Aku dan Asperger



Namaku Damar, suka huruf tak suka angka. Sekarang aku duduk di kelas 9 sebuah SMP negeri  di Depok. Di sini aku akan menceritakan pengalaman hidupku sebagai anak yang didiagnosa menyandang sindrom asperger atau biasanya disebut high-functioning autism.

Awalnya, saat aku masih balita orang tuaku sering kesal karena aku dianggap aneh dibanding teman teman sebaya. Misalnya, ada film kartun Thomas and His Friends yang membuat aku selalu takut. Aku takut karena suara kereta di film itu sangat kencang bahkan aku sampai teriak-teriak ketakutan saat mendengar suara itu. Karena takut, saat masih TK aku juga pernah bersembunyi di bawah pot tanaman karena mendengar suara helikopter yang sedang melayang di atas rumah.

Bukan cuma saat TK, saat kelas 4 SD aku juga pernah lari ketakutan, menjauhi orang tuaku, dan bahkan mau hilang di tengah kerumunan orang. Saat itu aku takut ada ondel-ondel di festival layang layang di Monas, Jakarta. Tapi syukurnya, aku dapat ditemukan oleh orang tuaku dan aku dimarahin sama orang tuaku. Katanya, kalau takut sama sesuatu seharusnya mendekat ke orang tua bukannya menjauh dari orang tua orang tua.

Kala itu aku tak bisa berpikir untuk lari ke orang tua karena terlalu cemas dan takut. Aku ketakutan bukan karena ondel-ondel tapi karena suara musiknya yang kencang.

Dulu aku sudah bisa membaca dengan lancar saat duduk di TK B, tetapi tulisan tanganku belum juga rapi sampai sekarang. Aku pun mulai berpikir kenapa sekolah tidak pakai komputer saja untuk menulis daripada ribet-ribet menulis pakai pensil.

Orang tuaku, terutama ibuku mulai mengetahui aku mengalami hambatan belajar saat aku kelas 1 SD. Saat itu sudah mulai belajar membaca, tulis, dan hitung. Bu guru awalnya mengira aku tidak bisa menulis karena saat itu aku disuruh menyalin tulisan di papan tulis dan aku selalu kurang bisa. Tapi saat aku didikte oleh guru kelasku, aku justru bisa menulis kata-kata, malah teman temanku masih banyak yang kesulitan saat menulis dikte.

Karena itulah saat terima rapor kelas 1 SD guruku berkata pada ibuku. Ia sudah bertahun tahun mengajar dan baru bertemu satu murid yang katanya unik seperti aku. Usia guruku itu sudah 60 tahun. Bu guruku itu lalu menyarankan orang tuaku untuk pergi ke psikolog.

Saat kelas 1 SD, aku juga ingat saat tes menangkap bola basket di pelajaran olahraga. Bola basket itu bukannya aku tangkap tapi malah kutangkis meskipun aku sudah berkali kali mencobanya aku masih takut untuk menangkapnya.

Tapi saat dibawa ke psikolog katanya aku tidak memiliki masalah pada IQ. Tapi motorik kasar dan halusku sangat kurang. Sangat lemah.

Bundaku pernah bercerita saat TK semua murid masuk kelas, aku malah keliling mondar-mandir lapangan membawa payung. Itulah sebabnya aku tidak memiliki teman saat masih anak kecil. Aku kurang mengerti dan susah membedakan orang sedang serius atau bercanda. Karena aku katanya agak aneh, aku sering dibully. Aku nyaris tidak punya teman dan di masjid aku sering diganggu dan diledekin karena aku belum lancar membaca al-Quran. Di lingkungan rumahku banyak yang anak ustaz jadi aku suka diledekin. 

Mereka menyombongkan diri dan biasanya saat aku pulang dari Shalat Maghrib dan Isya, sandalku sering diumpetin. Tapi teman teman di lingkungan rumahku tidak ada yang mengaku menyembunyikan sandalku.

Pernah suatu hari aku dimarahi ayahku karena aku memegang sandalku di tangan saat Shalat Maghrib. Aku berpikir agar tidak ada yang menyembunyikan sandalku karena aku memeganginya di tangan. Tetapi itu malah mengundang anak anak lain untuk merebut sandalku dan aku mengejar anak anak yang menyembunyikan sandalku dan setelah selesai shalat di masjid itu langsung heboh karena aku teriak-teriak dan ayahku pun memarahiku. 

