Menu
Jedadulu

Ketika Kami Mencoba Mengakrabkan Diri dengan Alergi


(Alergi/ilustrasi/foto:pixabay)
Alergi, pasti kata ini sudah cukup familiar di telinga. Bicara soal alergi, saya mungkin memang bukan pakar yang sangat expert di bidang ini. Saya bukan dokter atau tenaga medis lainnya.  

Tapi dengan pengalaman dua anak yang keduanya punya banyak bakat alergi, rasanya saya bisa sedikit "sombong" soal ini.

Perjalanan saya berakrab-akrab dengan yang namanya alergi bisa dibilang cukup panjang. Sejak kecil saya adalah pengidap asma tapi saat itu saya belum mudeng kalau asma adalah penyakit yang disebabkan oleh alergi. 

Baru ketika punya anak pertama dan apes-nya ternyata ia menuruni bakat saya dengan asma, saya mulai mencari tahu apa sebetulnya asma itu. Mulai dari bertanya pada dokter, sampai searching Google akhirnya semua mengerucut pada kata "alergi". 

Ternyata, saya dan Si Sulung saya memiliki bakat alergi yang sayangnya waktu itu kita tidak tahu terhadap apa. Pokoknya hanya alergi. 

Ketika anak kedua saya lahir, ternyata ia bernasib sama dengan kakaknya. Ia ternyata juga mendapat warisan bakat alergi dari kedua orang tuanya. 

Tak hanya saya, suami saya juga punya bakat alergi. Tapi sepertinya lebih ke alergi dingin. Setiap pagi bangun tidur pasti hidungnya akan mampet dan akan kembali normal saat sang matahari muncul. 

Menurut literatur yang saya baca, alergi memang termasuk penyakit turunan. Anak akan berpotensi atau berbakat alergi bila orang tuanya juga alergi. Dan potensi ini akan semakin besar bila kedua orang tuanya ternyata sama-sama berbakat alergi. 

Dulu, saya pikir alergi hanya muncul dalam bentuk asma atau gatal-gatal di kulit seperti biduran. Tetapi ternyata alergi bisa muncul dalam bentuk yang berbeda-beda pada tiap individu. 

Pada suami saya jelas saat dingin melanda dia akan merasakan hidung mampet dan akan normal kembali saat alergennya yakni hawa dingin hilang. 

Pada saya pribadi  sebenarnya saya belum yakin alergi terhadap apa. Karena memang belum pernah periksa deteksi alergi ke dokter. Namun, dari pengamatan terhadap diri sendiri, sepertinya saya alergi pada debu, tepung terigu, teh, dan kopi. 

Saat  menyapu atau membersihkan rumah yang membuat saya terpapar debu dan kotoran, biasanya kulit tangan saya akan bentol-bentol seperti habis di gigit ulat bulu.

Dan kenapa alergi terigu, karena kalau kebanyakan makan kue yang berbahan baku terigu, bisa dipastikan saya pasti akan sariawan di mulut atau bibir.  Untuk teh dan kopi biasanya saya akan merasa sakit kepala hebat bila minum dua jenis minuman ini. 

Kalau pada diri sendiri saya hanya mengira-ngira saja alergi apa. Untuk kedua anak saya, tentu saya tak ingin hanya sekadar kira-kira.

Oleh karena itu, keduanya sempat saya bawa ke sebuah klinik alergi di sekitar Jakarta Selatan beberapa tahun lalu. Di klinik tersebut, keduanya saya tes untuk deteksi alergi yang metode nya sangat ramah untuk anak-anak. Karena tanpa suntikan dan tes darah. Jadi anak-anak tak akan takut atau kesakitan. Katanya sih metode yang digunakan adalah metode geofisika. 

Dari hasil tes alergi tersebut akhirnya terungkap apa saja alergi yang didapat kedua buah hati saya. Si Sulung, untuk tes alergi dasar saja ternyata punya 32 jenis alergi. Di antaranya bahkan ada yang berat seperti terigu, ayam, gula, semua jenis fastfood, beberapa seafood seperti udang, cumi  dan tongkol, makanan instan dan berpengawet.

Adapun Si Bungsu mendapat jatah sekitar 24 jenis alergi. Di antaranya yakni ayam, cokelat, teh, kopi, susu sapi, dan kedelai.
(Si Bungsu termasuk alergi es krim karena mengandung susu dan coklat/foto:pixabay)

Tes alergi yang dijalani kedua buah hati saya itu ternyata menjawab kenapa Si Sulung akan mengalami pilek berat yang ujungnya sesak napas kalau habis makan ayam goreng atau burger kesukaannya. Atau akan gelisah, emosional,  susah tidur bila dia kebanyakan makan makanan yang banyak mengandung gula dan terigu. 

Sedangkan pada Si Bungsu, alergi biasanya akan berdampak pada badan panas, sembelit, atau bahkan muntah dan mencret-mencret.

Cerita soal alergi yang agak unik sempat dialami oleh Si Bungsu. Ketika usianya sekitar 9 bulan, lama kelamaan saya merasa kulitnya menjadi menguning seperti orang sakit kuning.  

Tapi oleh dokter, Si Bungsu dinyatakan alergi setelah hasil pemeriksaan laboratorium menyatakan negatif untuk semua komponen yang dicurigai. Saat itu yang dicurigai menjadi penyebab  adalah susu formula nya karena kebetulan memang belum banyak makan makanan yang aneh-aneh. 

Jika melihat hasil tes deteksi alergi, maka memang sangat besar kemungkinan Si Bungsu dulu alergi terhadap susu sapi. 

Dari kami berempat saja, jenis alergi yang menjadi jatah kami gak mirip plek persis. Begitu pun manifestasi keluarnya. Suami ke hidung mampet, saya ke gatal-gatal sesak napas dan sariawan, Si Sulung ke pilek berat sesak napas dan emosional, Si Bungsu ke badan panas, sembelit, muntah, dan mencret. 

Dari banyak membaca referensi, mencereweti dokter, dan pengamatan pengalaman pribadi, saya mengambil kesimpulan, kalau penyakit yang berkaitan dengan imunitas diri ini adalah penyakit yang unik. Karena penyebabnya bisa berbeda-beda pada setiap individu dan bentuk keluar penampakan nya pun tak melulu sama.

Butuh kejelian untuk menangkap gejala yang ada. Karena kadang orang suka salah menafsirkan jenis penyakit tertentu padahal "cuma"  karena alergi yang tak disadari.

(Dinar K Dewi)

(Alergi/ilustrasi/foto:pixabay) Alergi, pasti kata ini sudah cukup familiar di telinga. Bicara soal alergi, saya mungkin memang bukan ...
Menulis Indonesia 31 Jan 2019
Jedadulu

Resolusi Bisnis 2019, Memantapkan Bisnis Online dari Teras Rumah

(damdit online)
Rumah bercat putih dan berpagar besi hitam di sebuah kompleks perumahan di Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat, itu tak berbeda dengan rumah-rumah lain di sekitarnya. Namun saat masuk ke halaman rumah itu, tampak sebagian teras rumah disulap menjadi gudang penyimpanan sederhana. Paket-paket siap kirim dengan plastik putih terlihat tersusun rapi di atas meja panjang.
Paket-paket berisi baju dan celana itu milik si penghuni rumah, saya sendiri, Dinar K Dewi. Sebagai ibu rumah tangga alias full-time mom, saya sudah menjalankan bisnis berjualan celana dan pakaian dalam sejak 2015 silam. Meski berbisnis di teras rumah, para pembeli pakaian dalam dan celana tak sebatas tetangga sendiri atau warga Depok dan sekitarnya. Para pembeli baju dan celana tersebar hampir di seluruh Nusantara, dari Aceh sampai Papua.

Dari teras rumah, saya memanfaatkan telepon seluler atau kadang laptop untuk bertransaksi menjangkau kawasan yang bahkan belum pernah saya kunjungi. Pemasaran lewat online semakin memudahkan saya untuk menjangkau target pasar di seluruh Indonesia.

Terlebih lagi, dari bisnis online yang saya tekuni, saya mampu menjalani peran sebagai wirausaha 'kecil-kecilan' sekaligus ibu rumah tangga, tanpa harus mengorbankan waktu bersama keluarga. "Sekarang era digital, daripada buka tutup toko atau ruko yang sewanya mahal, lebih baik buka tutup handphone dan laptop," begitu yang selalu saya tanamkan dalam diri.

Mengurus suami dan anak tidak membatasi saya untuk menjalani passion saya di dunia kreatif dan menciptakan hal-hal baru. Saya melihat peluang yang ada dan memanfaatkan passion itu untuk membangun bisnis kecil yang berlabel Damdit Online. Kata Damdit berarti Damar dan Dita, dua buah hati saya.





Setiap hari orang pasti memakai baju dan celana, jadi setiap hari pasti ada yang butuh baju atau celana yang nyaman dipakai. Dari situ saya melihat peluang bisnis ini besar.

Saya menyadari, para 'pemain' bisnis fashion sangatlah banyak. Bisnis yang sangat padat dan persaingan ketat. Namun saya memiliki trik agar produk saya terjangkau bagi semua kalangan. Saya tak memilih kulakan di pasar-pasar grosir, seperti di Cipulir dan Tanah Abang. Terlalu ramai (dan terlalu jauh dari rumah hehehe) jika pesaing mengambil barang di situ.

Belum lagi, harga jual dari kulakan di pasar-pasar itu sudah tinggi jika akan dijual ke tempat lain. Tak hanya itu, kalau dijual online, kita harus memperhitungkan ongkos kirim yang dibebankan ke pembeli.

Saya lantas memilih bekerja sama dengan konveksi kecil di sekitar rumah dan memproduksi sendiri sejumlah barang dagangan. Untuk menekan biaya, saya memanfaatkan kain sisa konveksi atau pabrik. Kain-kain yang dijual per kilogram seperti ini bisa ditemukan di eks Gedung AURI Tanah Abang dan di Jakarta Kota.

Bekerja sama dengan beberapa konveksi kecil di Depok, saya pun bisa menjual beberapa produk seperti celana pendek, legging, aladin, daster anak, dengan harga miring di bawah Rp 10 ribu. Bahkan beberapa produk hanya dijual tiga ribu rupiah per pcs.

Dari mencari ide lewat googling dan komunitas blogger, saya menemukan pula barang yang bisa didapatkan lewat distributor online dan pusat grosir online. Cara ini kemungkinan akan saya coba lantaran tak perlu jauh-jauh lagi mencari barang, namun barang akan diantarkan langsung ke kediaman saya. Nggak ribet sepertinya.

Selama ini saya tak khawatir produk saya akan menumpuk di gudang atau tak akan diserap pembeli. Apalagi di era digital seperti saat ini, saya bisa memasarkan produk saya lewat ranah online. Sejumlah marketplace gratis seperti Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee, serta yang terbaru Ralali bisa menjadi 'ruko' andalan saya untuk berjualan. Jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram pun bisa saya manfaatkan untuk memasarkan produk.

Saya pun bersyukur di kediaman saya tersebar sejumlah agen ekspedisi untuk mengirim barang-barang dagangan. Ada PT Pos Indonesia, JNE, J&T, TIKI, dan Wahana. Agen ekspedisi yang dekat tentu sangat memudahkan bagi siapa saja yang berbisnis online.

Namun demikian, memasuki tahun 2019 ini, persaingan bisnis jualan celana dan pakaian dalam semakin banyak dan ketat. Pemain baru banyak bermunculan. Ini menjadi tantangan saya dan Damdit Online untuk lebih meningkatkan pelayanan, lebih responsif, dan lebih cepat mengirim barang.

Jika ada waktu, saya pun masih akan mencari sumber-sumber konveksi atau UKM yang memproduksi barang sesuai dengan kriteria yang saya jual. Saya pun ingin (jika ada tambahan modal lagi) dagangan saya lebih variatif. Saya selalu percaya hasil tak akan pernah mengkhianati proses.

(Dinar K Dewi)

(damdit online) Rumah bercat putih dan berpagar besi hitam di sebuah kompleks perumahan di Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat, itu t...
Menulis Indonesia 30 Jan 2019
Jedadulu

Hati-hati, Ibu Rumah Tangga Merangkap Wanita Karier Rawan Alami Stres Kronis

(Para wanita karier/ilustrasi/foto pixabay)

Terkadang ini menjadi pilihan yang dilematis bagi wanita yang sudah berkeluarga di era yang serbamodern. Ingin sukses menjadi wanita karier atau menjadi ibu rumah tangga idaman?

Menjadi wanita karier memang tidaklah mudah, Anda harus pandai membagi waktu antara karier dan peran Anda sebagai ibu sekaligus istri di rumah. Namun ibu rumah tangga juga harus tahu cara menjadi wanita cerdas. Meski di rumah, ia dituntut untuk pandai dalam segala hal, seperti memasak dan mendidik anak.

Tak ada yang salah bila sebagai wanita Anda memilih menjadi wanita karier plus ibu rumah tangga atau menjadi ibu rumah tangga. Tentu semua ada alasan dan konsekuensinya.

Namun demikian, sebuah penelitian baru menemukan tingkat stres para ibu yang memiliki dua anak dan berkarier di luar rumah meningkat secara signifikan. Penelitian ini dilakukan oleh tim dari University of Manchester dan University of Essex, Inggris.

Para peneliti menganalisis data sekitar lebih dari 6.000 orang yang dikumpulkan oleh The UK Household Longitudinal Study. Studi nasional, yang diterbitkan dalam jurnal British Sociological Association Journal Sociology, ini mengumpulkan berbagai informasi dari rumah tangga di seluruh negeri, termasuk kehidupan kerja warga, tingkat hormon warga, tekanan darah, dan pengalaman dengan stres.

Para peneliti menilai, 11 biomarker yang terkait dengan stres kronis di antara para peserta penelitian. Menurut temuan tersebut, seperti yang dilansir dari Independent, Senin, 28 Januari 2019, tingkat keseluruhan biomarker yang terkait dengan stres kronis adalah 40 persen lebih tinggi di antara wanita yang memiliki dua anak dan bekerja penuh waktu, dibandingkan dengan wanita yang tidak memiliki anak dan juga bekerja penuh waktu.

Tingkat keseluruhan biomarker yang terkait dengan stres kronis adalah 18 persen lebih tinggi di antara ibu dengan satu anak dan pekerjaan penuh waktu. Para peneliti juga menemukan wanita dengan dua anak yang bekerja dengan jam kerja dikurangi memiliki tingkat stres kronis 37 persen lebih rendah daripada ibu yang bekerja dengan jam kerja tidak fleksibel.

Menurut The American Institute of Stress, gejala stres kronis meliputi lekas marah, cemas, depresi, sakit kepala, dan susah tidur.

Dalam riset ini, peneliti mengesampingkan faktor gaya hidup lain yang mempengaruhi temuan. Faktor-faktor ini termasuk hal-hal seperti usia, pendapatan, etnis atau tingkat penddikan. Konflik antara pekerjaan dan keluarga memicu peningkatan ketegangan psikologis, tingkat stres yang tinggi, dan tingkat kesejahteraan yang lebih rendah.

Kondisi kerja yang tidak fleksibel terhadap tuntutan keluarga ini, seperti jam kerja yang panjang, juga berdampak buruk pada reaksi stres seseorang. Peneliti pun menyatakan jam kerja yang fleksibel bermanfaat memastikan para pekerja dapat mencapai keseimbangan kehidupan kerja yang memuaskan.

(Dinar K Dewi)

(Para wanita karier/ilustrasi/foto pixabay) Terkadang ini menjadi pilihan yang dilematis bagi wanita yang sudah berkeluarga di era yang...
Menulis Indonesia 28 Jan 2019
Jedadulu

Hamil di Atas Usia 40 Tahun, Antara Mungkin dan tak Mungkin

(Kehamilan dan senja/foto:pixabay)

Rambutnya kusut masai. Wajahnya terlihat sendu. Bibirnya terkatup menjepit sebuah plastik kecil berisi testpack bergaris dua.

Itulah penampakan fotonya yang dikirimkan ke WA saya. Sebenarnya saya ingin tertawa, tapi takut kualat. Namun tak tahan akhirnya saya tertawa juga.

Walau setelah dipikir-pikir lagi, apa yang terjadi pada kakak ipar saya itu bisa terjadi pada siapa saja. Hamil lagi di usia yang tak lagi muda.

Mungkin tak pernah terbayang olehnya, akan kembali berbadan dua di usianya yang sudah akan menginjak 46 tahun. Anak bungsunya yang terancam gagal jadi bungsu itu telah berusia 16 tahun dan duduk di bangku SMA. Dan kedua kakaknya sudah duduk di bangku kuliah. Bahkan si sulung sudah akan wisuda sarjana.

Berbekal kepedean gak mungkin hamil mengingat usia yang sudah tak muda lagi membuat ia teledor. Hanya mengandalkan sistem kalender untuk mencegah kehamilan. Padahal sistem kalender merupakan sistem kontrasepsi (KB) yang paling besar peluang kegagalannya. Sebenarnya bisa dibilang kepedean kakak ipar saya itu tidak 100 persen salah.

Banyak literatur yang memang menyatakan usia subur perempuan itu sampai puncaknya pada 35 tahun. Dan akan terus menurun seiring bertambahnya usia. Sedangkan untuk usia di atas 45 tahun, probabilitas kehamilan hanya sekitar 1-2 persen saja per tahun. Sangat kecil. Tapi bukan mustahil.

Sebenarnya banyak contoh perempuan yang tetap hamil walau usia sudah merangkak senja. Sebut saja, aktris film Rachel Weisz yang hamil di usia 48 tahun. Penyanyi Celine Dion yang hamil anak kembarnya di usia 42 tahun. Aktris Halle Berry yang hamil anak kedua di usia 47 tahun. Bahkan Brigitte Nielsen, mantan istri aktor Sylvester Stallone hamil anak kelimanya di usia 54 tahun! Dan masih banyak lagi contohnya kalau mau disebutkan.

Memang sih, secara medis kehamilan di atas usia 40 tahun tergolong kehamilan risiko tinggi. Berbagai masalah bisa mengintai selama kehamilan. Seperti dilansir dari klikdokter.com, dr Dyan Mega Inderawati memaparkan kalau kehamilan bisa menyebabkan tekanan darah tinggi dan diabetes, kehamilan kembar, kelainan kromosom pada anak yang menyebabkan anak lahir dengan down syndrom, keguguran, plasenta previa, bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), dan kemungkinan besar lahir dengan cara operasi cesar.

Seram ya risikonya? Tapi jangan takut karena dr Dyan juga memberikan tips-tipsnya bagaimana sebaiknya seorang ibu menjalani kehamilan di usia sangat matang ini untuk mengurangi segala risiko yang mungkin terjadi. Yakni mengonsumsi multivitamin asam folat setiap hari selama kehamilan, makan makanan bernutrisi, tidak minum alkohol atau minum obat-obatan sembarangan, dan tak kalah pentingnya melakukan perawatan antenatal/pra-persalinan secara teratur ke dokter atau bidan.

Berkaca dari kasus yang terjadi pada kakak ipar, saya jadi berpikir sisi positif dari masih mampunya seorang perempuan untuk hamil di usia yang menurut medis sangat kecil kemungkinannya itu. Yaitu, si ibu hamil adalah orang yang sangat sehat fisiknya. Karena logika saya, di kategori usia subur saja perempuan sulit hamil ketika fisik bermasalah. Apalagi di usia yang sudah lewat dari masa suburnya.

Tapi itu hanya analisa saya saja ya hehehe… sebagai orang awam yang kadang sok tau. Karena kakak ipar saya yang saya tahu, kebetulan sebagai penganut gaya hidup sehat. Sehari-hari ia adalah guru senam dan pengonsumsi produk kesehatan H***a**f*. Gak tau juga si pengaruh atau enggaknya. Itu cuma dugaan saya saja.

Namun yang pasti kehamilan di atas usia 40 tahun bukanlah sesuatu yang mustahil. Bisa terjadi pada perempuan mana saja terlebih bila fisiknya prima. Dan ini merupakan kabar baik tentunya bagi sebagian perempuan yang mungkin tak keberatan untuk hamil di atas usia 40 tahun. Baik yang hamil karena “kebobolan” atau memang karena menginginkan.

(Dinar K Dewi)
 




(Kehamilan dan senja/foto:pixabay) Rambutnya kusut masai. Wajahnya terlihat sendu. Bibirnya terkatup menjepit sebuah plastik kecil beri...
Menulis Indonesia
Jedadulu

Mencari Sekolah yang Pas, Ada Kalanya Kita Harus Kompromi dengan Anak


(Bunda dan Dita sudah menemukan sekolah yang dianggap terbaik bagi Dita sendiri)


 “Ayah, hari ini aku gak mau sekolah,” bisik Dita pada ayahnya yang sedang asik menonton TV di pagi hari itu. Eng ing eng…ada apalagi ni anak kok tiba-tiba merajuk seperti itu, gumam saya dalam hati.

Sambil tetap menyiapkan sarapan di dapur yang memang tak jauh dari ruang TV, saya terus menguping rayuan maut si kecil pada ayahnya yang hanya menjawab hmm pada semua rayuannya.

Dan, belakangan rayuan itu semakin gencar dilakukannya. Hampir setiap hari saat bangun pagi jelang berangkat sekolah ia melancarkannya. Apakah rayuannya berhasil? Tentu saja tidak. Dengan otoritas sebagai orang tua, saya dan suami selalu berhasil memaksanya untuk tetap berangkat sekolah walau dengan wajah cemberut.

Waktu itu, bagi kami putri kecil saya itu sudah tidak bisa lagi semau gue untuk urusan sekolah. Mengingat ia sudah bukan lagi di TK melainkan sudah masuk jenjang sekolah dasar alias SD.

Namun, berbagai peristiwa yang mengiringi rengekannya setiap pagi akhirnya menggoyahkan hati kami. Wajah lelahnya tiap pulang sekolah, kebiasaannya yang sering minta izin ke toilet saat jam pelajaran berlangsung, hingga teriakannya di suatu sore saat saya memintanya kembali mengaji di TPA setelah lama membolos..

“Aku gak mau ngaji. Aku mau main. Aku belum dapet main,”. Jawabannya serasa menusuk hati saya saat itu. Seketika saya hanya bisa beristighfar. Saya akhirnya menyadari ketidakbahagiaannya beberapa waktu belakangan.

Setelah berdiskusi panjang dengan suami, akhirnya kami mengambil keputusan untuk memindahkan sekolahnya. Tentu setelah kami bertanya langsung padanya apakah ia mau pindah sekolah. Mulai-lah kami kembali berburu sekolah, ketika matanya terlihat berbinar saat kami menawarkan opsi tersebut.

“Aku mau sekolah yang belajarnya sebentar,” begitu syarat yang diajukannya pada kami.

Ternyata jam belajar yang padat dan panjang menjadi momok bagi putri saya. Karena itulah Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) seperti selama ini putri kecil saya bersekolah langsung kami coret dari list.

Padahal kalau mau jujur, di daerah tempat tinggal kami, SDIT tumbuh bak jamur di musim hujan. Dari yang abal-abal, lokasi dalam perkampungan, biaya masuk dan SPP murah tapi fasilitas seadanya. Ruang kelas pengap, toilet kurang higienis sampai lapangan yang sempit. Yang cukupan biaya masuk dan SPP terjangkau untuk kelas menengah sampai yang elite dengan biaya masuk hingga puluhan juta dan SPP yang juga berkejut-kejut dengan fasilitas sangat memadai dan iming-iming kelas full AC dan metode bilingual, semua tersedia.

Tapi karena putri saya sudah menyerah dengan SDIT, kami sudah pasti tak melirik satu pun di antara mereka. Sasaran kami selanjutnya adalah sekolah alam yang jaraknya tak jauh dari rumah. Yang hanya butuh jalan kaki untuk menuju ke sana. Yang juga kebetulan almamater anak sulung saya. Tapi si kecil menggeleng tegas saat sekolah alam kami tawarkan.

Padahal menurut saya, dari segi pembelajaran sekolah alam merupakan sekolah yang menyenangkan bagi anak-anak. Metode sekolah alam nyaris tak memberikan tekanan pada anak. Anak belajar langsung di alam. Tak banyak berteori. Hingga tak perlu buku-buku tebal yang membebani tulang punggungnya. Setiap anak dihargai keunikan personalnya.

Rasanya hampir tak ada anak yang menolak sekolah di sekolah alam. Karena bersekolah tak ubahnya belajar yang dibalut sambil bermain. Hingga walaupun durasi bersekolahnya juga cukup panjang dari pagi hingga sore hari, menjadi tak berarti.

Namun dugaan saya meleset. Sekolah alam pun ditolaknya. Mungkin berkaca dari pengalaman kakaknya bersekolah di sekolah alam, dia merasa tak cocok di sana. Karena memang sejak kecil putri saya ini termasuk anak yang gampang jijik dengan tanah, lumpur dan sejenisnya. Belum lagi kelengketannya dengan saya yang pasti akan membuat dia berat kalau harus pergi outing dengan pihak sekolah. Mengingat outing merupakan menu wajib dalam kurikulum sekolah alam.

SDIT sudah tak masuk dalam kriterianya. Pun sekolah alam yang ditolaknya mentah-mentah. Pilihan terakhir yang tersedia di dekat rumah hanyalah tinggal SD negeri. Akhirnya ke sanalah kaki kami melangkah. 



Dita mengenakan seragam SD Negeri

Tak mau salah memilih lagi,  kami mengajak si kecil untuk survei ke SD negeri terdekat. Eh ndilalah..dia langsung oke ketika melihat suasana SD negeri dekat rumah tersebut. SD negeri dengan bangunan tua yang sederhana ternyata bisa menarik minatnya. Entah apa yang ada di pikirannya ketika ia mengiyakan pertanyaan kami.

Dan sungguh pilihannya di SD negeri membuat suami saya tersenyum semringah. Gratis boo..jadi ia tak harus merogoh koceknya dalam-dalam untuk memindahkan sekolah putri kami. Karena sebetulnya, suami saya sempat membayangkan berapa besar lagi uang yang harus dia keluarkan untuk pindah sekolah. Hanya dengan membayar uang seragam sebesar 600 ribu rupiah putri kami sudah bisa bersekolah.

Bersekolah di SD negeri ternyata banyak membawa perubahan pada gadis kecil saya. Dia menjadi lebih semangat bersekolah. Energinya pun tak terlihat habis ketika pulang sekolah. Jam pelajaran yang hanya 2,5 jam per hari menjadi sangat ramah untuknya. 


Ini terbukti dari peringkat kelas yang berhasil diraih ketika kenaikan kelas dari kelas 1 ke kelas 2 kemarin. Surprise tentu, ketika wali kelasnya mengatakan ia masuk 3 besar di kelas. Karena kebetulan kami sebenarnya bukan orang tua yang terlalu ngoyo pada “ranking”.

Perjalanan kami dalam  memilih sekolah memberi banyak pelajaran bagi saya pribadi. Ternyata apa yang menurut orang tua baik belum tentu tepat buat anak. Terlebih bila anaklah yang harus menjalaninya. Begitu pun yang terbaik untuk anak yang satu, belum tentu pas untuk anak yang lain. 


Ternyata benar kata orang-orang bijak yang pernah saya dengar. Setiap anak adalah unik. Dan kita harus menghargai keunikannya. Orang tua ada kalanya harus mau berkompromi dengan anak. Karena anak bukanlah diri kita dalam versi mini.

(Dinar K Dewi)

(Bunda dan Dita sudah menemukan sekolah yang dianggap terbaik bagi Dita sendiri)  “Ayah, hari ini aku gak mau sekolah,” bisik D...
Menulis Indonesia 27 Jan 2019
Jedadulu

Ini Hal yang Sebaiknya Dihindari Saat Hendak Membeli Rumah


Rumah adalah salah satu benda paling berharga bagi setiap manusia yang menjalani kehidupan. Rumah adalah tempat untuk kembali setelah lelah beraktivitas. Tempat berteduh dari hujan dan sengatan matahari. Tempat seluruh keluarga bercengkerama.

Tak heran bila rumah umumnya menjadi benda termahal yang dibeli setiap orang, terutama yang sudah berumah tangga. Namun jika salah melangkah saat membeli rumah, bukan kenyamanan yang akan didapati, justru ketidaktenangan dan rasa was-was yang akan kerap menghantui setiap hari.

Mencari dan memilih rumah memang seperti halnya mencari jodoh. Tentunya banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Jangan sampai Anda merasa terjebak membeli rumah tanpa melakukan survei dan menggali informasi lebih lanjut.

Oleh karena itu, tak ada salahnya untuk menyimak hal-hal berikut ini, yang layak dihindari saat seseorang memutuskan membeli rumah.



- Hindari banjir. Ini menjadi harus pertimbangan utama bagi calon pembeli rumah terutama di kawasan Jakarta, Bogor, Bekasi, Depok, dan Tangerang. Buat apa beli rumah mewah fasilitas bagus, tapi selalu kebanjiran. Merepotkan bukan.

- Hindari lokasi tak aman. Pastikan keamanan terjamin 1x24 jam setiap hari. Buat apa membeli rumah bila saat ditempati atau ditinggal pergi, perasaan kita selalu was-was.

- Hindari fasilitas minim. Rugi bila membeli rumah tapi fasilitas minim. Perhatikan, minimal, di dalam rumah, listrik dan air harus layak pakai. Di luar rumah, fasilitas pendidikan, kesehatan, beribadah, area bermain, dan bersosialisasi harus tersedia dengan baik.

- Hindari wilayah rawan bencana. Selain banjir, rumah yang dekat tebing, di bawah saluran listrik tegangan tinggi, menara tinggi, layak untuk tak jadi pilihan. Sebaiknya dihindari.

- Hindari rumah pojok di gang buntu. Jalan buntu membuat privasi pemilik rumah jauh berkurang. Sirkulasi udara juga kurang maksimal.

- Hindari jalan yang tak masuk mobil atau hanya dilewati satu mobil. Rumah yang berada di jalan seperti ini juga layak dihindari. Jika pemilik perumahan itu masing-masing memiliki mobil, maka arus keluar masuk mobil akan sangat memusingkan. Di sini kesabaran tinggi akan sangat diperlukan.

- Hindari terlalu banyak teman sekantor. Privasi akan sangat kurang jika dalam satu perumahan terdapat terlalu banyak teman sekantor, misalnya di atas 10 teman sekantor dalam 100 kepala keluarga. Suasana dan atmosfer kerja akan terbawa sampai di rumah. Apalagi jika masalah kantor dibawa sampai ke rumah.

Mungkin masih ada daftar panjang lagi yang harus dihindari saat memilih atau membeli rumah. Silakan tambahkan di sini agar pembaca yang hendak membeli rumah tidak merasa 'terjebak' di dalam rumah sendiri, salam.

(Dinar K Dewi)

Rumah adalah salah satu benda paling berharga bagi setiap manusia yang menjalani kehidupan. Rumah adalah tempat untuk kembali setelah lel...
Menulis Indonesia 23 Jan 2019
Jedadulu

Trio Asus Zenbook 13, 14, dan 15, Desain Tertipis untuk Sosok Dinamis


Tren laptop tipis dengan bobot ringan saat ini menjadi pilihan banyak orang. Selain mendukung penampilan, laptop tipis juga memberikan banyak keuntungan, terutama bagi orang yang sehari-hari aktif seperti saya.

Apalagi saat bepergian sehari-hari, saya termasuk yang terbiasa membawa banyak barang sehingga memasukkan laptop tipis dan ringan dalam tas tentu tidak akan mengganggu kenyamanan saat saya beraktivitas.

Sudah menjadi rahasia umum, semua orang menginginkan laptop yang tipis, ringan, dan ringkas. Ringkas bukan berarti tipis karena banyak sekali laptop tipis namun masih memiliki dimensi yang besar. Salah satu penyebab utamanya adalah layar laptop yang seringkali memiliki desain dengan bezel lebar, membuat ukuran bodinya ikut melebar. Akibatnya, laptop menjadi tidak bisa dibilang ringkas dan memerlukan ruang ekstra untuk menyimpan atau membawanya.

Untunglah, di awal tahun 2019 ini tepatnya 17 Januari, Asus merilis seri laptop terbarunya di Indonesia. Laptop terbaru yang dirilis oleh Asus kali ini adalah Zenbook 13 (UX333),  Zenbook 14 (UX433), dan Zenbook 15 (UX533). Ketiganya memiliki desain bezel layar yang tipis dengan desain frameless Nano Edge Display. Keren!

Meskipun ketiga laptop ini sama-sama memiliki ukuran setipis kertas, namun tentu saja ada perbedaan pada ketiganya. Perbedaan yang paling terlihat terletak pada ukuran layarnya. Layar pada Asus Zenbook 13 berukuran 13,3 inci, Zenbook 14 berukuran 14 inci, dan Zenbook 15 berukuran 15,4 inci. Semuanya memiliki desain yang sangat ringkas dan tipis. Bahkan untuk varian 13,3 inci dan 14 inci, ukurannya lebih kecil daripada selembar kertas A4.

Saya mengenal produk Asus kali pertama pada 2008 silam. Saat itu suami saya yang bekerja di sebuah perusahaan swasta mendapat jatah laptop kantor, netbook Asus Eee. Sempat tertawa kalau mengingat namanya, Asus Eee. Eits tapi jangan salah, meski bentuknya kecil, harganya murah, dan terkesan seperti laptop mainan, netbook ini bandel dan sangat fungsional.

Hampir tujuh tahun suami saya menggunakan laptop ini. Termasuk saya dan anak saya yang sesekali pinjam laptop suami. Kami berhenti memakai laptop itu bukan karena rusak, tapi karena laptopnya harus dikembalikan ke kantor untuk peremajaan. Sejak itu, saya selalu merekomendasikan ke teman-teman yang sedang mencari laptop, betapa bagusnya produk-produk dari Asus ini.



Standar Baru Laptop Ultraportable


Sebagai produsen laptop terkemuka, Asus agaknya terus mengembangkan cara agar laptop tidak hanya semakin tipis, tetapi juga semakin ringkas. Solusi yang ditawarkan kali ini adalah melalui teknologi eksklusif Nano Edge Display yang membuat bezel pada empat sisi layar laptop dapat dibuat dengan ukuran hanya 2,8 milimeter hingga 5,9 milimeter.

Ukuran tersebut jauh lebih kecil dibandingkan laptop konvensional yang bezelnya bisa mencapai 20 milimeter. Ini sesuatu yang mungkin belum pernah dicapai oleh produsen laptop lain saat ini.

Berkat Nano Edge Display ini, jajaran ZenBook Classic terbaru, yaitu UX333, UX433, dan UX533 memiliki bodi yang lebih ringkas dibandingkan dengan laptop sekelasnya saat ini. Nano Edge Display juga membuat laptop tersebut memiliki screen-to-body ratio yang sangat tinggi, yaitu mencapai 95 persen sehingga layarnya terlihat lebih lega dan hampir tanpa batas.

Layar jajaran ZenBook Classic terbaru mengusung resolusi Full HD (1920x1080 pixel) dengan tingkat reproduksi warna tinggi, yaitu mencapai 100 persen dalam color space sRGB. Layar tersebut juga memiliki sudut penglihatan (viewing angle) yang sangat lebar, yaitu mencapai 178 derajat dan telah dilengkapi dengan berbagai teknologi visual eksklusif, seperti Asus Splendid dan Asus Tru2Life Video untuk pengalaman visual sempurna.

Asus NumberPad yang Unik


Pembeda utama pada layar ZenBook Classic terbaru kali ini adalah ukurannya. ZenBook UX333 mengusung layar 13 inci dan ZenBook UX433 mengusung layar 14 inci. Kedua laptop ini dilengkapi dengan fitur unik NumberPad, yaitu tombol numpad yang terintegrasi dengan touchpad.

Mungkin sebelumnya sudah ada yang pernah mendengar atau melihat ZenBook Pro 15 UX580 yang dilengkapi layar kedua di area touchpad-nya, maka kali ini Asus menghadirkan tambahan numpad Asus NumberPad pada touchpad ZenBook 13, 14, dan 15.

Dengan menekan tombol yang ada di pojokan, NumberPad akan muncul melalui lampu LED yang telah terintegrasi dengan touchpad. Asus NumberPad ini bisa digunakan layaknya sebuah numpad biasa untuk mengetikkan angka dengan lebih cepat. Sementara, ZenBook UX533 mengusung layar 15 inci dan dilengkapi dengan tombol numpad fisik.


NanoEdge display bukanlah satu-satunya teknologi eksklusif di laptop ini. Asus juga menyertakan jajaran ZenBook Classic terbaru dengan teknologi ErgoLift Design. Teknologi ini membuat bodi tiga ZenBook Classic terbaru menjadi terangkat dan membentuk sudut 3 derajat. Posisi tersebut membuat jajaran ZenBook Classic terbaru kali ini semakin ergonomis dan nyaman untuk mengetik.

Tidak hanya itu, keyboard seri ZenBook Classic terbaru ini dirancang secara khusus agar penggunanya semakin nyaman ketika mengetik. Asus menghadirkan full-size backlit keyboard yang menghadirkan pengalaman mengetik lebih nyaman dari sebelumnya.

Menggunakan key travel sejauh 1,4 milimeter, setiap tombol pada jajaran laptop ZenBook Classic terbaru terasa sangat nyaman ketika ditekan. Ditambah LED backlit, mengetik menggunakan laptop ini pun menjadi tetap nyaman meski dalam keadaan gelap.

Kembali ke ErgoLift Design, posisi bodi dengan sudut 3 derajat juga memberikan keuntungan lain. Karena bodinya terangkat, jajaran ZenBook Classic terbaru ini menjadi memiliki rongga ekstra di bawah bodinya ketika digunakan. Rongga ekstra tersebut membuat sirkulasi udara semakin lancar sehingga suhu komponen menjadi lebih terjaga. Selain itu, rongga tersebut juga membantu speaker pada laptop ini menghadirkan performa audio yang lebih baik.

Spesifikasi Premium tanpa Kompromi


Meski ZenBook UX333 merupakan laptop 13 inci paling ringkas di dunia, spesifikasi yang diusung oleh laptop ini dapat disandingkan dengan laptop premium yang ukurannya lebih besar. Ditenagai oleh prosesor kencang Intel Core generasi ke-8, ZenBook UX333 sangat ideal untuk digunakan bekerja serta sebagai pusat hiburan.


Asus juga menyematkan discrete GPU NVIDIA ke dalam laptop ini. GPU tersebut membuat seri ZenBook Classic terbaru semakin powerful dalam hal performa grafis. GPU tersebut juga memastikan pengalaman visual yang jauh lebih baik ketimbang laptop yang hanya menggunakan integrated GPU.

Tak tanggung-tanggung, untuk ZenBook UX533, Asus menyematkan GPU NVIDIA GeForce GTX 1050 Max-Q. Menggunakan GPU powerful tersebut, ZenBook UX533 dapat diandalkan untuk menjalankan berbagai aplikasi yang membutuhkan performa grafis ekstra seperti video editor. Selain itu, GTX 1050 Max-Q juga membuat ZenBook UX533 bisa menjalankan berbagai game.

Sementara di ZenBook UX333 dan UX433, Asus menghadirkan GPU NVDIA MX150 yang sangat mumpuni untuk menemani kebutuhan bekerja dan hiburan sehari-hari. GPU ini juga sangat hemat daya dan membuat kedua laptop ini bisa menemani penggunanya seharian.

Performa jajaran ZenBook Classic terbaru ini semakin optimal berkat penggunaan NVMe SSD sebesar 512GB. NVMe SSD memiliki kecepatan baca dan tulis yang lebih cepat dibandingkan SSD SATA standar. Ditemani dengan RAM berkapasitas hingga 16GB, seri ZenBook Classic terbaru ini dipastikan akan bisa menemani segala aktivitas sehari-hari penggunanya.

Ekstra Aman dengan Konektivitas Lengkap


ASUS ZenBook UX333, UX433, dan UX533 merupakan salah satu lini laptop yang dibekali dengan sistem keamanan menggunakan face recognition (sistem pengenal wajah) yang terintegrasi dengan Windows Hello. Fitur ini memungkinkan penggunanya untuk masuk ke dalam sistem tanpa harus memasukkan password atau pun PIN.

Sistem pengenal wajah ini menggunakan kamera inframerah khusus yang dapat memindai wajah secara akurat. Bahkan, kamera di seri ZenBook Classic terbaru ini masih dapat mengenali penggunanya meski menggunakan aksesori seperti topi atau kacamata. Sistem keamanan ini membuat seri ZenBook Classic terbaru lebih aman sekaligus mudah digunakan.

Selain hadir dengan sistem keamanan yang lebih baik, seri ZenBook Classic terbaru kali ini juga hadir dengan fitur konektivitas yang lengkap. Seri ZenBook Classic terbaru mengandalkan dual-band WiFi 802.11ac (2x2) untuk koneksi cepat dan stabil.

Melengkapi konektivitas nirkabelnya ada pula Bluetooth 5.0 yang bisa digunakan untuk menghubungkan berbagai perangkat eksternal. Sementara, konektivitas melalui kabel pada jajaran laptop ini disokong oleh serangkaian port mulai dari USB Type-A dan Type-C, HDMI, hingga combo-audio jack untuk kebutuhan data, audio, dan video.

