Kerajaan Majapahit Runtuh, Siapa yang Pantas Disalahkan?

Kerajaan Majapahit (gambar: romadecade.org)

Majapahit merupakan kerajaan terluas sepanjang sejarah Indonesia bahkan luasnya melebihi negara Indonesia modern. Luas Majapahit meliputi Indonesia, Malaysia, Brunei, serta Singapura, bahkan mungkin lebih dari itu.

Isu tentang keruntuhan Kerajaan Majapahit sudah ada dan hangat diperbincangkan sejak tahun 1920-an. Ketika gerakan nasionalis Indonesia mulai bangkit, ketegangan antara kelompok santri dengan kelompok abangan yang banyak berafiliasi dengan Budi Utomo. Menurut kaum Abangan, Islamlah yang telah membuat Majapahit runtuh dan mengalami kemunduran.

Bahkan sebuah surat kabar Jawa, Bramartani, memuat kisah penyerbuan Demak ke Kerajaan Majapahit, yang membuat Imperium Jawa yang diagung-agungkan kaum abangan menjadi merosot. Setelah mengalami masa kejayaan, Majapahit secara perlahan mengalami penurunan dan kemunduran.

Dahulu, wilayah Majapahit membentang luas di seluruh Kepulauan Nusantara. Majapahit mendapat peringkat ke-40 dalam imperium terluas sepanjang sejarah di dunia dengan luas sekitar 1.5 juta km² melampaui Kerajaan Sriwijaya di peringkat ke 43 di dunia dengan luas wilayah sekitar 1.2 juta km².

Namun, satu per satu negara bawahan Majapahit memerdekakan diri begitu saja karena wilayah kekuasaannya yang sangat luas tak bisa dipertahankan dan dikendalikan. Ini karena Majapahit tidak memiliki struktur birokrasi modern serta kurangnya pengawasan terhadap negara taklukan. Sehingga, keruntuhan Majapahit tak bisa dihindarkan, setelah tiga abad berdiri akhirnya peradaban besar itu pun runtuh.

Meninggalnya Hayam Wuruk dan Gajah Mada selaku pembangun kejayaan Majapahit merupakan faktor besar melemahnya Majapahit, menurut sejarawan Belanda Bernard H M Vlekke. Saat Mahapatih Gajah Mada wafat 1364 membuat Sang Raja merana. Ia memanggil seluruh anggota keluarga untuk mengikuti suatu rapat negara negara yang khikmad. Empat menteri agung diangkat untuk menggantikan tugas Gajah Mada dan catatan periode akhir pemerintahan Hayam Wuruk jarang ada dan setelah Hayam Wuruk mangkat, Majapahit mulai memumpus.

Lemahnya Majapahit sebagai kerajaan besar kemungkinan terbesarnya karena adanya faktor-faktor berikut:

1. Kerajaan Majapahit tidak lagi memiliki tokoh di pusat pemerintahan yang mampu untuk mempertahankan kesatuan di wilayahnya setelah Gajah Mada beserta Hayam Wuruk meninggal.

2. Struktur dari pemerintahan Majapahit yang mempunyai kesamaan dengan sistem negara serikat di masa modern serta banyaknya kebebasan yang diberikan pemerintahan saat itu kepada daerah, memudahkan wilayah-wilayah yang merupakan jajahan untuk melepaskan diri begitu saja setelah mengetahui jika di pusat pemerintahan sedang terjadi kekosongan kekuasaan. 

3. Terjadinya perang saudara, ini yang menjadi masalah terbesar. Perang saudara yang paling terkenal adalah Perang Paregreg (1401–1406) yang pada saat itu dilakukan oleh Bhre Wirabhumi melawan pimpinan pusat Kerajaan Majapahit. Kemudian Bhre Wirabhumi pun diberikan kekuasaan yang berada di wilayah Blambangan.

4. Masuknya Agama Islam sejak zaman kerajaan yang berada di Kediri, Jawa Timur, dan kedatangan pelaut Portugis yang membuat posisi Kerajaan Majapahit semakin tersingkir yang kemudian menimbulkan kekuatan baru yang menentang Majapahit.

Peradaban besar maupun kecil pasti akan mengalami kehancuran, Keruntuhan Kerajaan Majapahit ini mengundang sejumlah misteri. Bahwa Demak menyerang sisa-sisa Majapahit mungkin benar, tetapi itu bukan karena Raden Fatah (Raja Demak) ingin merebut kekuasaan ayahnya, Brawijaya V, tetapi karena seorang Bupati Kediri Ranawijaya atau Girindhawardhana melakukan kudeta dan membunuh Brawijaya V dan memindahkan pusat pemerintahan Majapahit ke Kediri. Akibatnya, Raden Fatah ingin membalas dendam  kematian ayahnya dan menyerang Ranawijaya, bekas Bupati Kediri yang kini menjadi raja Majapahit, dan mengakhiri sejarah Imperium Majapahit.

Di sinilah kesalahan penulisan sejarah dan sebagian dari masyarakat salah membedakan antara Ranawijaya dan Brawijaya V. Bahkan menurut sejarawan Muhammad Rizal Qosim, Brawijaya V telah masuk Islam sebelum kematianya. Ia didakwahkan Sunan Kalijaga penasihat keagamaan di Keraton Demak sekaligus dapat dibilang cucunya sendiri.

Kemungkinan besar Brawijaya V ingin masuk Islam salah satu faktornya karena ia jatuh cinta dengan Dewi Sari, putri Raja Cermain yang cantik jelita. Pandangan matanya tertuju kepada Dewi Sari yang mengenakan pakaian kerudung membuat Brawijaya V rela pindah agama demi menikahi Dewi Sari.

Penasihat Brawijaya V tidak senang dengan keputusan Brawijaya V untuk pindah agama. Sabdo Palon dan Nayo Genggong langsung meninggalkanya dan melontarkan kutukan kepada mantan junjunganya bahwa mereka akan menguasai tanah Jawa 500 tahun lagi.

Sebelum meninggal, Brawijaya V memerintahkan Adipati Pengging dan Adipati Pranegera untuk menerima kekalahan dan mengabdi kepada Kerajaan Demak untuk menghindari peperangan lebih lanjut. Dengan demikian, Demak semakin memantapkan posisinya menjadi kerajaan Islam pertama di tanah Jawa sekaligus menjadi penerus Majapahit, bekas imperium terbesar di Nusantara.

Dari fakta sejarah di atas, dapat disimpulkan bahwa Islam masuk ke Nusantara tidak dengan pedang dan kekerasan. Melainkan dengan cara yang penuh kedamaian. Majapahit hancur karena Islam adalah upaya devide at impera Kolonial Belanda untuk memecah belah bangsa Indonesia, agar Umat Hindu dan Umat Islam di Indonesia tidak dapat bersatu. Sehingga kedua umat ini diharapkan tak melakukan perlawanan terhadap penjajahan Kolonial Belanda.

(Damar Pratama Yuwanto)
blog lain: damarpeyek.blogspot.com

Sumber:
- Muhammad Rizal Qosim
(Di Balik Buntuhnya Majapahit dan
Berdirinya Kerajaan Islam di Jawa, September 2019)
- Bernard H.M Vlekke
(Nusantara, History of Indonesia, 1943)
loading...

No comments