Hamil di Atas Usia 40 Tahun, Antara Mungkin dan tak Mungkin

(Kehamilan dan senja/foto:pixabay)

Rambutnya kusut masai. Wajahnya terlihat sendu. Bibirnya terkatup menjepit sebuah plastik kecil berisi testpack bergaris dua.

Itulah penampakan fotonya yang dikirimkan ke WA saya. Sebenarnya saya ingin tertawa, tapi takut kualat. Namun tak tahan akhirnya saya tertawa juga.

Walau setelah dipikir-pikir lagi, apa yang terjadi pada kakak ipar saya itu bisa terjadi pada siapa saja. Hamil lagi di usia yang tak lagi muda.

Mungkin tak pernah terbayang olehnya, akan kembali berbadan dua di usianya yang sudah akan menginjak 46 tahun. Anak bungsunya yang terancam gagal jadi bungsu itu telah berusia 16 tahun dan duduk di bangku SMA. Dan kedua kakaknya sudah duduk di bangku kuliah. Bahkan si sulung sudah akan wisuda sarjana.

Berbekal kepedean gak mungkin hamil mengingat usia yang sudah tak muda lagi membuat ia teledor. Hanya mengandalkan sistem kalender untuk mencegah kehamilan. Padahal sistem kalender merupakan sistem kontrasepsi (KB) yang paling besar peluang kegagalannya. Sebenarnya bisa dibilang kepedean kakak ipar saya itu tidak 100 persen salah.

Banyak literatur yang memang menyatakan usia subur perempuan itu sampai puncaknya pada 35 tahun. Dan akan terus menurun seiring bertambahnya usia. Sedangkan untuk usia di atas 45 tahun, probabilitas kehamilan hanya sekitar 1-2 persen saja per tahun. Sangat kecil. Tapi bukan mustahil.

Sebenarnya banyak contoh perempuan yang tetap hamil walau usia sudah merangkak senja. Sebut saja, aktris film Rachel Weisz yang hamil di usia 48 tahun. Penyanyi Celine Dion yang hamil anak kembarnya di usia 42 tahun. Aktris Halle Berry yang hamil anak kedua di usia 47 tahun. Bahkan Brigitte Nielsen, mantan istri aktor Sylvester Stallone hamil anak kelimanya di usia 54 tahun! Dan masih banyak lagi contohnya kalau mau disebutkan.

Memang sih, secara medis kehamilan di atas usia 40 tahun tergolong kehamilan risiko tinggi. Berbagai masalah bisa mengintai selama kehamilan. Seperti dilansir dari klikdokter.com, dr Dyan Mega Inderawati memaparkan kalau kehamilan bisa menyebabkan tekanan darah tinggi dan diabetes, kehamilan kembar, kelainan kromosom pada anak yang menyebabkan anak lahir dengan down syndrom, keguguran, plasenta previa, bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), dan kemungkinan besar lahir dengan cara operasi cesar.

Seram ya risikonya? Tapi jangan takut karena dr Dyan juga memberikan tips-tipsnya bagaimana sebaiknya seorang ibu menjalani kehamilan di usia sangat matang ini untuk mengurangi segala risiko yang mungkin terjadi. Yakni mengonsumsi multivitamin asam folat setiap hari selama kehamilan, makan makanan bernutrisi, tidak minum alkohol atau minum obat-obatan sembarangan, dan tak kalah pentingnya melakukan perawatan antenatal/pra-persalinan secara teratur ke dokter atau bidan.

Berkaca dari kasus yang terjadi pada kakak ipar, saya jadi berpikir sisi positif dari masih mampunya seorang perempuan untuk hamil di usia yang menurut medis sangat kecil kemungkinannya itu. Yaitu, si ibu hamil adalah orang yang sangat sehat fisiknya. Karena logika saya, di kategori usia subur saja perempuan sulit hamil ketika fisik bermasalah. Apalagi di usia yang sudah lewat dari masa suburnya.

Tapi itu hanya analisa saya saja ya hehehe… sebagai orang awam yang kadang sok tau. Karena kakak ipar saya yang saya tahu, kebetulan sebagai penganut gaya hidup sehat. Sehari-hari ia adalah guru senam dan pengonsumsi produk kesehatan H***a**f*. Gak tau juga si pengaruh atau enggaknya. Itu cuma dugaan saya saja.

Namun yang pasti kehamilan di atas usia 40 tahun bukanlah sesuatu yang mustahil. Bisa terjadi pada perempuan mana saja terlebih bila fisiknya prima. Dan ini merupakan kabar baik tentunya bagi sebagian perempuan yang mungkin tak keberatan untuk hamil di atas usia 40 tahun. Baik yang hamil karena “kebobolan” atau memang karena menginginkan.

(Dinar K Dewi)
 




loading...

No comments