Momen
Beranda ยป Berita ยป Dari Sangat Ingin Menikah Menjadi Sangat Ingin Pergi: Kenapa Perempuan Cenderung Menuntut Cerai?

Dari Sangat Ingin Menikah Menjadi Sangat Ingin Pergi: Kenapa Perempuan Cenderung Menuntut Cerai?

Dari Sangat Ingin Menikah Menjadi Sangat Ingin Pergi: Kenapa Perempuan Cenderung Menuntut Cerai?
Dari Sangat Ingin Menikah Menjadi Sangat Ingin Pergi: Kenapa Perempuan Cenderung Menuntut Cerai?. (Sumber; Pixabay).

JEDADULU.COM– Sebelum menikah, perempuan sering kali menjadi pihak yang paling menginginkan komitmen dan kepastian hubungan, sementara pasangannya cenderung lebih ragu atau lambat mengambil keputusan. Namun setelah pernikahan berlangsung bertahun-tahun, ketika hubungan mulai retak dan perceraian muncul sebagai kemungkinan, justru perempuan pula yang paling sering ingin pergi lebih dulu.

Pertanyaannya adalah: apa yang berubah?

Bagaimana seseorang yang dulu sangat menginginkan kedekatan emosional dan kehidupan bersama akhirnya merasa sesak di dalam hubungan yang dulu ia perjuangkan sendiri?

Menurut Tonya Lester, LCSW, psikoterapis asal Brooklyn, salah satu jawabannya mungkin terletak pada kenyataan bahwa cinta, kecocokan emosional, dan kemampuan membangun kehidupan bersama sebenarnya bukan hal yang sama. Banyak orang jatuh cinta pada intensitas, bukan pada kompatibilitas jangka panjang. Sosok yang terlihat kuat, percaya diri, dan membuat rasa aman di usia muda bisa saja ternyata sulit membangun kedekatan emosional yang sehat ketika hubungan memasuki fase yang lebih dewasa.

Sering kali, daya tarik emosional juga bercampur dengan kecemasan. Ketegangan, rasa tidak pasti, dan dinamika emosional yang naik turun bisa disalahartikan sebagai cinta yang dalam. Ketika intensitas itu perlahan hilang seiring waktu, hubungan yang tersisa terasa kosong karena sejak awal fondasinya tidak benar-benar dibangun di atas kedekatan emosional yang stabil.

Era Guardiola Belum Habis! Manchester City Sabet Gelar Piala FA Ke-8 usai Tumbangkan Chelsea

Dalam banyak kasus, perempuan juga tumbuh dengan peran sosial tertentu yang membuat mereka menjadi โ€œpenjaga hubungan.โ€ Mereka diajarkan untuk menjaga keharmonisan, memahami kebutuhan semua orang, menyesuaikan diri, dan melakukan sebagian besar pekerjaan emosional dalam keluarga. Sementara itu, laki-laki lebih sering diberi ruang untuk tetap menjadi individu yang utuh di dalam hubungan.

Masalahnya, seseorang tidak bisa terus-menerus mengabaikan dirinya sendiri tanpa konsekuensi. Banyak perempuan perlahan mengecil di dalam pernikahan mereka sendiri. Mereka menahan kebutuhan pribadi, mengalah, menghindari konflik, dan terus berusaha menjaga hubungan tetap berjalan. Namun suatu hari mereka mulai merasa kehilangan identitasnya sendiri. Mereka tidak lagi tahu siapa diri mereka di luar peran sebagai pasangan, ibu, atau penengah konflik keluarga.

Pada titik itu, meninggalkan hubungan kadang terasa seperti satu-satunya cara untuk kembali menemukan diri sendiri.

Hal lain yang memperburuk keadaan adalah cara banyak pasangan memandang konflik. Dalam hubungan yang sehat, konflik sebenarnya bukan ancaman, melainkan bagian alami dari proses saling memahami. Namun banyak orang, terutama perempuan yang dibesarkan dengan gagasan bahwa cinta berarti harmoni, mulai melihat pertengkaran sebagai tanda bahwa hubungan sedang rusak.

Akibatnya, mereka menghindari percakapan sulit. Mereka menahan keluhan, mengurangi kebutuhan pribadi, dan memilih diam demi menjaga ketenangan. Padahal ketika tidak ada gesekan sama sekali dalam hubungan, sering kali itu berarti ada seseorang yang tidak benar-benar didengar. Padahal konflik bukanlah hal yang paling merusak hubungan, melainkan kebiasaan menghindari konflik itu sendiri.

Titip Salam, Daniel Craig! Perburuan James Bond Baru Resmi Dimulai, Siapa yang Bakal Jadi 007 Berikutnya?

Ketika akhirnya perempuan mencoba menyampaikan perasaannya, respons yang muncul kadang justru membuatnya semakin menutup diri. Pasangan mungkin menjadi defensif, menjaga jarak, meremehkan masalah, atau langsung mencoba โ€œmemperbaikiโ€ situasi tanpa benar-benar mendengarkan. Setelah mengalami pola itu berulang kali, banyak perempuan mulai percaya bahwa berbicara tidak akan mengubah apa pun.

Keheningan yang muncul setelahnya sering disalahartikan sebagai kedamaian, padahal sebenarnya itu adalah awal dari jarak emosional yang semakin besar.

Di balik semua ini juga ada pola budaya yang sangat kuat. Banyak perempuan dibesarkan dengan keyakinan bahwa menjadi โ€œperempuan baikโ€ berarti mendahulukan kebutuhan orang lain, selalu mengalah, dan menjaga kenyamanan semua orang tanpa banyak mengeluh. Dalam praktik sehari-hari, pola ini muncul dalam bentuk kebiasaan menjadi โ€œperedam guncanganโ€ dalam hubungan.

Mereka membela perilaku buruk pasangan, mencari alasan untuk ketidakhadirannya, meminimalkan rasa sakit sendiri, dan terus menjaga agar hubungan tampak baik-baik saja di mata semua orang. Dari luar, semuanya terlihat stabil. Namun di dalam, kelelahan emosional terus menumpuk sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, banyak perempuan tidak pergi karena berhenti mencintai pasangannya. Mereka pergi karena terlalu lama tidak merasa benar-benar dikenal, didengar, atau dipahami.

Garuda Muda Tersungkur di Jeddah, Mimpi Piala Dunia U17 Sirna, Pelatih Pasang Badan

Karena itu, inti dari hubungan yang sehat sebenarnya bukan sekadar komitmen formal atau kemampuan bertahan bersama selama mungkin. Hubungan yang sehat membutuhkan keberanian untuk berbicara jujur, menghadapi konflik dengan sehat, dan mempertahankan identitas diri tanpa takut kehilangan cinta.

Belajar menyuarakan kebutuhan memang tidak selalu nyaman. Respons pasangan mungkin tidak selalu sesuai harapan. Namun tetap berbicara jauh lebih sehat daripada perlahan menghilang di dalam hubungan sendiri.

Pada akhirnya, pasangan ideal bukan hanya seseorang yang mampu melindungi atau mempertahankan hubungan, tetapi seseorang yang benar-benar ingin mengenal siapa diri kita sebenarnya. Dan hubungan seperti itu hanya bisa tercipta ketika kita berhenti membuat diri sendiri terlalu mudah diabaikan.

Sumber:

Lester, T. (2026, May 15). Why she wants the relationshipโ€”and then wants out. Psychology Today โ€“ Staying Sane Inside Insanity. Psychology Today.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Tontonan