Menu
Jedadulu

Tantangan Timeline Sejarah Alternatif: Kesultanan Demak Bertahan di Abad Ke-20 dan Gabung ke Blok Sentral

Kerajaan Demak. (foto: belajarsosial.com)


Pada tahun 1546 Sultan Trenggono wafat dan tampuk kekuasaan dipegang oleh Sunan Prawoto, anak Trenggono, sebagai raja Demak keempat. Akan tetapi pada tahun 1547 Sunan Prawoto dan istrinya dibunuh oleh Rungkud, pengikut Pangeran Arya Penangsang, putra Pangeran Surowiyoto.

Pangeran Arya Penangsang adalah Adipati Jipang pada waktu itu. Ia adalah murid terkasih dari Sunan Kudus. Diceritakan bahwa pengikut Arya Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri, penguasa Jepara atau Kalinyamat (suami Ratu Kalinyamat). Hal ini menyebabkan adipati-adipati di bawah Demak memusuhi Arya Penangsang, salah satunya adalah menantu Sultan Trenggono, yakni Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya.

Puncak dari peristiwa ini, Arya Penangsang mampu bertahan dari serangan Pajang berkat tata kelola militer dan persiapan persenjataan yang jauh lebih baik. Ia memproduki lebih banyak meriam Cetbang yang biasanya diimpor dari Malaka. Arya Panangsang juga mengirim balik Sutawijaya anak angkat Joko Tingkir yang tergabung dalam Pasukan Pajang saat menyerang Jipang, untuk berkhianat dan melawan balik ayah angkatnya dengan iming iming harta, selir, dan kedudukan sebagai Adipati Pajang, menggantikan ayahnya yang akan dia bunuh dengan syarat mengkhianati Joko Tingkir demi Demak Jipang.

Arya Panangsang mampu mempertahankan Demak dan mengagalkan berdirinya Kesultanan Pajang di bawah Joko Tingkir dengan memanfaatkan keserakahan anak angkat Joko Tingkir.

- Abad Ke-18 Kesultanan Demak Raya

Setelah kematian Arya Panangsang, suksesi Demak mengalami banyak permasalahan internal, korupsi, dan kestabilan politik yang melemah. Meski begitu Demak bangkit menjadi negara dengan armada laut terkuat di Nusantara.

Melihat berbagai ancaman kolonialis Eropa di Asia Tenggara, orang orang Demak mengembangkan angkatan laut mereka (Jong Java) dan membuat berbagai industri senjata api seperti Cetbang dan Musketer yang diekspor ke Malaka dan Kesultanan Aceh. Namun orang orang Demak merasa tetap tertinggal dari orang orang Eropa. Belum lagi trauma rasa pahit kelahan Demak bersama Armada Gabungan Kesultanan Nusantara pada Ekspedisi Malaka 2 yang gagal merebut kembali Malaka dan membuat Adipati Unus tewas. Kesultanan Demak ingin mengembangkan persenjataan modern dan taktik yang lebih sistematik.

Ketika Demak sedang pada puncak kejayaannya dengan wilayah yang mencakup Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan sebagian Nusa Tenggara, Kongsi Dagang Belanda VOC mengembangkan wilayah kekuasaannya dengan mendirikan kekuasaannya di wilayah Kesultanan Banten. Upaya pengembangan wilayah kekuasaan tersebut yang tercatat pada tahun 1603 Masehi. Pada masa itu, Banten mengizinkan VOC untuk menyandarkan kapal miliknya, mendirikan kantor-kantornya, hingga mengizinkan untuk mendirikan benteng pertahanannya di wilayah Banten tersebut.

VOC semula menjalankan pusat pemerintahannya di wilayah Kepulauan Maluku, dikarenakan Maluku merupakan tempat pembuatan rempah-rempah. Akan tetapi, VOC lantas melakukan pemindahan pusat pemerintahannya di wilayah Jayakarta, hal tersebut telah direfleksikan matang-matang.

Pasalnya, wilayah Maluku sebagai tempat pembuatan rempah-rempah kurang strategis untuk didatangi oleh kapal-kapal dagang karena tempat itu jauh dari jalur perdagangan Asia. Sedangkan, di wilayah Jayakarta yang terletak di daerah barat, sangat strategis dan ideal dekat dengan jalur perdagangan Asia, menjadi tempat yang sangat didambakan oleh kongsi-kongsi dagang manapun.

