Kasih Sayang
Beranda ยป Berita ยป Tips Bertahan dari Pola Asuh Orang Tua Toxic: Memulihkan Diri yang Terluka

Tips Bertahan dari Pola Asuh Orang Tua Toxic: Memulihkan Diri yang Terluka

Tips Bertahan dari Pola Asuh Orang Tua Toksik: Memulihkan Diri yang Terluka
Tips Bertahan dari Pola Asuh Orang Tua Toksik: Memulihkan Diri yang Terluka

JEDADULU.COM — Hubungan antara anak dan orang tua sering kali dianggap sebagai hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Namun dalam kenyataannya, tidak semua hubungan keluarga berjalan dengan sehat dan mendukung kesejahteraan emosional.

Sebagian individu tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dipenuhi konflik, manipulasi, atau perilaku yang merugikan secara psikologis. Dalam situasi seperti ini, penting bagi anakโ€”terutama ketika telah dewasaโ€”untuk memahami bagaimana menghadapi orang tua yang memiliki perilaku toxic.

Hal pertama dan paling penting yang perlu disadari oleh anak dewasa yang memiliki orang tua toxic adalah bahwa mereka hanya bisa mengendalikan perilaku mereka sendiri. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengubah atau mengontrol perilaku yang dipilih oleh orang tua mereka.

Menyadari dan menerima bahwa orang tua tersebut bersifat toxic serta tidak memiliki keinginan untuk berubah dapat memberi seseorang kebebasan untuk mulai memikirkan kebutuhan dirinya sendiri. Dengan memahami hal ini, seseorang dapat menentukan bentuk hubungan yang paling sesuai dengan kebutuhan emosionalnya dan menghindari paparan sikap negatif, permusuhan, serta perilaku toksik hanya demi mencoba โ€œmemperbaikiโ€ situasi.

Banyak anak dewasa yang menceritakan pengalaman mereka memiliki orang tua yang:

Awas, Kebanyakan Scroll Medsos, Remaja Bisa Alami FOMO dan Gangguan Tidur!

  • Meremehkan atau menghina pasangan hidup anaknya.
  • Tidak menghargai pilihan karier atau pencapaian pekerjaan anaknya.
  • Memaksakan nilai dan pandangan mereka kepada cucu, sehingga melemahkan cara anak mereka mendidik anaknya sendiri.
  • Menganggap diri sebagai korban dengan menyalahkan anak atas kesulitan keuangan mereka, sambil mengingatkan tentang โ€œpengorbanan besarโ€ yang pernah mereka lakukan.
  • Mengkritik atau bahkan merusak keputusan anak terkait pekerjaan, perubahan karier, membuka usaha (โ€œItu cuma akal-akalan pajakโ€), atau membeli rumah (โ€œUntuk apa punya rumah kalau belum menikah?โ€). Hal ini sering membuat anak merasa cemas, ragu pada diri sendiri, dan bingung.
  • Sengaja membuat drama untuk mencari perhatian, biasanya karena merasa kesepian atau tidak puas dengan kehidupan mereka sendiri.

Seseorang yang memiliki orang tua yang toxic sering mengalami perasaan seperti cemas, sedih, atau marah karena merasa dimanipulasi, ditekan, atau dipermalukan. Konflik dalam keluarga sering menimbulkan emosi yang sangat kuat dan dapat bertahan dalam waktu lama.

Jika seseorang sudah lelah terus-menerus diremehkan, maka saatnya mulai membela diri. Ada beberapa cara yang dapat membantu menghadapi perilaku orang tua seperti ini.

  1. Ingat bahwa Orang Tua Juga Memiliki Keterbatasan

Cobalah melihat orang tua sebagai manusia yang memiliki keterbatasan. Dengan cara ini, seseorang tidak akan terlalu mengambil hati perkataan atau tindakan mereka.

Oleh karena itu, perilaku orang tua yang kasar atau merendahkan mungkin saja dipengaruhi oleh pengalaman atau luka yang mereka bawa dari masa lalu. Dengan memahami kemungkinan tersebut, seseorang dapat melihat situasi dengan sudut pandang yang lebih tenang tanpa harus selalu membenarkan perilaku yang menyakitkan.

Menetapkan batasan yang jelas mengenai apa yang dapat diterima dan apa yang tidak dapat diterima juga sangatlah penting. Batasan ini harus disampaikan dengan tegas. Selain itu, membatasi frekuensi kontak dengan orang tua dapat membantu menjaga agar waktu bersama tetap positif dan lebih sehat.

Jangan Asal Simpan di Kulkas! 4 Makanan Segar Ini, Termasuk Tomat dan Pisang, Malah Cepat Busuk

  1. Sadari Nilai Diri Sendiri

Penting untuk menyadari nilai diri sendiri (Know Your Value atau KYV). Salah satu caranya adalah dengan membuat daftar tentang hal-hal baik dalam diri sendiri, seperti kemampuan yang dimiliki, kebaikan yang pernah dilakukan kepada orang lain, serta pencapaian yang membuat diri sendiri bangga.

