itu orangnya gagah dan tampan. Tak mungkin dekil dan cacat sepertimu!'' umpatku. Bergegas aku masuk rumah. Aku kesal sekali, setelah tiga ratus enam puluh bulan, tiba-tiba datang pengemis asing yang mengaku-aku sebagai suamiku. Pintu kututup dengan kasar,

''Brrraaakkk!!!''

Dari jendela aku mengintip. Pengemis gila itu masih saja duduk bersimpuh. Beberapa saat hening. Mencekam. Aku hanya berharap ada orang lewat dan lalu mengusir pengemis itu. Aku baru bisa bernafas lega, ketika sosok yang sangat kukenal menghampiri pengemis itu. Surip telah pulang. Kulihat dia membimbing pengemis itu menjauh dari rumah.

***

Surip memapah pengemis itu menuju gugusan karang, jauh dari keramaian. Senja mulai mengintip. Gugusan karang semakin terlihat hitam dan menutupi cahaya mentari dari ufuk barat. Bayangan dua lelaki tua itu tenggelam tertutup karang yang menjulang.

''Aku ini abangmu, Rip. Abangmu,'' pengemis itu mencoba meyakinkan Surip. Surip tak bergeming, dia hanya memandangi sekujur tubuh renta di hadapannya. Lantaran putus asa , pengemis itu lalu membuka bajunya. Di dada kirinya tersembul tahi lalat hitam memanjang sebesar ibu jari.

Surip terkesiap dan langsung berhambur memeluk pengemis itu. ''Bagaimana bisa begini Bang, apa yang terjadi ?'' tanya Surip penuh keheranan.

''Mungkin ini karma yang harus kutanggung Rip. Di Aceh aku lupa diri dan menikah lagi dengan gadis setempat. Usaha dagang kainku sukses besar. Kekayaan dan kemewahan  membuat aku buta dan lupa pada Mi dan kedua anakku di sini. Aku khilaf Rip. Beberapa bulan lalu, kerusahan melanda.  Sekelompok  penduduk setempat yang ingin lepas dari republik ini mengira aku sebagai informan tentara,'' tutur Sukra sembari menghapus air matanya yang mulai meleleh. ''Seluruh keluargaku, termasuk istri dan satu anak lelakiku habis dibantai. Aku sempat sembunyi dan tertangkap di hutan. Mereka  lalu menyiksaku, merusak wajahku dan membuntungi satu kakiku. Aku baru bisa lolos setelah diselamatkan sepasukan tentara.''

''Aku sekarang lelaki tua sebatang kara Rip. Aku sebenarnya malu kembali ke sini. Aku hanya ingin mengenang masa lalu. Aku tak menyangka, Mi masih ada di rumah panggung itu,'' kata-kata Sukra mulai terdengar lirih.

''Rip,  aku sungguh berterima kasih,  engkau selama ini telah menjaga Mi dan anak-anakku dengan baik. Rip, aku ingin bersama Mi lagi. Tapi mungkinkah dia masih menerimaku ?''

Sukra masih ingin meneruskan kata-katanya. Namun tiba-tiba sebongkah batu karang dengan keras membentur kepalanya. Darah segar muncrat dari kepala Sukra, mengalir membasahi baju rombengnya. Tubuh Sukra kelonjotan dan ambruk mencium bumi. Surip masih mencengkeram kuat bongkahan batu karang yang menyisakan darah berkilap. Air matanya meleleh.
 
Pantai Marunda, 2001-2003

Pantai (Ilustrasi/Pixabay) Oleh Endro Yuwanto Aku menantinya di tepi pantai ini setiap senja asyik menenggelamkan matahari. Aku menung...
Menulis Indonesia
Jedadulu

Temaram (Cerpen)

Foto ilustrasi: Pixabay

Oleh Endro Yuwanto

Jalan Doho, pukul sepuluh malam. Langit kelam pekat menghitam, rembulan sembunyi di balik awan. Kerlap-kerlip bintang bertaburan dan lampu-lampu di sudut jalan melahirkan nuansa temaram.

