Kasih Sayang
Beranda ยป Berita ยป Ngeri, Hidup dengan Orang Toxic Bikin Cepat Tua, Apalagi Kalau dari Keluarga Sendiri!

Ngeri, Hidup dengan Orang Toxic Bikin Cepat Tua, Apalagi Kalau dari Keluarga Sendiri!

Hubungan yang sehat adalah investasi jangka panjang bagi kesehatan tubuh dan jiwa. Jika ada orang toxic di sekitar, jangan ragu untuk menjaga jarak demi kebaikan diri sendiri.
Hubungan yang sehat adalah investasi jangka panjang bagi kesehatan tubuh dan jiwa. Jika ada orang toxic di sekitar, jangan ragu untuk menjaga jarak demi kebaikan diri sendiri. (Foto: Ilustrasi)

JEDADULU.COM — Pernah merasa stres berat setelah berinteraksi dengan seseorang? Hati-hati, karena menurut studi terbaru yang dipublikasikan pada Sabtu (21/2/2026), hubungan dengan orang toxic tidak hanya mengganggu mental, tapi juga bisa mempercepat penuaan biologis tubuh.

Efeknya bahkan lebih parah jika si toxic adalah orang terdekat seperti keluarga atau pasangan. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America (PNAS) ini melibatkan lebih dari 2.300 responden di Indiana, Amerika Serikat.

Peneliti utama Byungkyu Lee dari New York University menggunakan metode metilasi DNA melalui sampel air liur untuk mengukur usia biologis partisipan, bukan sekadar usia kronologis.

Hasil Penelitian: 1,5 Persen Lebih Cepat Tua per Orang Toxic

Responden diminta mengidentifikasi individu dalam lingkaran sosial mereka yang dianggap sebagai hasslersโ€”orang yang sering menimbulkan stres dan kesulitan.

Jangan Sampai Salah, Kurang atau Kebanyakan Minum Ternyata Sama-sama Bisa Bunuh Kamu Pelan-Pelan!

Hasilnya, 28,8 persen responden mengaku memiliki setidaknya satu orang toxic dalam hidupnya. Sekitar 10 persen bahkan memiliki dua orang atau lebih. Perempuan tercatat lebih banyak melaporkan memiliki relasi bermasalah dibanding laki-laki.

Peneliti menemukan bahwa setiap satu orang toxic berkaitan dengan percepatan penuaan sebesar 1,5 persen. Rata-rata, usia biologis mereka yang hidup dengan relasi toxic tercatat sembilan bulan lebih tua dibanding orang dengan usia sama yang tidak memiliki relasi semacam itu.

Selain membuat usia biologis lebih tua, keberadaan orang toxic juga dikaitkan dengan peningkatan peradangan (inflamasi) dalam tubuh. Peradangan kronis sendiri merupakan pemicu berbagai penyakit degeneratif.

Bagaimana jika Si Toxic adalah Keluarga atau Pasangan?

Pertanyaan besarnya, bagaimana jika orang toxic itu justru orang terdekat seperti orang tua atau pasangan? Studi ini menemukan bahwa dampaknya paling kuat jika orang toxic berasal dari keluarga atau pasangan.

Gak Cuma Melek Teknologi! Suami Gen Z Ternyata Lebih Jago Atur Keuangan Keluarga

Menariknya, pada pasangan, efeknya relatif lebih kecil dibanding keluarga. Peneliti menduga hal ini karena meskipun ada konflik, pernikahan tetap memberi manfaat sosial tertentu, seperti mengurangi rasa kesepian.

Dengan kata lain, ikatan perkawinan masih memberikan “efek penyangga” yang sedikit mengurangi dampak negatif dari konflik.

Namun, jika pasangan adalah sumber stres utama, tetap saja akan berdampak buruk pada kesehatan. Sebuah studi dari University of Michigan menyebutkan bahwa pasangan yang sering bertengkar dapat memicu peningkatan hormon kortisol yang merusak sistem kekebalan tubuh.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Peneliti utama Byungkyu Lee menegaskan bahwa temuan ini menunjukkan pentingnya menjaga jarak dari hubungan yang penuh tekanan. “Studi ini menunjukkan bahwa menjaga jarak dari hubungan yang penuh tekanan dapat menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan dan memperlambat proses penuaan,” tulisnya.

Hati-Hati! Ahli Gizi IPB Ingatkan Efek Kafein Kopi dan Teh Saat Puasa, Bisa Bikin Lemas

Jika orang toxic adalah anggota keluarga, langkah yang bisa dilakukan antara lain:

  1. Membangun batasan (boundaries) yang sehat โ€“ Tidak semua hal harus dibagikan atau didiskusikan.
  2. Mengurangi frekuensi interaksi โ€“ Jika memungkinkan, batasi pertemuan.
  3. Mencari dukungan eksternal โ€“ Konselor atau psikolog dapat membantu mengelola stres akibat hubungan toxic.
  4. Fokus pada hubungan positif โ€“ Perbanyak waktu dengan orang-orang yang memberikan energi positif.

Psikolog klinis dari American Psychological Association menyarankan untuk melakukan “detoksifikasi sosial” secara berkala, yaitu menjauh sementara dari lingkungan yang beracun untuk memulihkan kesehatan mental dan fisik.

Intinya, hubungan yang sehat adalah investasi jangka panjang bagi kesehatan tubuh dan jiwa. Jika ada orang toxic di sekitar, jangan ragu untuk menjaga jarak demi kebaikan diri sendiri.

(Berbagai Sumber)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *