Ulas Dulu
Beranda ยป Berita ยป Meski Populer Tes Kepribadian MBTI Sebenarnya Diragukan Komunitas Ilmiah

Meski Populer Tes Kepribadian MBTI Sebenarnya Diragukan Komunitas Ilmiah

Meski Populer Tes Kepribadian MBTI Sebenarnya Diragukan Komunitas Ilmiah
Meski Populer Tes Kepribadian MBTI Sebenarnya Diragukan Komunitas Ilmiah. (Sumber: Psychology Today.com)

Oleh Damar Pratama
(Mahasiswa Jurusan Psikologi Program Sarjana Magister (Sarmag) Universitas Gunadarma Depok)

Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) dikembangkan oleh Katharine Cook Briggs dan putrinya, Isabel Briggs Myers, yang keduanya tidak memiliki latar belakang formal di psikometri atau penilaian psikologis. Briggs berlatar pendidikan pertanian, sementara Myers mempelajari ilmu politik.

MBTI didasarkan pada teori tipe kepribadian Carl Jung, seorang psikoanalis yang sering dianggap kontroversial dalam dunia psikologi akademik karena pandangannya yang bersifat mistik dan tidak ilmiah.

MBTI membagi individu menjadi 16 tipe kepribadian. Namun, banyak psikolog berpendapat bahwa kepribadian manusia lebih baik dijelaskan melalui sifat yang kontinu, bukan kategori kaku. Data skor MBTI menunjukkan distribusi yang sebagian besar berada di tengah, bukan di ujung skala, sehingga pertanyaan tentang validitas kategorinya muncul.

Masalah Keandalan dan Validitas MBTI Reliabilitas yang Rendah

Dapur Lebih Estetis dan Fungsional, Ini Cara Tepat Renovasi Backsplash di Rumah

Sebuah tes dikatakan andal jika hasilnya konsisten dari waktu ke waktu atau dinilai oleh orang yang mengenal subjek dengan baik.

MBTI gagal memenuhi kriteria ini. Penelitian menunjukkan hingga 75% peserta mendapatkan tipe berbeda saat dites ulang, bahkan jeda lima minggu saja bisa membuat kemungkinan hasil berbeda mencapai 50%.

Data MBTI di Amerika menunjukkan anomali, dengan beberapa tipe jarang muncul (misal ENTJ, INFP), sementara tipe lain tampak lebih dominan. Distribusi ini tidak seimbang dan menunjukkan bias budayaโ€”respon ekstraversi sering lebih dipengaruhi norma sosial daripada tipe asli individu.

Validitas Dipertanyakan

Tes yang valid seharusnya mampu memprediksi hasil penting, misalnya kinerja kerja atau efektivitas tim. Studi menunjukkan bahwa tipe MBTI tidak secara konsisten memengaruhi kesuksesan pekerjaan atau kemampuan manajerial. Penelitian oleh William Gardner dan Mark Martinko menunjukkan hubungan yang lemah dan tidak konsisten antara tipe MBTI dan efektivitas manajerial.

Novel Dunia di Balik Layar: Potret Sunyi tentang Ketimpangan dan Pencarian Makna Hidup

  • Kategori Tidak Eksklusif

MBTI menggabungkan sifat yang seharusnya independen. Misalnya, berpikir dan merasa dianggap saling berlawanan, padahal keduanya bisa muncul bersamaan. Begitu pula dengan orientasi sosial dan pengelolaan emosi, yang sebenarnya kompleks dan terpisah.

  • Tes Tidak Komprehensif

    MBTI tidak mencakup faktor penting seperti stabilitas emosional versus reaktivitas, yang merupakan prediktor utama pola pikir dan perilaku. Beberapa sifat lain, seperti ketekunan dan dorongan pencapaian, juga tidak dimasukkan. Bahkan dimensi introversi-ekstraversi tidak sepenuhnya akurat karena banyak orang bersifat ambivert.

    Ketika membandingkan MBTI dengan sistem socionics, muncul perbedaan menarik dalam cara tipe kepribadian didistribusikan di populasi.

    Sosionik (Socionics) adalah teori kepribadian dan pemrosesan informasi yang dikembangkan oleh Aushra Augustinavichiute pada 1970-an, yang membagi manusia ke dalam 16 tipe kepribadian berdasarkan cara menerima dan memproses informasi. Sistem ini, sering dibandingkan dengan MBTI, berfokus pada tipe kepribadian, metabolisme informasi, dan dinamika hubungan antartipe

    Socionics, seperti MBTI, membagi orang menjadi 16 tipe kepribadian, tetapi sistem ini memiliki struktur tambahan yang disebut quadra, yaitu empat tipe yang dikelompokkan bersama berdasarkan karakteristik dan pola interaksi mereka.

    Gokil, Keyboard Samsung Galaxy Tab S11 Ultra Pro Ini Bikin Tablet Rasanya Kayak Laptop Beneran, tapi Harganya Bikin Mikir Keras!

    Dalam data statistik dari Amerika Serikat, distribusi orang ke dalam quadra ini relatif merata, sekitar 25% untuk setiap quadra, yang menunjukkan bahwa model ini cukup konsisten ketika melihat kelompok besar orang. Artinya, jika kita hanya melihat level quadra, socionics berhasil menangkap distribusi tipe secara realistis.

    Namun, jika kita melihat lebih rinci pada dual dyad, yaitu pasangan tipe yang dianggap saling melengkapi atau memiliki hubungan khusus dalam socionics, distribusi mulai menunjukkan ketidaksesuaian. Penyimpangan ini bisa mencapai sekitar 20%, terutama pada tipe introvert intuitif, seperti INTP atau INFJ.

    Hal ini terjadi karena banyak orang menyesuaikan diri dengan norma sosial atau ekspektasi budaya, sehingga perilaku yang mereka tunjukkan dalam tes kepribadian cenderung lebih ekstrovert daripada sifat asli mereka.

    Akibatnya, orang-orang ini sering salah dikategorikan, atau dalam istilah teknis disebut misklasifikasi. Dengan kata lain, hasil tes tidak selalu mencerminkan tipe kepribadian yang sebenarnya, melainkan lebih dipengaruhi oleh bagaimana orang ingin terlihat atau menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya.

    Hal yang sama juga terlihat ketika data MBTI digunakan untuk menganalisis kompatibilitas pernikahan di Amerika Serikat. Statistik menunjukkan bahwa pasangan sering terbentuk secara hampir acak; tidak ada pola jelas yang menunjukkan bahwa tipe tertentu lebih cocok satu sama lain.

    Ini berbeda jauh dengan temuan dalam socionics, di mana pasangan yang terbentuk biasanya mengikuti pola yang diharapkan oleh teori, yaitu cenderung dual dyad atau berada dalam intraquadral yang sama.

    Temuan ini menunjukkan bahwa MBTI, meskipun populer, tidak selalu memberikan informasi yang akurat tentang kecocokan kepribadian dalam hubungan atau interaksi manusia yang lebih kompleks.

    Sementara socionics, dengan struktur teoritis yang lebih rinci dan empiris, mampu menangkap pola hubungan dan kompatibilitas dengan lebih konsisten, karena memperhitungkan dinamika internal tiap tipe dan interaksi mereka secara lebih mendalam.

    Secara sederhana, perbandingan ini menunjukkan bahwa meskipun MBTI bisa memberi gambaran kasar tentang tipe kepribadian seseorang, sistem ini mudah terpengaruh oleh faktor sosial dan budaya, sehingga distribusi statistik dan prediksi hubungan menjadi kurang akurat.

    Socionics, dengan pendekatan yang lebih terstruktur dan memperhatikan pola interaksi antar tipe, memberikan wawasan yang lebih realistis dan dapat diandalkan, terutama ketika digunakan untuk memahami dinamika hubungan dan kompatibilitas antar individu.

    Mengapa MBTI Masih Populer?

    Menurut psikolog Murphy Paul, popularitas MBTI didorong oleh dua hal:

    Pertama, banyak orang telah menginvestasikan waktu dan uang untuk menjadi pelatih MBTI, sehingga sulit melepaskan komitmen.

    Kedua, tes ini memberikan momen โ€œahaโ€ yang membuat orang merasa memahami diri mereka sendiri.

    Namun, seperti dicatat Brian Little, pengalaman ini sering menimbulkan keraguan tentang reliabilitas dan validitasnya, mirip menilai selera anggur atau kenyamanan topi.

    Alternatif Ilmiah: Big Five dan HEXACO

    Para psikolog telah mengembangkan model yang lebih ilmiah: Big Five Personality Traits, yang mencakup:

    Ekstroversi

    Stabilitas emosional

    Keramahan

    Ketelitian

    Keterbukaan pengalaman

    Big Five memiliki reliabilitas tinggi, mampu memprediksi kinerja dan efektivitas tim, serta memiliki dasar biologis dan genetik. Model HEXACO menambahkan sifat keenam: kejujuran-kerendahan hati.

    Adam Grant Ph.D. menekankan bahwa empat huruf MBTI tidak cukup untuk menggambarkan identitas seseorang. Pemimpin, konsultan, konselor, pelatih, dan guru disarankan memahami bahwa kepribadian manusia lebih kompleks daripada sekadar MBTI.

    Meskipun MBTI bisa membantu refleksi diri dan meningkatkan komunikasi, Dr. Derek Chapman memperingatkan bahwa tes ini sebaiknya digunakan dengan sadar di konteks kerja dan bukan sebagai alat seleksi tunggal. Shawn Bakker menambahkan bahwa MBTI dirancang untuk memahami preferensi individu, bukan mengevaluasi keterampilan atau kualifikasi kerja.

    MBTI dapat memberikan wawasan menarik tentang kepribadian, namun keandalannya rendah, validitasnya dipertanyakan, dan kategorinya terlalu kaku. Untuk tujuan ilmiah dan prediksi kinerja, model seperti Big Five atau HEXACO lebih direkomendasikan.

    MBTI tetap populer karena mudah digunakan dan menawarkan pengalaman refleksi diri, tetapi para profesional biasanya lebih berhati-hati agar tidak menyalahgunakan hasilnya. Kepribadian manusia jauh lebih kompleks daripada empat huruf, dan pengukuran yang akurat membutuhkan pendekatan ilmiah dan holistik.

    * Sumber:

    Bukalov, A. V. (n.d.). Is the American statistics of types and intertype relations under MBTI reliable? International Institute of Socionics. Diakses dari https://socionic.info

    Muller, R. T. (2016). Talking about trauma: Myers-Briggs, the persistent appeal of the Myers-Briggs personality test, a case of “close enough”.

    Johnson, J. A. (2016.). Cui bono: Myers-Briggs, are scores on the MBTI totally meaningless?

    Grant, A. (2013, September 18). Give and take: Myers-Briggs โ€“ Goodbye to MBTI, the fad that wonโ€™t die. MBTI, I’m breaking up with you. It’s not me. It’s you. Reviewed by L. Ma.

    Komentar

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *