Psikolog Ini Ungkap Penyebab Pasangan Pilih Childfree alias tak Punya Anak

- Agustus 26, 2021
advertise here

Pasangan sejoli/ilustrasi (foto: pixabay)

Keputusan untuk menjadi childfree atau voluntary childlessness sangatlah sulit dan tidak diharapkan di tengah masyarakat. Kemunculan alat kontrasepsi tepercaya sejalan dengan persiapan matang untuk kehidupan pada hari tua membuat childfree menjadi pilihan di berbagai negara maju. Tentu, keputusan ini mendapatkan stigma negatif bagi sebagian masyarakat.

Penggunaan istilah childfree untuk mengeklaim orang-orang yang memilih untuk tak punya anak ini mulai muncul di akhir abad ke-20. Childfree adalah sebuah keputusan atau pilihan hidup untuk tidak memiliki anak, baik itu anak kandung, anak tiri, ataupun anak angkat.

Pembahasan tentang pasangan yang memilih childfree hingga kini masih menuai pro dan kontra. Psikolog anak dan keluarga, Samanta Elsener, M.Psi mengatakan, terdapat beberapa faktor yang membuat suami-istri memilih untuk tidak memiliki anak.

Seperti dilansir kantor berita Antara, 25 Agustus 2021, menurut Samanta, banyak faktor dari pasangan yang membuat keduanya memutuskan childfree. Di antaranya adalah finansial yang dirasa belum mumpuni untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik, ada penyakit bawaan atau kronis, kesiapan menjadi orang tua, informasi atau wawasan seputar pernikahan dan membentuk keluarga yang simpang siur, trauma masa kecil, dan lainnya.

Samanta melanjutkan, faktor kesiapan secara mental juga bisa memengaruhi keputusan untuk childfree, terutama di masa pandemi yang penuh dengan ketidakpastian. Sementara itu, andaikan keputusan untuk tidak memiliki keturunan diambil karena ada faktor kesehatan mental, maka perlu dipahami bahwa itu bisa disembuhkan.

Begitu pula jika lantaran faktor finansial. Menunda memiliki anak hingga dirasa kondisi finansial mumpuni juga dapat dilakukan secara bijak. Apakah pilihan childfree berdampak pada keharmonisan rumah tangga? Misalnya sampai menjadi alasan pasangan untuk bercerai? Samanta mengatakan, hingga saat ini datanya belum ada di Indonesia.

Samanta menilai, tidak menutup kemungkinan jika di kemudian hari hal tersebut menjadi pemicu keretakan hubungan pernikahan. Bisa jadi, suatu saat, salah satu dari suami-istri mengalami perubahan keinginan. Misalnya setelah 10 tahun menikah, yang di awal sepakat childfree, tapi seiring berjalannya waktu salah satu pasangan menjadi ingin memiliki anak.

Menurut Samanta, yang terpenting keputusan pasangan untuk tidak memiliki anak dipikirkan secara matang oleh kedua belah pihak. Hal itu harus disepakati bersama sehingga tidak ada pihak yang merasa terpaksa dan dirugikan.

Sejatinya, lanjut Samanta, dalam menjalani pernikahan memang perlu direncanakan segala sesuatunya secara matang, termasuk visi dan misi menjalin hubungan pernikahan dan upaya membentuk keluarga yang harmonis serta sejahtera.

Pembahasan mengenai childfree menjadi ramai di media sosial setelah Youtuber asal Indonesia, Gita Savitri, yang bermukim di Jerman mengemukakan pilihannya menjadi childfree. Berbeda dengan childless, childfree ditempuh oleh pasangan yang sebenarnya tak memiliki gangguan kesuburan dan sengaja memilih untuk tidak memiliki keturunan.

(nnn)

Advertisement advertise here