Sekitar satu jam lalu, toko-toko berlantai dua yang berderet rapi di sisi Jalan Doho telah ditutup. Pemiliknya yang sebagian besar warga keturunan Tionghoa mungkin sudah terlelap dalam mimpi atau mungkin sedang asyik bercengkerama bersama sanak famili sambil menonton televisi.

Namun di depan deretan toko, detak aktivitas jual-beli justru belum berhenti. Ratusan pedagang makanan, seperti nasi pecel, nasi goreng, sate kambing, soto ayam, bakmi, tahu campur, rujak cingur, dan aneka minuman nampak menggelar dagangannya.

Di sudut pertigaan yang remang-remang karena cahaya lampu tertutup kanopi dari toko-toko yang meninggikan lantainya, terlihat perempuan muda yang mengenakan kebaya mengusung bakul nasi. Dia lalu meletakkannya di atas tikar daun pandan. Di atas tikar juga tersedia beberapa panci besar berisi sayur bayam, kangkung, kacang panjang, dan toge. Nampak pula nampan berisi lauk-pauk, seperti ikan lele, sate ayam, telur dadar, kerupuk, tempe, dan tahu.

Sebuah mangkuk besar memuat sambal pecel diletakkan di dekat nampan. Perlahan-lahan, perempuan muda itu menuju gerobak dorongnya, mengambil panci kecil yang menampung sambal tumpang dan meletakkannya di atas tikar dekat bakul nasi.

Aroma sedap masakan yang digelar menggelitik perut untuk mencicipi makanan siap saji itu. Sekilas, kulihat penjual nasi pecel itu. Perempuan muda berparas lumayan manis dengan mengenakan kebaya batik yang sangat sederhana. Beberapa detik kami saling berpandangan. Tiba-tiba dari bibirnya tersungging senyuman, ''Ro, Anggoro, ya ?''

Aku kaget bercampur heran, perempuan muda ini mengenaliku. Aku berusaha mengingat-ingat.

''Mosok lupa tho Ro, aku Ningsih, temanmu waktu SMP dulu. Hayo ingat ndak?'' ujarnya lirih. Samar-samar akhirnya aku ingat. ''Ya ampun Eka Ningsih ya, Waduh Sih maaf, sudah lama sekali ya. Aku hampir saja lupa.''

Aku akhirnya bisa mengingat, tujuh tahun silam Ningsih adalah teman sekelasku di SMP. Ningsih termasuk gadis yang cerdas, menarik, riang, dan ramah. Begitu ramahnya, banyak teman pria yang mencoba mendekatinya, termasuk aku.

Dan, entah bagaimana ceritanya, Ningsih akhirnya membina tali kasih dengan Sudrajat, teman sekelasku juga. Setelah lulus SMP, aku berbeda sekolah dengan mereka. Aku di STM negeri, sedang mereka masuk SMA swasta. Setelah itu, aku jarang mendengar kabar kedua temanku itu. Apalagi, setelah aku merantau ke Jakarta selepas STM.

Kuamati wajahnya lekat-lekat. Beberapa saat kami sama-sama terdiam. ''Kenapa Ro?'' Ningsih membuka pembicaraan lagi seraya menyungging senyuman.

''Eee..,'' aku bingung memilih topik pembicaraan dengannya. Lalu, ''Lama sekali ya kita tidak bertemu, eee Sih, bagaimana kamu bisa berada di tempat ini?'' hati-hati sekali aku melontarkan pertanyaan itu.

Ningsih sontak terdiam. Pandangan bola matanya yang bening terlihat menerawang jauh. Jauh ke depan. Mungkin jauh melampaui ujung Jalan Doho. Ujung yang aku sendiri tidak akan pernah tahu. Perlahan-lahan matanya terpejam. Sisa-sisa paras manisnya semasa remaja belum begitu memudar. Saat matanya terbuka, bibirnya yang mungil dengan sedikit terbata-bata mengeluarkan suara.

