Pranaraksa: Agar Buah Lokal Nusantara tak Semakin Langka

(Foto-foto: jedadulu.com)

Kenal dengan Bintaro, Menteng, Kemang, Gandaria, Matoa. dan sebagainya? Jika Anda menganggap dan menjawab itu semua adalah nama-nama sejumlah wilayah di Jakarta dan sekitarnya, jawaban Anda tentu tak salah. Namun pahamkah bila nama-nama itu adalah nama jenis buah lokal Nusantara?

Mungkin sebagian yang sudah berusia dewasa setengah tua atau lanjut usia, mengenal nama-nama itu sebagai nama buah. Ada pula yang paham karena pernah belajar toponimi alias ilmu yang berkaitan dengan penamaan suatu wilayah. Namun kemungkinan sebagian besar dari kita tak mengenal nama-nama itu sebagai nama buah, layaknya buah pisang, mangga, jeruk, apel, anggur, semangka, melon, rambutan, dan lain sejenisnya.

Lantas bagaimana bisa nama-nama buah lokal itu tak begitu dikenal dan bahkan bisa dikatakan langka? Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati, menuturkan, buah menjadi langka salah satu cirinya adalah buah itu tidak enak dimakan, misalnya pahit atau terlalu asam. Sehingga, jenis buah seperti ini tak banyak ditanam dan diperjualbelikan.



Ini juga bisa menjadi alasan buah yang sebelumnya sempat langka, ketika disantap ternyata enak atau bisa dijadikan menu tambahan, kini menjadi tak langka lagi. Sebut saja ciplukan atau sering dikenal dengan groundcherry atau goldenberry. Ciplukan kini banyak beredar di supermarket dan mall-mall besar dan sudah dikemas memikat sehingga daya jualnya tinggi.

Adapun untuk mengetahui sebuah tanaman buah disebut langka atau tidak bisa dilakukan dengan berbagai cara. Enny menyebutkan, cara itu antara lain dengan melihat literatur atau database flora/fauna yang kini sudah banyak beredar. Bisa juga pergi ke Herbarium (material tumbuhan yang telah diawetkan) dengan membawa sampel lengkap spesimennya, seperti daun, bunga, dan buah. Atau bisa pula melalui kajian toponiminya, termasuk bertanya pada penduduk asli setempat.


Nah, untuk menyelamatkan buah langka Nusantara, sejak tahun 2017, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan PT Astra International Tbk bekerja sama melalui program Konservasi Keanekaragaman Buah Langka Nusantara (Pranaraksa). Program ini berupaya menghindari kepunahan buah langka melalui pengumpulan, pendataan, pembibitan, dan penyebarluasan kembali ke masyarakat.

Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah Pelatihan Pegiat Pranaraksa yang berlangsung pada Rabu, 13 Februari 2019 lalu, di Pusat Pembinaan, Pendidikan, dan Pelatihan LIPI di Cibinong, Bogor, Jawa Barat.

Enny mengungkapkan, pelatihan ini merupakan awal yang baik untuk mengenal konservasi hayati dan LIPI sebagai scientific authority. “Semua pihak memiliki kewajiban ikut terlibat dalam perlindungan sumber daya alam hayati dan ekosistem Indonesia. Oleh karena itu, kolaborasi antara LIPI dan Astra harus tetap terjalin dengan baik,” jelas Enny.

Menurut Team Leader of Environment and Social Responsibility Division PT Astra International Tbk, Bondan Susilo, di tahun 2019, selain fokus pada penanaman buah langka, Program Pranaraksa juga mulai fokus terhadap pengembangan softskill individu para praktisi melalui program yang inovatif dan implementif. “Salah satu kegiatan nyata yang mengawali program kerja sama LIPI dan Astra adalah dengan diadakan pelatihan Pegiat Pranaraksa 2019,” jelasnya.


Materi yang didapatkan selama pelatihan adalah edukasi tentang pengetahuan dasar mengenai konservasi keanekaragaman hayati, khususnya buah langka Nusantara, proses penanaman dan perawatan tumbuhan yang baik dan efektif. Selain itu, juga rencana strategis jangka pendek, menengah, dan panjang dalam melakukan keanekaragaman hayati.

Peserta juga melakukan praktik penanaman pohon buah langka di area pembibitan kerjasama Astra-LIPI serta kunjungan ke laboratorium biak sel dan jaringan tanaman Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI.


Program mulia ini tentu akan menegaskan keberadaan Indonesia sebagai negara mega biodiversity yang memiliki keanekaragaman hayati baik flora dan fauna yang sangat kaya. Berdasarkan penelitian, 10 persen tumbuhan, 12 persen mamalia, 16 persen reptil, 17 persen burung, dan 25 persen ikan yang ada di dunia hidup di Indonesia. Padahal luas Indonesia hanya 1,3 persen dari luas Bumi.

Pranaraksa diharapkan menepiskan kekhawatiran banyak pihak, terutama kekhawatiran sebagai negara mega biodiversity namun tak memiliki atau hanya sedikit memiliki tanaman atau buah asli dari negeri sendiri. Akan terasa aneh.

Jangan sampai anak-cucu kita kelak tak mengenal buah lokal negeri sendiri. Jangan sampai buah lokal kita semakin langka dan akhirnya punah (seperti dinosaurus, ya). Jangan sampai. Karena kalau bukan kita sendiri, siapa lagi yang menjaga keanekaragam hayati negeri ini.

 (Dinar K Dewi)

loading...

No comments