Kembali Travelling ke Yogyakarta, Bromo, Lalu Bali


(Candi Prambanan, Yogyakarta/Foto: jedadulu.com)


Pulang ke kotamu...iya kotamu, bukan kotaku, tapi kami akan selalu merindukan kotamu. Di lain hari, kami akan pulang lagi ke kotamu...Yogyakarta.

Ya, Yogyakarta memang menjadi salah satu kota yang ngangenin seperti alunan lagu karya KLA Project yang ngehits di akhir tahun 1980-an. Kami dengan formasi lengkap, saya, suami, dan dua buah hati, Damar (13 tahun) dan Dita (7) kesampaian juga main-main ke Yogyakarta selama tiga hari pada Agustus 2018 lalu atau beberapa hari setelah Lebaran.

Semua serbadadakan, tak direncanakan. Asal jalan saja karena kebetulan suami sedang cuti dan anak-anak masih liburan panjang sekolah. Soal Yogyakarta, kami memang sudah lama mengidamkan akan berwisata ke sana. Tapi sebenarnya tidak pada 2018.

Kami mengindamkan travelling bersama keluarga kecil terutama untuk mempererat ikatan batin antara kami, mempertebal kekayaan batin, dan memperluas wawasan pada dua buah hati kami.

Yogyakarta adalah ikon wisata di Indonesia selain Bromo dan Bali yang menjadi resolusi travelling keluarga kecil kami. Selain menawarkan wisata lengkap, alam, alternatif, dan budaya, kebetulan jarak terdekat dari tempat tinggal kami di Kota Depok, Jawa Barat, adalah Yogyakarta. Jika ini dibanding Bromo dan Bali ya.

Jadilah Yogyakarta destinasi pertama kami untuk berpetualang berempat. Kami perkirakan dengan jarak paling dekat tak akan terlalu menguras isi kantong sisa tunjangan hari raya (THR).

Dari Depok dengan MPV lama buatan Korea yang dikendarai suami, kami pun berangkat sejak habis Subuh di hari Selasa. Jalan saja sampai masuk tol, keluar tol, masuk tol, keluar tol lagi, jalan berliku karena lewat Bumiayu, hingga sampai Yogykarta sekitar pukul 23.00 WIB. Benar-benar nggak direncanakan asalkan sampai Yogyakarta dulu.

Padahal, suami baru sekali ke Yogyakarta pas study-tour saat masih duduk di bangku SMP. Sementara, saya dan anak-anak boro-boro, baru kali ini menginjakkan kaki di Yogyakarta. Sanak-saudara di Yogya? Hehehe...kami tak punya. Modal kami hanya nekad dan Google Maps.

Untunglah saat di rest area selama perjalanan, suami sempat menghubungi kenalannya yang sedang bertugas di Yogyakarta untuk referensi penginapan. Di Yogyakarta, sejak lama kami ingin melihat Candi Borobudur, Candi Prambanan, Malioboro, Keraton Yogyakarta, Taman Sari Yogyakarta, dan Pantai Parangtritis. Tempat-tempat itu selain ikonik juga kebetulan lokasi study-tournya suami pas SMP. Yah, sekalian napak tilas mungkin.

Kenalan suami pun menyarankan untuk mencari penginapan di daerah Sleman karena relatif dekat dengan obyek wisata yang kami tuju. Hmm, kami ikutin saja gak ada salahnya, toh kami memang sama sekali buta medan. Dan, tak sulit menemukan penginapan di Sleman, banyak betebaran. Kami memilih penginapan di daerah Condong Catur.

(Di Candi Borobudur/Foto: jedadulu.com)

Singkat cerita, tujuan kami ke Candi Borobudur (ini di Kota Magelang sebenarnya), Candi Prambanan, Malioboro, Taman Sari, Keraton Yogyakarta, Pantai Parang Tritis, pun akhirnya kesampaian. Puas? Tentu saja tidak.

Semakin sering keliling Yogyakarta, kami semakin paham banyak obyek wisata lain yang tak kalah bagus dan (sedihnya) terlewat dari pantauan kami. Masih ada candi-candi selain Borobudur dan Prambanan yang ternyata tak kalah eksotik. Bahkan ada puluhan jumlahnya yang tersebar di Yogyakarta dan sekitarnya.

Belum lagi wisata alam yang terlewat, seperti Kaliadem, Bukit Kali Kuning, Kalibiru, Kaliurang, Air Terjun Kedung Pedut, Embung Nglanggeran Gunung Kidul, Pantai Indrayanti, Tebing Breksi, Hutan Pinus Mangunan, dan masih ada lagi puluhan obyek wisata yang terlewat oleh kami. Ini semua karena kami travelling secara dadakan.

(Damar di Pantai Parangtritis/Foto: jedadulu.com)

Padahal, semestinya setiap perjalanan membutuhkan itinerary. Ini agar tidak keluar dari tujuan dan bisa menetapkan budget yang diperlukan, terutama bagi traveller dengan budget perjalanan yang terbatas seperti kami.

Sayangnya, kami baru menemukan referensi travelling terbaik pada awal tahun 2019 ini di blog RedDoorz. Di sini ada referensi dan rekomendasi mulai dari destinasi wisata, tips-trik, kuliner, bahkan akomodasi penginapan pun ada.

Kami pertama kalinya mendengar nama RedDoorz dari salah seorang Blogger yang hobi banget traveling dan solo-trip dengan budget yang sangat murah. Sampai akhirnya ia berbagi tips and trik plus menyarankan untuk menggunakan RedDoorz sebagai pilihan utamanya.

(Salah satu kamar di RedDoorz/foto: reddoorz.com)

Coba kalau Agustus 2018 kemarin kami sudah kenal RedDoorz, mungkin jalan-jalan ke Yogyakarta akan lebih terarah dan terpuaskan. Tapi lebih baik tahu sekarang daripada tidak sama sekali, bukan?

Berbicara mengenai penginapan, kami selama ini memang tidak mencari penginapan mahal nan mewah di hotel berbintang lima. Kami lebih memilih penginapan low budget namun tetap dengan fasilitas yang lengkap.

Nah, bagi Anda yang hobi travelling dan menggunakan penginapan di dormitory hostel atau hotel-hotel murah, fasilitas yang nyaman, dan lokasi strategis dengan harga terjangkau, RedDoorz bisa jadi solusinya. Ia bisa memanjakan kebutuhan penginapan Anda tanpa perlu ragu dan khawatir dengan biaya.

RedDoorz selalu memberikan pelayan terbaiknya untuk para tamu yang menginap, interior dan fasilitas yang nyaman, bersih dan juga wangi, enak buat liburan sambil kerja atau bersama keluarga, seperti kami. Tentu, dengan harga yang tidak menguras isi kantong.

Meskipun harganya bersahabat, bukan berarti fasilitasnya ala kadarnya. Ini karena RedDoorz mengutamakan kenyamanan tamu. RedDoorz merupakan jaringan penginapan budget online terbesar di Indonesia dengan standar pelayanan yang berkelas. RedDoorz menjamin standar pelayanan service assurance pada setiap kamar yang tersedia dan dilengkapi juga dengan enam guarantee service:

Ø  Akses Wifi Gratis
Ø  Kamar Mandi yang Higenis dan Bersih
Ø  Televisi dengan Parabola tersedia semua kamar
Ø  2 Botol Air Mineral Gratis
Ø  Linen (Sprei) Bersih
Ø  Perlengkapan Mandi (Sabun, Shampo, Sikat Gigi, dan Moisturizer)




RedDoorz terdiri dari 3 tipe, yaitu RedDoorz (standar), RedDoorz Plus, dan RedDoorz Premium. Perbedaannya terletak pada besarnya kamar, lokasi properti, dan fasilitas lainnya. Jadi kita bisa memilih properti sesuai dengan budget kita.

Kamar RedDoorz tersebar di Indonesia, tinggal pilih destinasi yang ingin kita kunjungi, maka di aplikasi muncul banyak pilihan kamar yang bisa kita pilih. Harga kamar dari RedDoorz sangat terjangkau, sesuai dengan slogannya, “Comfortable Rooms at Great Prices.”

Tak hanya fasilitasnya yang lengkap, harga bersahabat, dan cari booking-nya mudah, tapi RedDoorz juga kerap memberikan promo atau potongan harga. Metode pembayarannya pun cukup lengkap, bisa menggunakan kartu kredit, transfer antarbank, bahkan metode pembayaran yang memungkinkan kita sebagai traveller untuk membayar langsung ke hotel. Wah kurang lengkap gimana coba? Tidak alasan untuk tidak memilih RedDoorz.


Itulah resolusi traveling kami tahun 2019 ini. Sebuah resolusi traveling yang sudah terjawab dengan kehadiran RedDoorz. Traveling tidak lagi ribet. RedDoorz sudah memberikan panduannya di dalam blog RedDoorz serta banyak pilihan penginapan murah yang bisa dipesan di dalam genggaman aplikasi.

Lain kali, jika kembali ke Yogyakarta, kami tak akan bingung lagi mau menginap di mana atau mau ke mana. Atau jika kesampaian ke Bromo dan Bali, kami tak akan ribet lagi membuat itinerary. Ini lantaran RedDoorz pasti menyediakan referensi wisata plus kamar yang nyaman dan pas di kantong. Liburan pun bakal semakin terarah dan menyenangkan.

(Dinar K Dewi)
loading...

No comments