Anda tidak harus menghabiskan setiap hari libur atau acara penting bersama orang tua. Sebaliknya, habiskan waktu dengan orang-orang yang membawa energi positif, membuat Anda merasa dihargai, dan mendukung Anda untuk terus menjadi pribadi yang baik.

Menyadari hal-hal tersebut dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri dan penghargaan terhadap diri sendiri. Hal ini bukan bentuk kesombongan, tetapi cara untuk belajar mencintai diri sendiri. Mengakui hal-hal baik dalam diri sendiri membutuhkan keberanian, terutama jika seseorang tumbuh dengan orang tua yang sering meremehkannya.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah menjaga praktik perawatan diri (self-care). Individu tidak harus merasa berkewajiban untuk selalu menghabiskan waktu bersama orang tua, terutama jika hal tersebut berdampak buruk pada kesehatan mentalnya. Sebaliknya, seseorang dapat memilih untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang yang memberikan dukungan positif, menghargai dirinya, serta mendorong perkembangan pribadi yang sehat.

Merawat diri sendiri juga berarti memberi ruang bagi emosi yang mungkin muncul akibat pengalaman masa lalu. Banyak individu yang dibesarkan oleh orang tua toksik membawa luka emosional yang mendalam, yang kadang baru disadari ketika mereka telah dewasa.

Jalan Kaki: Olahraga “Santuy” tapi Ampuh! Cukup 30 Menit Sehari, Jantung Sehat, Gula Darah Stabil

  1. Lepaskan Pengaruh Buruk dari Masa Lalu

Pengalaman masa kecil sering meninggalkan โ€œjejak emosionalโ€ yang memengaruhi cara seseorang berpikir dan bertindak ketika dewasa. Hal ini sering terjadi ketika cinta dari orang tua terasa bersyarat, misalnya hanya diberikan ketika anak memenuhi harapan tertentu.

Sebagai contoh, pernah terlihat seorang pria muda yang berjalan bersama pasangannya di luar bioskop. Tiba-tiba pria tersebut memarahi pasangannya dengan nada merendahkan. Pasangannya hanya menunduk dan terlihat tidak nyaman.

Kemungkinan pria tersebut terbiasa diperlakukan dengan cara seperti itu oleh orang tuanya ketika masih kecil, sehingga tanpa sadar ia mengulangi pola yang sama dalam hubungannya.

Sering kali seseorang tidak menyadari bahwa cara menghadapi konflik, kebutuhan akan ruang pribadi, atau cara berbicara dalam hubungan dipengaruhi oleh pola yang dipelajari dari orang tua saat masa kecil.

Misalnya, seseorang mungkin dianggap โ€œberhargaโ€ hanya jika mendapat nilai bagus di sekolah, atau disebut โ€œtidak bertanggung jawabโ€ jika nilainya buruk. Bisa juga ia sering dibandingkan dengan saudara lain atau dianggap terlalu memikirkan diri sendiri.

Kabar baiknya, semakin seseorang memahami dan menghargai nilai dirinya sendiri, semakin kecil pengaruh pengalaman negatif dari masa lalu terhadap kehidupannya sekarang.

Berbicara dengan terapis atau konselor juga dapat sangat membantu untuk memahami dampak yang ditimbulkan oleh orang tua toksik dalam kehidupan Anda, sekaligus mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk mengelola hubungan tersebut di masa depan.

Melalui proses terapi, seseorang dapat memahami bagaimana pengalaman masa lalu memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri, membangun hubungan dengan orang lain, serta menghadapi konflik emosional. Selain itu, terapi juga dapat membantu individu mengembangkan strategi yang lebih efektif dalam mengelola hubungan dengan orang tua di masa depan.

Pada akhirnya, menghadapi orang tua toksik bukanlah proses yang mudah dan sering kali membutuhkan waktu yang panjang. Namun dengan kesadaran diri, penetapan batasan yang sehat, serta komitmen untuk merawat diri sendiri, individu dapat membangun kehidupan yang lebih stabil secara emosional.

Proses ini bukan hanya tentang mengatasi masa lalu, tetapi juga tentang menciptakan masa depan yang lebih sehat dan penuh makna.

*) Sumber:

Bernstein, J. (n.d.). If you have toxic parents, read this: How knowing your worth stops you from feeling devalued. Psychology Today.

Gaba, S. (n.d.). Tips for managing toxic parents: Five signs that your parents may be toxic. Psychology Today.

Gaba, S. (n.d.). How to Handle Toxic Parents. Psychology Today.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *