Nggak Apa-Apa Kok, Ekspektasi Nggak Tercapai

Ketika ekspektasi gagal terpenuhi, nggak apa-apa kok. Itu bukan selalu tanda kita kurang layak. Bisa jadi pengingat bahwa hidup lebih luas dari kendali manusia. (Foto: Ilustrasi/Gemini AI)

JEDADULU.COM -- Badan sudah lumayan pegal. Pikiran lelah. Kondisi dompet pun tak kalah mengkhawatirkan. Dua hari terakhir aku mendampingi proses pengobatan suami di rumah sakit.

Di perjalanan pulang dengan mobil online, aku merebahkan tubuh dengan satu ekspektasi sederhana: bisa beristirahat sejenak, tanpa gangguan berarti. Sekadar memejamkan mata, memberi ruang napas setelah hari-hari yang panjang.

Malam itu malam tahun baru (31 Desember 2025). Sore menjelang malam, jalanan mulai padat. Mereka yang masih setia merayakan pergantian tahun di luar rumah berhamburan di jalanan.

Mobil yang kutumpangi mendadak seperti "kaki seribu" gerak seadanya. Tersendat-sendat kayak proyek pembangunan pemerintah yang nggak tahu kapan selesai.

Aku masih berusaha menikmati situasi. Toh kalimat, “Kalau nggak macet, bukan Jakarta namanya,” atau “Ibu kota lebih kejam dari ibu tiri,” rasanya sudah terinternalisasi dalam diriku.

Namun situasi berubah. Driver mobil online mulai gelisah, lalu kesal, dan akhirnya marah-marah. Gestur yang sebelumnya ramah dan tenang, perlahan merontah. Penumpang, pak ogah di persimpangan, sampai deretan mobil yang jelas-jelas benda mati menjadi sasaran pelampiasan emosinya.

Aku yang sejak tadi berusaha menikmati keadaan, akhirnya goyah juga. “Kok dia marah-marah, sih? Namanya juga Jakarta. Apalagi malam tahun baru, ya pasti macet,” aku membatin.

Aku memejamkan mata, mencoba nggak  larut. Tapi pikiran tetap ke mana-mana. “Namanya driver, macet itu salah satu risiko pekerjaan. Harusnya dia sudah tahu,” batinku.

***

Dalam ekspektasiku, umumnya orang tahu bahwa setiap pekerjaan selalu datang dengan tantangan dan risiko. Jadi presiden dikritik warga negara, jadi content creator dinyinyiri netizen, jadi driver online terjebak macet—terutama di jam dan momen tertentu. Ya sudah,  diterima saja. Kalau bisa, dinikmati.

Tapi aku lupa satu hal penting: nggak semua orang mau, apalagi konsisten, menjalani apa yang sebenarnya mereka udah tahu.

Dalam hidup, kita semua hidup berdampingan dengan ekspektasi. Kita berbuat baik dengan harapan dibalas baik. Kita bekerja keras dengan keyakinan akan naik gaji atau dapat promosi. Kita mencintai dan memanjakan pasangan dengan ekspektasi dia bakal setia, atau nggak poligami.

Faktanya, konsep hidup nggak gitu! Hidup nggak selalu bekerja mengikuti logika kita. Ia punya sistemnya sendiri.

Jadi maksudnya, kita nggak boleh punya ekspektasi? Boleh dong.

Setiap orang berhak punya harapan, keinginan, bayangan, bahkan keyakinan tentang masa depan. Namun di saat yang sama, perlu ada kesadaran bahwa ekspektasi bisa terwujud dan bisa juga runtuh. 

Dengan begitu, ketika ekspektasi nggak tercapai, kita nggak hancur-hancur amat gitu loh!

Yang perlu kita lakukan adalah MENGECEK ulang dan MENGELOLA  EKSPEKTASI itu.

Memasang harapan sesuai kondisi: kemampuan diri, modal sosial, lingkungan pendukung, dan sisakan ruang untuk takdir.

Misalnya, pengen ikut kompetisi Indonesian Idol dengan kontestan ribuan orang, lalu memasang ekspektasi masuk 10 besar. Tapi latihan hanya dua kali seminggu, hobi makan gorengan, jarang belajar dari kompetisi serupa, dan sering begadang. Dengan kondisi seperti itu, pantaskah ekspektasi setinggi itu dipasang?

Lau, bagaimana dengan mereka yang sudah berlatih mati-matian, mempersiapkan diri sebaik mungkin, tapi tetap nggak lolos? Bisa jadi, di situlah ruang takdir bekerja.

Jadi, siapkan diri saat ekspektasi nggak tercapai. Terima ia, nikmati kalau bisa. Caranya? Siapkan rencana-rencana alternatif, dan pahami langkah teknis menghadapi kemungkinan terburuk.

Sebab bahkan menggantungkan ekspektasi pada pasangan yang paling kita cintai, keluarga yang paling kita percaya, atau teman yang kita sebut bestie, tetap bisa melahirkan kekecewaan yang dalam kalau nggak dikelola dengan asyik.

***

Manajemen ekspektasi bukan soal menurunkan standar hidup, tapi menata ulang ke mana kita menggantungkan harapan. Nggak semua hal harus sesuai rencana, nggak semua orang mampu memenuhi bayangan kita. 

Ketika ekspektasi gagal terpenuhi, nggak apa-apa kok. Itu bukan selalu tanda kita kurang layak. Bisa jadi pengingat bahwa hidup lebih luas dari kendali manusia. 

Mereka yang tangguh adalah yang berani memasang ekspektasi, berjuang sungguh-sungguh mewujudkannya, sekaligus siap melepaskan, sambil ikhlas jika hasilnya berbeda.

Sebab hidup yang sehat bukan hidup tanpa ekspektasi. Justru, mumpung masih tahun baru 2026, kita perlu punya ekspektasi mencapai visi hidup yang bermakna, sekaligus mampu berdamai saat ekspektasi itu nggak tercapai, tanpa kehilangan rasa, tanpa kehilangan arah, dan tanpa kehilangan diri sendiri. 

2 Januari 2026
Tayang juga di gebrak.id

(Mila Muzakkar/Founder Generasi Literat)