Karena itu, ayahku sejak aku kecil tidak mengizinkanku bermain terlalu lama di luar rumah. Ayahku terlalu khawatir aku dibully karena tingkahku aneh dan berbeda dengan anak lain. Bahkan karena dianggap aneh, kakek-nenekku yang dari Jawa menyarankan orang tuaku mengganti namaku. Sejak SD aku pun ganti nama dari Danar menjadi nama seperti sekarang. Ayahku selalu menyuruhku untuk tetap di rumah dan membelikan banyak DVD dan membiarkan aku menonton televisi sepuasnya. Jadi saat kecil aku selalu merasa memiliki dunia sendiri.

Itu sebabnya aku tidak pernah berteman dengan anak anak di sekitar rumahku. Sampai sekarang aku belum berbaikan dengan mereka. Terkadang aku masih sedih mengingat masa kecilku saat aku tidak punya seorang pun teman.

Aku mau cerita aku sudah pernah tiga kali pindah sekolah. Yang pertama karena aku pindah dari Jakarta ke Depok dari kelas 3 di SDN di Jakarta Barat ke SDN di Depok. Tapi aku tak lama di SDN Depok itu karena saat pelajaran bahasa Inggris, guruku sering mengatai aku idiot karena dianggapnya sulit mengikuti perintah. Saat aku cerita ke orang tuaku, ibuku langsung ke sekolah untuk melabrak guru bahasa Inggris.

Di kelas 4 SD, saat sudah mendekati waktu berangkat sekolah, aku sering muntah-muntah dan pilek tapi saat sudah selesai waktu sekolah aku malah baik-baik saja. Itu hampir terjadi setiap hari. Orang tuaku pun menilai kalau aku stres karena terlalu sering di-bully di sekolah. Sama seperti di TK, aku saat SD masih suka mondar-mandir keliling kelas atau keliling sekolah.

Orang tuaku lalu memindahkanku ke sebuah Sekolah Alam saat pertengahan semester di kelas 4. Di sana aku hanya punya tiga teman sekelas, Ridho, Zahran, dan Safiyah. Aku bersekolah di sana sampai lulus SD. Semula teman-temanku menganggap aku menyebalkan karena aku banyak bicara di sekolah. Tapi lama-kelamaan mereka sudah terbiasa. Di sekolah alam, aku bertemu seorang guru yang menyenangkan bernama Hamidi Rohim. Kami berempat memanggilnya Pak Midi. Aku dulu memang suka banyak bertanya sama Pak Midi, tapi ia dengan sabar selalu menjawab semua pertanyaan-pertanyaanku.

Pak Midi bukan hanya sekadar guru, tapi juga sekaligus teman bagi kami berempat. Begitulah aku sampai pindah sekolah karena aku dianggap aneh di sekolah negeri. Ibuku memilih sekolah alam karena di sana anak normal dan anak berkebutuhan khusus dapat hidup berdampingan tanpa ada yang meremehkan satu sama lain. Guru-guru di sekolah alam juga tak memarahiku yang masih sering mondar-mandir saat pelajaran sekolah.

Setelah lulus SD, aku mendapatkan nilai UN yang lumayan di pelajaran Bahasa Indonesia dan IPA. Tapi nilaiku jeblok di matematika. Inilah pelajaran yang paling tidak aku suka bahkan nilaiku termasuk buruk untuk pelajaran matematika. Saat aku melihat hasil ulangan matematika, aku menangis tersedu sedu. Tapi ibuku menenangkanku dan bilang tak semua orang jago matematika.

Lulus SD, aku kembali masuk ke sekolah negeri, karena di sekitar rumahku tak ada sekolah alam untuk SMP. Alasan lainnya karena faktor ekonomi. Sekolah di negeri gratis.

Saat aku masuk SMP negeri di Depok, aku harus melakukan banyak penyesuaian karena keadaan di SD sekolah alam dan SMP negeri jauh berbeda. Contohnya, di sekolah alam tidak perlu pakai seragam yang penting saat sekolah menutup aurat dan sopan. Di SMP waktu belajar juga lebih banyak. Padahal di sekolah alam dulu banyak mainnya, sampai-sampai mendapat julukan TK alam he he he karena waktu untuk bermain lebih banyak dari waktu untuk belajar. Dan di SMP juga ada kegiatan yang tidak ada di sekolah alam yaitu upacara bendera hari Senin.

Saat aku duduk di kelas 7, guru wali kelasku mengajar pelajaran bahasa Indonesia. Ia selalu menegurku karena tulisanku sulit dibaca. Itu sebabnya ia memberiku PR untuk menulis rangkuman materi apa saja dan disetorkan kepadanya setiap hari.

