Peta Cina, Indonesia, dan Australia.

Dinasti Qing adalah dinasti terakhir di Tiongkok (Cina) yang berdiri pada tahun 1636–1912 M. Di era itu, Indonesia sudah kedatangan bangsa Belanda melalui VOC yang mendirkan kantor dagangnya di Batavia pada tahun 1602 dengan Gubernur Jenderal VOC pertamanya adalah Pieter Both. Penguasa Qing adalah orang Manchu, bukan Han, dan mereka sendiri merupakan minoritas di Tiongkok.

 

Tahun 1602 VOC sudah mulai bercokol di Batavia. Jadi yang dihadapi Qing adalah VOC dan kerajaan-kerajaan di Sumatera, Jawa, Kalimantan. Sulawesi, Maluku, Ternate/Tidore, Lombok, dan Bali.

Maka, skenario yang paling realistis jika Dinasti Qing menguasai Nusantara hanya akan menjadikan wilayah Nusantara sebagai negara tributer Dinasti Qing. Itupun tak keseluruhan Nusantara karena wilayah ini juga terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil saja. Selain itu, Dinasti Qing harus berhadapan dengan kongsi dagang Belanda, VOC.

Lebih jauh, walaupun armada Dinasti Qing mungkin akan bisa menjangkau Nusantara, namun tidak ada kepentingan amat kuat untuj menjajah sehingga tidak akan terjadi penjajahan.

Paling mungkin, kemampuan Dinasti Qing untuk mengirimkan utusan ke Nusantara. Mengingat pada masa dinasti sebelumnya, yaitu Dinasti Ming, pernah terjadi penjelajahan besar yang dilakukan oleh Zheng He (Laksamana Cheng Ho).

Ada kisah mengenai keluarga kaya dari perdagangan, yaitu keluarga Zheng yang hidup pada masa akhir Dinasti Ming. Kabarnya, keluarga ini mampu membuat jaring-jaring ekonomi sampai ke Jepang dan Kepulauan Melayu.

Namun, pada November 1646, Dinasti Qing merasa bahwa jaring-jaring perdagangan tersebut dapat mengganggu sistem tributer Tiongkok kepada negara lain atau bangsa lain. Maka, Zheng Zhilong ditahan dan dibunuh oleh otoritas Dinasti Qing. Dalam hal ini berarti Dinasti Qing telah menjalin hubungan tributer dengan Kepulauan Melayu.

Dinasti Qing tercatat pernah punya daerah tributer di Filipina, Kesultanan Sulu. Jika seandainya daerah tributer Dinasti Qing sampai ke Nusantara, nungkin Nusantara akan dilindungi oleh Dinasti Qing.

Konsep tributernya Tiongkok itu melibatkan negara asing untuk bertukar hadiah dengan Tiongkok dan Tiongkok tidak meminta apapun yang besar. Hanya meminta negara tersebut mengakui Tiongkok dan setia kepada Tiongkok.

Tapi meragukan bila Qing bisa menguasai atau menjajah Nusantara. Karena letaknya yang jauh dan perlu armada perang yang besar. Skenario paling realistis mungkin menjadikan vassal atau kerja sama perdagangan dengan kerajaan di Nusantara

Dinasti Qing bisa membantu negara atau daerah tributernya jika mereka mendapatkan ancaman. Itulah sistem tributer Tiongkok.

 

Perwakilan bangsa atau negeri asing harus melakukan kowtow (membungkuk) kepada kaisar Tiongkok dan mengakui Tiongkok sebagai negara tengah. Setelah itu, negara tersebut memperoleh perlindungan Tiongkok.

Kira-kira begitulah, Nusantara hanya akan menjadi daerah tributernya Tiongkok. Di Nusantara berkuasa sultan-sultan, yang kemungkinan bisa saja menolak Qing. Saat itu, penguasa di titik-titik Nusantara lebih condong ke arah India, Timur Tengah, dan Turki yang beragama Islam. Sementara, Dinasti Qing memerangi kaum Muslimin sehingga Qing mengalami lima pemberontakan kaum Muslim di wilayahnya.


(Damar PY)


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama