JEDADULU.COM -- Industri manga Jepang memasuki babak baru yang penuh perdebatan. Untuk pertama kalinya, sebuah manga yang sepenuhnya dibuat menggunakan kecerdasan artifisial (AI) berhasil menduduki posisi teratas dalam peringkat resmi penjualan di platform komik digital terbesar di Jepang.
Berdasarkan keterangan di situs resmi Comic C’moA, manga berjudul 'My Dear Wife, Will You Be My Lover?' berhasil meraih peringkat pertama dalam daftar manga seinen harian pada pekan pertama Januari 2026. Seri yang terdiri dari empat volume ini menampilkan ilustrasi yang 100 persen dihasilkan oleh AI, tanpa sentuhan gambar manual dari ilustrator manusia.
Meski per 8 Januari 2026 posisinya turun ke peringkat kedua, capaian tersebut tetap dinilai sebagai tonggak penting dalam sejarah manga digital Jepang. Comic C’moA dikenal sebagai salah satu toko buku digital terbesar di negara tersebut, sehingga keberhasilan manga berbasis AI ini dianggap memiliki dampak simbolik yang besar.
Pencapaian 'My Dear Wife, Will You Be My Lover?' bahkan melampaui sejumlah judul populer yang sudah lebih dulu mapan. Manga ternama seperti 'From Old Country Bumpkin to Master Swordsman' dan 'Kingdom' hanya mampu menembus jajaran 20 besar, tertinggal jauh dari seri AI yang mendadak mencuri perhatian pembaca.
Namun, keberhasilan ini tidak datang tanpa kontroversi. Dominasi manga buatan AI memicu perdebatan sengit di kalangan kreator, penggemar, dan pelaku industri. Sebagian pihak menilai kehadiran AI membuka peluang baru dalam produksi konten kreatif, sementara yang lain mengkhawatirkan masa depan mangaka dan ilustrator manusia yang selama ini menjadi tulang punggung industri manga Jepang.
Kritik juga muncul terkait orisinalitas, etika penggunaan data, serta nilai artistik dari karya yang sepenuhnya dihasilkan mesin. Meski demikian, tingginya minat pembaca menunjukkan bahwa pasar mulai terbuka terhadap bentuk baru kreasi manga di era digital.
Keberhasilan manga AI ini menjadi sinyal kuat bahwa teknologi kecerdasan buatan tidak lagi sekadar alat bantu, melainkan telah menjadi pemain utama yang mampu mengubah lanskap industri kreatif Jepang—sekaligus memunculkan pertanyaan besar tentang masa depan seni dan kreativitas manusia.
(cbr/eye)