Tangguh, Bersertifikasi Military Grade


Seri ZenBook terbaru sudah mengantongi sertifikasi Military Grade MIL-STD-810G. Ini menandakan bahwa laptop ini memiliki durabilitas tinggi.

Selain lolos standar uji ketahanan internal ASUS, jajaran laptop terbaru ini juga lolos berbagai pengujian ekstrem, termasuk pengujian pada ketinggian dan kelembapan ekstrem. ZenBook merupakan laptop ultra-tangguh sekaligus ultra-portabel yang tepat untuk para profesional on-the-go.

Kolaborasi Eksklusif dengan Sebastian Gunawan


Sejak pertama kali diperkenalkan, ZenBook merupakan seri laptop yang tidak hanya mengedepankan performa dan fitur, tetapi juga estetika. Untuk itulah Asus berkolaborasi dengan desainer fashion ternama Sebastian Gunawan. Dalam kolaborasi kali ini, Asus menghadirkan tas ZenBook yang didesain secara eksklusif oleh Sebastian Gunawan. Wah, sangat cocok buat Kaum Hawa seperti saya.

Pembeli ZenBook 13 UX333, ZenBook 14 UX433, dan ZenBook 15 UX533 pada periode 17 Januari hingga 17 Februari 2019 berkesempatan untuk mendapatkan tas eksklusif ini secara cuma-cuma selama persediaan terbatas. Untuk mengklaim, pembeli dapat mengunjungi situs Asus dan memasukkan kode serial number dari perangkat yang dibeli.


Pembeli juga bisa mendapatkan tas eksklusif ini secara langsung (selama persediaan masih ada) jika membeli ZenBook 13 UX333, ZenBook 14 UX433, atau ZenBook 15 UX533 pada periode promosi di Asus Exclusive Store.

Dengan berbagai keunggulan serta fitur menarik yang ditawarkan dalam bodi yang sangat ringkas, berapa harga keluarga ZenBook 13, 14, dan 15 ini? ZenBook 13 dan 14 akan tersedia dalam beberapa varian dijual dengan harga mulai dari Rp 15.299.000. Sementara ZenBook 15 hanya akan tersedia dalam satu varian dan dijual dengan harga Rp 26.999.000.

Duh, bikin ngiler saja nih laptop produk terbaru Asus. Gak bakalan rugi deh beli produk yang satu ini. Saya pun (jangan ditanya) pasti pengen banget. Apalagi kalau ada yang mau kasih gratis hehehe….Biar nggak pinjam laptop punya kantor suami saya terus kalo sedang bikin tulisan di blog.

(Dinar K Dewi)




Spesifikasi Produk

Main Specification
ASUS ZenBook 13 UX333, ZenBook 14 UX433, ZenBook 15 UX533
CPU
Intel Core i5 8265U Quad Core Processor (6M Cache, up to 3.4GHz)
Intel Core i7 8565U Quad Core Processor (8M Cache, up to 4.6GHz)
Operating System
Windows 10 Home
Memory
Up to 16GB LPDDR3 RAM
Storage
Up to 512GB M.2 NVMe PCIe SSD
Display
13,3” (16:9) FHD (1920x1080) with NanoEdge Display (UX333)
14” (16:9) FHD (1920x1080) with NanoEdge Display (UX433)
15,6” (16:9) FHD (1920x1080) with NanoEdge Display (UX533)
Graphics
Discrete graphics NVIDIA GeForce GTX 1050 Max-Q (UX533)
Discrete graphics NVIDIA GeForce MX150 (UX333 & UX433)
Integrated Intel UHD Graphics 620
Input/Output
1 x USB3.1 Type-C (GEN 2), 1x USB 3.1 Type-A (Gen 2), 1x USB 3.1 Type-A (Gen 1), 1 x HDMI, 1 x Microphone-in/Headphone-out jack, 1 x MicroSD Card Reader
Camera
HD IR/RGB Combo Camera
Connectivity
Dual-band 802.11ac gigabit-class Wi-Fi, Bluetooth 5.0
Audio
Harman Kardon certified audio system with ASUS SonicMaster surround-sound technology, Array microphone with Cortana voice-recognition support
Battery
50WHrs 3-cell battery (UX333 & UX433)
73WHrs 4-cell battery (UX533)
Dimension
(WxDxH) 302 x 189 x 16,9 mm (UX333)
(WxDxH) 319 x 199 x 15,9 mm (UX433)
(WxDxH) 354 x 220 x 17,9 mm (UX533)
Weight
1,19Kg with Battery (UX333 & UX433)
1,67Kg with Battery (UX533)
Colors
Royal Blue, Icicle Silver, Burgundy Red
Price
Start from Rp15.299.000
Warranty
2 tahun garansi global

Sumber: http://www.bloggerien.com


Daftar Asus Exclusive Store di Seluruh Indonesia

Kota
Nama
Lokasi
Medan
Plaza IT
Sun Plaza LG - Medan
Medan
Softcom
Plaza Medan Fair Lt 4 - Medan
Yogyakarta
CV Kana
Jogjatronik Lt 2 Jl. Brigjen Katamso No. 77 - Yogyakarta
Jakarta
IT Gallery
Mall Taman Anggrek Lt 3 E10 – Jakarta
Jakarta
MEGACOM
Mangga Dua Mall Lt. 4 No 6 – Jakarta
Jakarta
Victory
Mangga Dua Mall Lt. 3 No 10A – Jakarta
Jakarta
Sinar Bintang
Mangga Dua Mall Lt. 3 No 15B – Jakarta
Jakarta
JIIFO
Harco Mangga Dua Lt 1 Blok B No. 88
Jakarta
Mitra Sentosa
Harco Mangga Dua Lt 1 Blok B No. 86
Jakarta
Istana Computer
Ratu Plaza Lt 3 No. 16 - Jakarta

Tren laptop tipis dengan bobot ringan saat ini menjadi pilihan banyak orang. Selain mendukung penampilan, laptop tipis juga memberikan ...
Menulis Indonesia 22 Jan 2019