Di sekolah alam juga tidak ada pramuka. Mungkin juga karena aku tidak punya pengalaman dalam tali-menali, membuat tenda, atau hal lainya jadi aku tidak punya regu pramuka karena tak ada kelompok yang mau menerimaku. Aku sudah berkali-kali meminta guru pramuka untuk memasukkanku ke dalam kelompok, tapi guru pramukaku malah cuek.

Di kelas 7 aku juga pernah punya masalah dengan guru SBK. Guru itu suka teriak teriak seperti orang gila saat masuk kelas. Ia suka menendang pintu dan dia juga suka bicara kata-kata kasar yang tidak kuketahui artinya. Aku paling sering dimarahi dia karena aku paling tidak bisa bermain pianika. Ia menganggapku seperti sampah atau orang yang paling tidak berguna di dunia. Aku tidak mengerti apa itu kres tangga nada, jadi kalau disuruh main pianika aku asal pencet saja.

Guru SBK itu bahkan pernah berkata padaku, anak SMP negeri itu seharusnya lebih baik dari anak swasta. Kalau anak swasta bisa kenapa anak negeri tak bisa mencet kres satu saja tak bisa. Pokoknya aku katanya aku tak akan naik kelas selama dia mengajar. Kalau pun naik kelas, ia tak akan memasukkan dalam mata pelajarannya. Dia pun bertanya apakah aku masuk negeri dengan menyogok. Aku pun dengan santai menjawab, gak nyogoklah kan SD UASBN gak ada SBK karena SBK pelajaran yang tidak penting. Aku keceplosan ngomong gitu dan dia pun semakin marah. Ia malah mengaku kuliah di Belanda, aku pun bertanya kalau kuliah di Belanda kenapa gelarnya Spd.

Aku juga gak tahu apa mungkin gelarnya sama atau bisa disetarakan tapi aku mengetahuinya saat melihat daftar guru kelas dan di sana gelar guru pun tercantum. Ia pun semakin marah dan tidak menjawab. Besoknya ia langsung memangil orang tuaku lewat guru BP. Sebenarnya, aku tidak mau berkata seperti itu pada guru dan aku menyesal, tapi aku bisa dibilang tidak sengaja karena aku tidak sengaja melontarkan kata kata itu saat aku memikirkannya dan sumpah aku tidak punya niat untuk membantah tapi kata itu keluar begitu saja.

Saat orang tuaku dipanggil guru BP, wali kelasku mendampinginya. Wali kelas menyarankan orang tuaku membawaku ke psikolog untuk mengetahui penyebab mengapa tulisanku jelek, tak bisa main pianika, sering mondar-mandir keliling tiap kelas di sekolah saat tak ada guru, dan suka membantah dan terkesan kurang hormat sama guru. Hasil diagnosa psikolog itu nantinya akan menjadi cara bagi sekolah untuk menangani murid seperti aku. Orang tuaku lalu membawaku untuk ke psikolog di Psikologi UI. Di sana aku didiagnosa menyandang sindrom asperger atau high-functioning autism.

Setelah hasil dignosa itu dibawa ke sekolah, guru-guru sepertinya mulai memaklumi aku. Aku pun selamat bisa naik ke kelas 8. Saat naik kelas 8, aku mendengar kabar, guru SBK justru sudah pindah dari sekolah. Entah dipindahkan atau mengundurkan diri, aku tak tahu.

Sekarang aku duduk di kelas 9. Alhamdulilah aku sudah bisa mengikuti pelajaran lebih baik. Guru SBK di kelas 9 juga baik. Raporku pada semester lalu juga bagus. Dari ranking 3 paling bawah di kelas 7, aku kini sudah bisa berada di ranking 20-an dari 40 siswa.

Di SMP pelajaran yang paling tidak kusuka selain SBK adalah teman lama, matematika. Nilaiku selalu tidak jauh jauh dari 4 kadang bisa 5. Meskipun sudah bimbel ke mana-mana, nilai tertinggi matematiku 5. Untuk pelajaran lain nilaiku masih bisa tinggi, apalagi pelajaran bahasa Indonesia dan IPS.

Bagi orang tuaku, pencapaianku sejauh ini sudah sangat luar biasa. Kata orang tuaku, seorang penyandang asperger bisa mengikuti pelajaran di sekolah negeri adalah prestasi yang patut dibanggakan.

Setelah guru-guru dan tentu orang tuaku paham dengan kondisiku, aku kini bertekad belajar dengan lebih tekun untuk terus menempuh pendidikan setinggi mungkin. Aku kelak ingin kuliah dan mendapat gelar sarjana seperti kedua orang tuaku. Kalau bisa aku ingin sampai S3 bergelar doktor dan jadi dosen.

(Damar PY)
loading...

No comments