JEDADULU.COM– Merasa seperti โpenipuโ meskipun sudah sukses adalah pengalaman yang jauh lebih umum daripada yang dibayangkan banyak orang. Banyak orang mengira rasa tidak percaya diri seperti ini hanya dialami oleh mereka yang kurang kompeten, padahal penelitian justru menunjukkan bahwa fenomena tersebut paling sering muncul pada orang-orang berprestasi tinggi.
Fenomena ini sering disebut sebagai impostor syndrome atau impostor phenomenon, yaitu kondisi ketika seseorang merasa keberhasilannya bukan hasil kemampuan nyata, melainkan keberuntungan, kebetulan, atau penilaian orang lain yang dianggap keliru. Ironisnya, meskipun sudah menerima banyak bukti keberhasilan, perasaan itu tetap bertahan.
Menurut Psikolog Adi Jaffe dalam artikelnya The Hidden Cost of Imposter Syndrome and How to Break Free, banyak orang sukses justru terjebak dalam impostor syndrome karena terbiasa menyembunyikan keraguan diri. Semakin besar tanggung jawab, semakin tinggi posisi, dan semakin besar tekanan yang dihadapi, semakin besar pula kemungkinan seseorang merasa dirinya sebenarnya tidak sepantas itu berada di posisi tersebut.
Salah satu alasan mengapa kondisi ini sulit diatasi adalah karena banyak orang mencoba melawannya dengan cara yang justru memperkuatnya. Ketika rasa ragu muncul, kebanyakan orang berusaha menyembunyikannya secepat mungkin. Mereka memasang wajah tenang, menjaga nada bicara tetap stabil, dan berusaha terlihat sepenuhnya percaya diri. Dari luar, mereka tampak terkendali dan profesional. Namun di dalam diri mereka, tekanan terus berjalan tanpa pernah benar-benar diproses.
Masalahnya, menyembunyikan kecemasan tidak membuat kecemasan hilang. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang terus menekan ekspresi emosinya tetap merasakan stres yang sama, bahkan sering kali lebih berat, hanya saja tanpa terlihat dari luar. Ibarat rumah yang terbakar tetapi pemiliknya memilih tidak memanggil pemadam kebakaran karena takut tetangga melihat ada masalah. Api tetap menyala, hanya saja tersembunyi.
Selain melelahkan secara emosional, usaha mempertahankan citra โbaik-baik sajaโ juga menghabiskan energi mental yang besar. Otak yang sebenarnya sudah sibuk menghadapi tekanan kini harus bekerja dua kali lebih keras untuk memastikan tidak ada seorang pun yang menyadari adanya keraguan di dalam diri. Akibatnya, kemampuan berpikir jernih justru menurun pada saat seseorang paling membutuhkannya.
Fenomena ini sering berakar dari pengalaman masa kecil atau lingkungan yang mengajarkan bahwa menunjukkan kelemahan adalah sesuatu yang memalukan. Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka harus selalu terlihat kuat, tenang, dan mampu mengendalikan diri dalam segala situasi. Lama-kelamaan, sikap tersebut tidak lagi terasa seperti strategi, melainkan menjadi bagian dari identitas diri. Mereka mulai percaya bahwa menjadi โkuatโ berarti tidak pernah memperlihatkan keraguan.
Padahal, justru kebiasaan menyembunyikan rasa takut itulah yang membuat impostor syndrome terus bertahan. Ketika seseorang selalu terlihat tenang, orang lain tidak pernah tahu bahwa ia sebenarnya membutuhkan dukungan atau kepastian. Akibatnya, ia kehilangan kesempatan menerima umpan balik yang bisa membantu pikirannya memahami bahwa dirinya memang layak berada di posisi tersebut.
Dalam lingkungan kerja, terutama pada posisi kepemimpinan, pola ini juga bisa menular. Seorang pemimpin yang selalu terlihat sempurna dan tidak pernah menunjukkan keraguan secara tidak langsung mengirim pesan kepada tim bahwa rasa takut atau ketidakpastian adalah sesuatu yang tidak boleh diperlihatkan. Akibatnya, anggota tim mulai menyembunyikan masalah, enggan mengakui kesalahan, dan hanya berbicara ketika situasi sudah menjadi krisis.
Karena itu, solusi terhadap impostor syndrome bukanlah memaksa diri untuk โlebih percaya diriโ atau menghilangkan rasa takut sepenuhnya. Perasaan ragu sebenarnya adalah respons alami otak ketika menghadapi situasi penting yang penuh tekanan. Yang perlu diubah adalah cara seseorang merespons perasaan tersebut.
Langkah pertama adalah belajar mengenali dan menyebutkan perasaan secara spesifik. Bukan sekadar mengatakan โsaya stres,โ tetapi memahami sumber ketidaknyamanan itu dengan lebih jelas. Penelitian menunjukkan bahwa memberi nama yang tepat pada emosi dapat membantu menenangkan respons ancaman di otak.
Langkah kedua adalah melihat keraguan sebagai informasi, bukan sebagai vonis. Perasaan takut tidak selalu berarti seseorang tidak kompeten. Terkadang itu hanya tanda bahwa situasi yang dihadapi memang penting dan memiliki konsekuensi besar.
Langkah ketiga adalah berhenti menutup diri sepenuhnya. Seseorang tidak harus membongkar semua emosinya di depan umum, tetapi membiarkan setidaknya satu orang terpercaya melihat kondisi sebenarnya dapat mengurangi tekanan yang sangat besar. Bahkan satu kalimat jujur seperti โSaya sedang meragukan keputusan ini dan ingin memikirkannya bersamaโ bisa membuka ruang dukungan yang selama ini tertutup.
Pada akhirnya, merasa seperti penipu bukan berarti seseorang benar-benar tidak layak. Dalam banyak kasus, itu justru tanda bahwa seseorang peduli terhadap pekerjaannya dan memahami besarnya tanggung jawab yang sedang dihadapi. Yang membuat perasaan itu menjadi permanen bukanlah rasa takutnya sendiri, melainkan kebiasaan menyembunyikannya terus-menerus di balik topeng ketenangan.
Kekuatan sejati bukan berarti tidak pernah merasa ragu. Kekuatan yang sebenarnya adalah kemampuan untuk mengenali ketakutan tersebut dengan jujur, memahami maknanya, dan tetap terbuka terhadap dukungan serta hubungan dengan orang lain.
Sumber:
Jaffe, A. (2026). The Hidden Cost of Imposter Syndrome and How to Break Free. Psychology Today โ All About Addiction.
(Editor: Damar Pratama)

Komentar