JEDADULU.COM– Mengapa kita menyukai musik tertentu sementara jenis musik lain terasa kurang menarik, bahkan sejak pertama kali kita mendengarnya? Pertanyaan ini telah lama menarik perhatian para ilmuwan, terutama dalam bidang neuroscience dan psikologi kognitif. Salah satu penjelasan modern yang cukup berpengaruh menyatakan bahwa selera musik manusia tidak sepenuhnya bawaan sejak lahir, melainkan dibentuk melalui pengalaman, pembelajaran, dan budaya.
Menurut Samuel H. Markind, MD, dalam artikelnya Why Do We Like the Music We Like? di Music Between Your Ears, preferensi musik manusia sangat dipengaruhi oleh proses pembelajaran dan budaya, sesuai dengan model predictive coding yang menjelaskan bagaimana otak membentuk selera musik melalui pengalaman
Predictive coding, adalah gagasan bahwa otak manusia terus-menerus membuat prediksi tentang apa yang akan terjadi berikutnya, termasuk dalam musik yang kita dengarkan. .
Dalam pandangan ini, otak tidak bekerja sebagai penerima pasif suara, melainkan sebagai sistem aktif yang mencoba menebak pola. Saat kita mendengarkan musik, otak memproses ritme, melodi, dan struktur nada, lalu membandingkannya dengan pola-pola yang sudah pernah kita dengar sebelumnya. Dari proses ini, otak membentuk ekspektasi tentang nada atau perubahan musik yang akan datang. Ketika ekspektasi tersebut terpenuhi, atau bahkan sedikit melampaui harapan, kita merasakan kepuasan emosional. Sebaliknya, ketika musik menyimpang dari prediksi, otak merespons dengan kejutan atau ketegangan yang juga memicu emosi tertentu.
Proses ini melibatkan interaksi antara dua sistem penting di otak: area pendengaran yang memproses suara, dan sistem penghargaan yang berhubungan dengan emosi serta rasa senang. Kedua sistem ini saling terhubung erat. Ketika otak mendeteksi pola musik yang “tepat” atau menyenangkan, sistem penghargaan akan aktif dan memicu pelepasan neurotransmitter seperti dopamin, yaitu zat kimia yang sering dikaitkan dengan rasa bahagia dan kepuasan. Reaksi ini tidak hanya terjadi di tingkat mental, tetapi juga terasa secara fisik melalui perubahan tubuh seperti merinding, detak jantung yang meningkat, atau sensasi emosional yang kuat.
Menariknya, respons terhadap musik tidak berhenti di otak saja, tetapi juga melibatkan tubuh secara keseluruhan. Otak memiliki kemampuan untuk memetakan kondisi tubuhnya sendiri, sehingga perubahan fisiologis akibat musik—seperti denyut jantung atau sensasi kulit—juga menjadi bagian dari pengalaman emosional yang kita rasakan. Inilah yang membuat musik menjadi pengalaman yang sangat “terasa”, bukan sekadar terdengar. Musik menjadi sesuatu yang kita alami dengan tubuh, bukan hanya dengan pikiran.
Teori predictive coding juga menekankan bahwa preferensi musik sangat dipengaruhi oleh proses belajar dan budaya. Setiap jenis musik memiliki pola atau “aturan” tersendiri, dan otak manusia secara bertahap mempelajari pola tersebut sejak dini. Bahkan sejak masa bayi, otak sudah mampu mengenali ritme dan struktur suara dasar. Seiring waktu, pengalaman mendengarkan musik dari lingkungan sekitar membentuk preferensi pribadi yang semakin spesifik. Karena itu, apa yang kita anggap enak atau indah dalam musik sangat dipengaruhi oleh budaya tempat kita tumbuh dan jenis musik yang sering kita dengar.
Namun teori ini juga menimbulkan pertanyaan menarik. Jika kesenangan musik muncul dari perbedaan antara ekspektasi dan kenyataan, mengapa kita tetap bisa menyukai lagu yang sudah kita dengar berkali-kali, bahkan sampai ratusan kali? Pada awalnya, benar bahwa kejutan dalam musik dapat memicu respons emosional yang kuat. Tetapi seiring waktu, ketika sebuah lagu menjadi sangat familiar, unsur kejutan itu berkurang. Meski begitu, perasaan suka tidak selalu ikut hilang.
Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman musik tidak hanya bergantung pada prediksi yang meleset, tetapi juga pada memori emosional, kebiasaan, dan keterikatan yang terbentuk melalui pengulangan. Musik menjadi bagian dari pengalaman hidup yang tersimpan dalam ingatan, sehingga tetap memiliki makna meskipun sudah tidak lagi “mengejutkan” otak.
Pada akhirnya, teori ini menggambarkan musik sebagai hasil interaksi kompleks antara otak, tubuh, dan lingkungan budaya. Kita tidak hanya mendengar musik, tetapi juga memprediksinya, merasakannya, dan mempelajarinya sepanjang hidup. Preferensi musik yang kita miliki hari ini adalah hasil dari semua pengalaman tersebut—sebuah proses panjang di mana otak terus belajar mengenali pola, membangun ekspektasi, dan menciptakan makna dari setiap nada yang kita dengar.
Sumber:
Markind, S. H. (2026). Why do we like the music we like? Psychology Today – Music Between Your Ears.

Komentar