''Yah, beginilah keadaanku sekarang, Ro. Setelah lulus SMP, aku dan Sudrajat masih membina hubungan. Kami satu sekolah tapi beda kelas. Hubunganku dengan Drajat semakin akrab dan dekat Ro, bahkan lama-kelamaan makin intim. Itulah kesalahan terbesar kami yang terlalu mengikuti nafsu. Saat kelas dua aku hamil. Bapakku dan orang tua Sudrajat murka. Kami terpaksa dinikahkan.''

Ningsih menghela nafas panjang, seakan ingin melepas beban berat yang menghimpit dadanya. Kemudian, dengan wajah sedikit menunduk ia melanjutkan kisahnya. ''Pihak sekolah yang mengetahui kejadian itu mengeluarkan kebijakan mengeluarkan kami. Aku dan Sudrajat benar-benar panik, Ro. Kedua orang tua Sudrajat yang merasa mendapat aib dari anaknya, hanya memberi uang untuk kontrak rumah selama satu tahun. Selebihnya mereka tidak mempedulikan kami,'' sambung Ningsih yang terlihat kusut dan lebih tua dari usia sebenarnya.

Ningsih masih melanjutkan ceritanya. Dia mengaku sekitar delapan bulan kemudian anaknya lahir. ''Kami semakin tertekan. Apalagi ketika bapakku yang selalu membantu keuangan kami, meninggal, tepat tiga hari setelah aku melahirkan. Aku semakin terguncang Ro, kamu ingat kan, ibuku sudah lebih dulu meninggal, ketika melahirkan adikku yang kedua..,'' tutur Ningsih diiringi air matanya yang mulai meleleh.

''Maaf Sih, aku tidak bermaksud membuka lukamu.'' Aku menjadi serba salah.

''Ah ndak apa-apa kok Ro, justru dengan cerita begini, sedikit banyak bisa mengurangi bebanku. Eh, ya Ro, sampai lupa, kami mau makan apa?'' Ningsih menyeka air matanya dan berusaha terlihat ceria.

''Nasi campur dan teh tawar Sih. Lauknya cukup tahu dan tempe!''

''Ro, sekarang kamu tinggal di mana? Kuliah atau kerja?'' rasa-rasanya kok aku tak pernah melihatmu di kota ini?'' Ningsih bertanya sembari tangannya sibuk menyiapkan nasi pesananku.

''Kerja di Jakarta, Sih,'' jawabku singkat.

Aku pikir, saat ini Ningsih tak perlu tahu kondisiku yang sebenarnya. Padahal, sejak satu pekan lalu, aku dirumahkan. Para karyawan di pabrik sepatu, tempatku bekerja, sejak bulan lalu mulai dikurangi untuk efisiensi. Konon, pabrik di sisi utara Jakarta itu mendekati kebangkrutan. Dampak krisis ekonomi empat tahun lalu akhirnya menerpa pabrik milik perusahaan Korea itu. Aku sengaja pulang ke kota kecil ini untuk memenangkan diri. Aku belum bisa menentukan akankah kembali ke Jakarta atau menetap dan lalu mencari pekerjaan di kampung halaman.

''Wah hebat kamu Ro,'' Ningsih menyodorkan sepiring nasi campur, nasi khas kota ini berupa nasi putih yang ditaburi sayuran, sambal pecel, dan sambal tumpang menjadi satu. Sambil melahap nasi campur, aku bertanya lagi, ''Drajat di mana Sih?''

''Suamiku itu lelaki yang bertanggung jawab, Ro. Dia menghidupi aku, anakku, dan kedua adikku dengan kerja serabutan jadi kernet mikrolet. Tapi biaya hidup di sini juga semakin tinggi. Akhirnya tahun lalu dia ikut jadi TKI ke Malaysia dan setiap bulan ngirim uang ke sini.''

Dua orang pengamen menghampiriku. ''Nuwun sewu, Mas..,'' lalu mendendangkan lagu Ebiet G Ade dengan suara agak sumbang. Tak ada kemerduan di nadanya. Kedua pengamen itu berlalu setelah menerima seratus perak dariku.

Aku merasa miris, di kota kecil di sisi timur Jawa ini, setiap tahun jumlah pengangguran kian melimpah. Di kota yang terkenal dengan tahu kuning-nya ini, pekerjaan yang dianggap layak adalah menjadi pegawai negeri, guru, polisi, tentara, dan buruh di pabrik rokok raksasa yang lahannya hampir menguasai sebagian sisi utara kota.

Namun sayangnya, tak semua tenaga kerja bisa ditampung. Tak heran, jika banyak pemuda yang berpendidikan rendah memilih merantau ke kota besar. Banyak juga yang memilih hura-hura dengan bergerombol di pusat-pusat keramaian yang mulai menjamur. Dua pengamen itu tak sendirian, puluhan pengamen yang rata-rata masih muda juga terlihat mondar-mandir di sepanjang Jalan Doho.

Aku bersiap beranjak meninggalkan tempat dudukku. ''Sudah Sih, teh dan nasi campurnya berapa?''

''Tiga ribu Ro.''

Kurogoh saku celana dan kukeluarkan uang lima ribuan. ''Ini Sih, aku pamit ya?''

''Eh, kembaliannya belum, Ro!''

''Sudah nggak usah Sih, buat si kecil-mu saja, eh dia di mana sekarang?''

''Di rumah kontrakan Ro, adikku yang menjaga. Eh, kapan kamu balik ke Jakarta?''

''Mungkin besok malam Sih,'' jawabku penuh ketidakpastian, karena aku ragu, apakah di Jakarta aku masih bisa bekerja kembali.

''Matur nuwun banyak loh, Ro.''

''Sama-sama Sih,'' aku beringsut meninggalkan tempat itu. Tampak dua orang menggantikan tempat dudukku. Kulihat orang-orang yang bersila sambil melahap makanan di sepanjang trotoar kian bertambah.

Aku berjalan pelan menelusuri trotoar. Di ujung jalan, orang-orang yang lalu-lalang kian berkurang. Sampai di sebuah lorong pertigaan yang sepi dan lengang, aku merasakan keanehan. Seperti ada sesuatu yang mengikutiku. Benar saja, mendadak dua orang asing sudah berdiri di sampingku.

''Mas lihat dompetnya!'' perintah pria bertopi gelap sambil menodongkan pisau lipat.

''Maaf Mas, sampeyan salah alamat, saya nggak punya duit,'' ujarku membela diri.

''Sudahlah, jangan bohong, pengamen tadi bilang kamu baru pulang dari Jakarta, pasti banyak duit. Cepat keluarkan dompetnya!'' tukas lelaki yang satunya lagi.

Kurang ajar, jadi ini semua ulah para pengamen tadi, umpatku. Buru-buru aku menangkis pisau itu sambil memukul si topi gelap. Namun, penodong lainnya berhasil menghantam tengkukku dengan bata. Aku roboh mencium tanah. Belum sempat aku berdiri, sebuah tendangan keras mengenai wajahku.

Pelipisku sobek. Darah segar keluar. Aku pasrah saja ketika kedua orang itu mengambil dompet di celanaku. Samar-samar kudengar suara mereka, ''Yah sial, cuma lima belas ribu, kere juga dia!''

Beberapa menit berlalu, aku melangkah terhuyung-huyung sambil menutupi luka di pelipisku dengan kertas koran. Mataku sedikit berkunang-kunang. Aku menengadahkan wajah, langit semakin hitam kelam. Mendung gelap menutupi bintang dan rembulan. Dengan lampu-lampu yang bersinar di sudut-sudut jalan, Jalan Doho masih tetap saja temaram.

Kota Tahu, 2001 

Foto ilustrasi: Pixabay Oleh Endro Yuwanto Jalan Doho, pukul sepuluh malam. Langit kelam pekat menghitam, rembulan sembunyi di balik aw...
Menulis Indonesia 5 Apr 2020
Jedadulu

Ruang Tunggu Dokter Wiyoto (Cerpen)

Ruang tunggu dokter (Foto: Pixabay)

Oleh Endro Yuwanto

Lho, bukankah ini ruang tunggu dokter Wiyoto? Kucoba memperhatikan lebih seksama. Tak salah lagi, ini memang ruang tunggu dokter yang ramah itu. Tapi aku bingung, mengapa bisa sampai di sini. Sakit apa ya, aku?

Samar-samar aku ingat. O ya, mana piyama yang tadi aku kenakan, apakah aku tadi pingsan di kamar tidur, dan mungkin papa atau mama membawaku ke sini. Tapi, di mana mereka sekarang, mengapa aku ditinggalkan sendirian di sini? Aku tak habis pikir.

Mendadak aku merasa aneh, karena kursi yang kududuki terbuat dari kayu jati tua, padahal beberapa hari lalu ketika mengantar mama berobat di sini, kursi-kursi ini terbuat dari bahan plastik warna putih. Segera kusapu pandangan ke sekeliling ruangan. Aneh, dinding-dinding di ruangan ini tidak berwarna putih bersih, melainkan kuning menyala. Apalagi warna lantai keramik bukan putih susu, tetapi merah muda. Ini ruang tunggu dokter atau ruang pesta? Pikirku, heran.

Kulirik tulisan yang terpampang di pintu samping. Jelas di situ tertulis ‘dr Wiyoto’. Kualihkan pandangan ke meja kecil, persis dua langkah di depanku. Beberapa majalah remaja berserakan di atas meja. Lho apa nggak salah? Biasanya yang disediakan di ruang tunggu dokter adalah koran-koran dan juga majalah kesehatan. Apa ini memang ruang tunggu khusus remaja. Atau dokter Wiyoto memang sengaja memberikan aku bacaan-bacaan yang aku gemari?

Untuk lebih memastikan lagi, kuamati pasien-pasien yang duduk di sekitarku. Ada lima orang. Benar! Mereka semuanya seusia denganku. Mereka duduk kaku dengan pandangan kosong. Wajah mereka pucat seperti tak dialiri darah. Sepertinya aku pernah mengenal wajah-wajah itu, di mana ya?

Sekonyong-konyong pintu ruang periksa dokter terbuka, seorang perawat tua berwajah dingin keluar dari ruang periksa itu. Perawat tua?! Aneh, bukankah perawat dokter Wiyoto adalah Novita, gadis yang berwajah manis dan lembut itu. Di manakah dia?

‘’Saudari Ani dipersilakan masuk!’’ perintah perawat tua itu tanpa ekspresi.

Ani!? Kuperhatikan lebih teliti gadis yang baru saja masuk ke kamar periksa. Bukankah ia teman SMP-ku yang meninggal dunia karena penyakit leukemia? Bagaimana bisa sampai di sini?

Beberapa menit berlalu. Kulihat empat pasien lain masih menunggu giliran. Pelan-pelan aku sadar, tampaknya aku pernah mengenal mereka semua. Tia, Gina, Ririn, dan Marti. Tapi, bukankah mereka semua  sudah meninggal akibat kecelakaan bus dalam study tour  SMA beberapa tahun lalu? Gila, jangan-jangan aku sudah mati dan ini ruang tunggu untuk mengadili perbuatan kami selama di dunia. Bagaimana ini?