Saat itu, Jan Pieterszoon Coen sebagai Gubernur Jenderal VOC yang keempat telah mendambakan Jayakarta. Sebab Jayakarta-lah tempat yang sangat strategis dan berada di kawasan jalur perdagangan Asia.

Sultan Demak saat itu meminta VOC mengajari pemuda pemudi Demak sistem korps dan taktik militer modern awal yang lebih efektif dan meminta mereka memberikan pendidikan Eropa. Sebagai gantinya beras Demak dan impor barang-barang manufaktur serta tekstil menjadi monopoli VOC. Semua pelabuhan di pantai utara sampai ujung paling timur Pulau Jawa harus digadaikan kepada VOC.

- Trunojoyo

Lantaran merasa Demak tertinggal dari negara negara Eropa, Sultan Demak juga membuka negaranya untuk industrialisasi dan mengizinkan kedatangan pekerja Belanda untuk bekerja di pabrik pabrik Demak di sektor sektor yang tak mampu dikelola oleh orang Jawa Demak. Perlahan lahan posisi orang orang Belanda di pabrik-pabrik Demak tersebut digantikan orang Demak asli.

Karena Sultan merasa Demak tertinggal dari negara negara Barat, Sultan Demak mencanangkan Revolusi Jipang atau Pembaruan Jipang, sebuah upaya jangka panjang yang dilakukan Kesultanan Demak untuk mengikuti Revolusi Industri dan Merkantilisme di Eropa agar dapat bersaing melawan bangsa bangsa Barat dan ikut mencari koloni koloni baru di luar Nusantara untuk memajukan Demak dan mencegah Demak menjadi korban kolonialisasi bangsa bangsa Barat.

Dengan Begitu Demak menghasilkan berbagai ilmuwan Islam yang memberikan kontribusi besar bagi peradaban manusia melebihi jumlah ilmuwan besar di Abassyiah. Demak membangun berbagai perpustakan dan universitas serta menjadi pusat peradaban Islam di dunia.

Selama masa itu, tahun 1647 terjadi sebuah pemberontakan atau revolusi yang dipimpin Trunojoyo dalam rangkaian peristiwa untuk melawan VOC dan mengembalikan kekuasaan Demak pada Sultan. Secara berangsur, wilayah kerajaan menyempit akibat aneksasi yang dilakukan VOC sebagai imbalan atas intervensinya dalam pertentangan di kalangan keluarga kerajaan.

Trunojoyo berhasil memenangkan pemberontakan melawan VOC karena ketangguhan korps militer Demak yang sudah di modernisasi dan Belanda juga kalah jumlah melawan pasukan pemberontak Demak Pro-Trunojoyo yang dilengkapi senapan Flintlock Musket. Sultan Demak yang awalnya menerima monopoli VOC yang menjadikan Demak semi-jajahan mengkhianati VOC dan mendukung pemberontakan Trunojoyo untuk mengusir VOC dan pengaruh Barat .

Demak juga mengirimkan beberapa pemuda untuk menuntut ilmu di negara negara Eropa dan mengikuti kurikulum Eropa untuk mempelajari sistem pemerintahan modern. Banyak yang berkuliah di Oxford hingga Den Haag. Banyak juga yang berkuliah di Turki Utsmani. Dengan pembaharuan Demak, mereka mendirikan negara baru. Imperium Kolonial Demak yang menggantikan Kesultanan Demak. Sultan terakhir Demak mengangkat dirinya sendiri sebagai Kaisar Imperium Kolonial Demak pertama.

Demak yang diperlengkapi Jong Java, Cetbang yang dikembangkan, dan sistem korps militer modern awal yang dipelajari dari negara negara barat mulai mencari koloni baru.


- Koloni Demak, Australia dan Selandia Baru


Pada tahun 1701 Sultan Demak mengirim ekspedisi untuk menaklukkan Benua Australia dengan 200 kapal Jong java. Demak berniat menaklukan benua yang sangat luas itu. Sultan Demak menyiapkan berbagai alat navigasi, kapal tertangguh, dan pelaut paling berpengelaman untuk menghadapi Laut Selatan dan Samudra Hindia yang sangat sulit ditaklukan demi menyaingi bangsa Eropa yang mampu membangun koloni disebrang samudra.

Karena penuh badai kapal ekspedisi mereka mendarat di Australia Utara dan perlahan mencapai Tanzania bahkan Selandia Baru dan melakukan islamisasi pada penduduk asli. Demak juga menjinakkan dan membawa kangguru ke Jawa karena memiliki susu yang dapat menjadi komoditas bernilai tinggi selain teripang.

Berbeda dengan wilayah koloni lain yang dipimpin adipati, benua Australia, Selandia Baru, dan Tanzania dipimpin oleh Dewan Gubernur Jendral yang tunduk pada Pemerintah Kolonial Demak yang dijabat oleh orang Jawa maupun orang Aborigin.

Formosa Demak: Formosa Belanda atau Taiwan diserahkan pada Kesultanan Demak sebagai tuntutan ganti rugi Demak pada Belanda dalam perjanjian Trunojoyo setelah kekalahan Belanda di tanah Jawa. Sebagai gantinya Belanda diizinkan Demak untuk tetap berdagang dan Demak tak akan menganggu Belanda di Banten dan Maluku.

- Abad Ke-20

Meski Demak memiliki koloni koloni baru di luar Nusantara dengan meniru pemerintahan dan peradaban Eropa, Demak tetap bermimpi memperluas wilayah kekuasaannya ke seluruh bumi Nusantara untuk mengembalikan kejayaan Majapahit. Demak memiliki keinginan untuk mengusai Kepulauan Papua.

Demak harus bersaing melawan Inggris dan Kekaisaran Jerman yang berkuasa di Papua Nugini dan membantu Aceh melawan invasi Belanda untuk mengalahkan Van Heutsz. Pada tahun 1905 setelah rakyat Aceh berhasil mengusir Belanda, Sultan Daud Syah meminta Kewarganegaraan Demak untuk rakyat Aceh dan berhasil mempersatukan Demak dan Aceh dan mengangkat Teuku Umar sebagai Perdana Menteri Aceh-Demak dan menempatkan para Ulubalang Aceh ke struktur pemerintahan Imperium Kolonial Demak.

Imperium Kolonial Aceh bersekutu dengan Turki Utsmani. Austria, Hungaria, Bulgaria, dan Kekaisaran Jerman pada Perang Dunia I membagi Papua bersama Kekaisaran Jerman. Turki Utsmani-Demak memiliki hubungan yang saling menopang kekuasaan politik dan ekonomi. Turki menjadi faktor strategis bagi Demak untuk menopang kekuasaan politik dan ekonominya agar kesultanannya menjadi setaraf dengan kerajaan Islam lainnya di dunia Islam. Hubungan Turki Utsmani-Demak adalah hubungan yang saling menguatkan, bukan menguasai atau mendominasi.

Imperium Kolonial Demak-Aceh berakhir dengan perjanjian Versaisles yang juga mengakhiri Perang Dunia I setelah kekalahan Blok Sentral (Triple Aliance) di mana Demak harus menyerahkan wilayah wilayah koloninya pada Sekutu. Australia direbut Inggris dan Pulau Formosa direbut Kekaisaran Jepang.

Pada tahun 1928 ketika Kesultanan Persemakmuran Demak-Aceh diduki sekutu di suasana akhir Perang Dunia I, pemuda pemudi dari berbagai organisasi di seluruh Nusantara bertemu di Jakarta untuk menyatakan Sumpah Pemuda yang terilhami dari ide ide nasionalisme Barat dan Bolshevisme Rusia agar wilayah Nusantara bebas dari pendudukan pasca kekalahan di Perang Dunia Idan merupakan gerakan nasionalisme antikolonialisme.

Pada tahun 1932 Pasukan Republikan menyerang istana Kadipaten Jipang dan mengusir keluarga kerajaan dari Istana. Kaum Republikan memandang Imperium Kolonial Demak sebagai negara penjajah kapitalis yang tak berbeda dengan Barat dan kerap mendiskriminasi kaum minoritas. Kaum nasionalis ingin mempersatukan seluruh Nusantara di bawah perasaan senasib dan tak lagi merasa terjajah seperti di zaman Demak untuk mencegah perpecahan Nusantara.

HOS Cokroaminoto yang memadukan Islam dan sosialisme Rusia terpilih sebagai presiden pertama Indonesia Raya pada tahun 1930. Dia memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia dari pendudukan Triple Entete di bekas Istana Jipang, Kesultanan Demak. Ia guru para tokoh seperti Soekarno, Muso, Sekarmaji, Marijan, Kartosuwiryo dll. Ia pun dijuluki Raja Jawa tanpa mahkota dan pemimpin Syarikat Islam.

(damar py)


Tidak ada komentar