Tapi, tunggu dulu, bukankah ini hanya ruang tunggu dokter Wiyoto. Aku mulai was-was. Kualihkan pandangan ke luar lewat jendela kaca. Gelap sekali. Lho, apakah dokter Wiyoto buka praktek sampai tengah malam? Bukankah jam enam petang klinik ini sudah tutup? Dan lagi, mengapa di luar tidak seperti biasanya? Pedagang-pedagang kue dan tukang ojek tidak kelihatan sama sekali. Sunyi. Sunyi sekali

‘’Saudari Tia dipersilakan masuk!’’ tiba-tiba perawat tua itu sudah ada di samping kiriku. Tia berjalan kaku seperti robot yang digerakkan remote-control menuju ruang periksa. Namun, mengapa Ani belum keluar. Aku kian was-was. Ini ruang tunggu untuk apa?

Sampai pada giliran pasien kelima, semuanya telah masuk ruang periksa dan tak satu pun yang keluar lagi dari situ.  Aku merinding, bulu kudukku berdiri. Terlintas dalam pikiranku untuk meninggalkan ruang tunggu yang aneh, ganjil, dan menyeramkan itu. Astaga! Ternyata ruangan ini tidak berpintu! Hanya berjendela kaca. Satu-satunya pintu adalah yang dari tadi dibuka dan ditutup perawat tua itu. Bagaimana ini?

‘’Saudari Ester dipersilakan masuk!’’ perintah perawat tua dari balik ruangan. Mati aku!

Pelan-pelan kubuka pintu dan kulihat dokter Wiyoto sedang duduk serius di depan meja kerjanya. Di sampingnya, berdiri kaku perawat tua yang tadi memanggilku.

Pelan-pelan dan ragu-ragu, kuhampiri mereka. Selintas kulirik ranjang berwarna merah yang terletak di samping kiri meja dokter. Mengapa ranjang itu berwarna merah, bukannya putih? Dan ya ampun, alat-alat kedokteran macam apa ini? Di sisi ranjang berdiri meja panjang dan di atasnya tergeletak berbagai benda-benda tajam, seperti pisau, silet, gergaji, jarum sebesar pensil, dan gunting. Aku semakin merinding. Di ruang periksa ini tak nampak pintu keluar, hanya pintu yang menuju ruang tunggu. Jadi??!! Bagaimana aku bisa keluar dari sini?

‘’Saudari Ester silakan duduk!’’ dokter Wiyoto menyuruhku duduk. Lho, dokter Wiyoto kok berkacamata dan menghisap cerutu? Dan mukanya menyeringai seperti serigala? Jangan-jangan…, ragu-ragu kubaca kartu nama yang menempel di dadanya, ‘dr Wiyoto’. Benar, tapi kok lain?

Tiba-tiba dokter Wiyoto itu terbahak-bahak, sepertinya ia tahu kebimbanganku. Sekarang, nampaklah olehku, gigi dokter itu bertaring! Bergegas aku beranjak dari tempat dudukku. Aku harus menuju ruang tunggu dan terpaksa memecahkan kaca jendela untuk keluar. Namun, perawat tua mencekal lenganku. Dan entah dari mana datangnya, kelima pasien yang telah masuk ruangan ini tadi, turut memegangi tubuhku.

Aku mencoba berontak, tapi tak kuasa. Aku meronta-ronta. Berteriak-teriak minta tolong. Namun semua usahaku sia-sia. Aku pasrah ketika tubuhku diangkat tinggi-tinggi, dibanting sampai membentur lantai keramik. Darah segar keluar dari kepalaku, membasahi sekujur tubuhku, menggenangi lantai. Aku menjerit keras sekali, ‘’Aaaaaaakkkhhh!’’

Kukejap-kejapkan mata. Kuraba-raba seluruh tubuhku. Basah. Bukan darah! Tapi, ‘’Bangun Kak, sudah siang!’’ teriak adikku sambil memegang ember.

Srengseng Sawah, 1997

Ruang tunggu dokter (Foto: Pixabay) Oleh Endro Yuwanto Lho, bukankah ini ruang tunggu dokter Wiyoto? Kucoba memperhatikan lebih seksama...
Menulis Indonesia 4 Apr 2020