Untuk Bunda yang Semerbak Bunga

Aku dan bundaku

Aku menulis artikel ini untuk mengungkapkan perasaanku terhadap ibuku yang kupanggil "Bunda", seseorang yang kecantikannya menyerupai bunga mawar, dan senyumnya selalu merekah seperti bunga matahari.

Wahai pembaca bolehkah aku ingin tahu dengan sedikit kepo? Apa yang kalian pikirkan saat mendengar kata cinta dan kata ibu?

Pasti ada banyak jawaban yang tak terduga karena kedua kata itu tak dapat dipisahkan. Tetapi aku masih belum mampu benar-benar mengerti kedua kata itu secara seksama. Terutama kata yang nomor dua, meskipun cinta bukan hanya sekadar bunga atau pun puisi, aku tetap ingin memberikan bunga untuk bundaku agar ia bisa tersenyum setiap pagi saat mencium harumnya aroma bunga yang akan kutanam di depan rumah, agar bundaku dapat melihat betapa indah sebuah rumah saat seorang ibu selalu bahagia.

Kata cinta menurutku dapat diartikan dengan suka atau sayang terhadap apapun, dapat berupa barang, orang, tempat, atau pun suasana. Tapi setiap Hari Ibu tiba, aku masih belum mengerti bagaimana cara membahagiakan dia. Ada yang bilang surga ada di telapak kaki ibu, aku setuju dengan ungkapan tersebut.

Aku tetap harus berusaha membalasnya tanpa terkecuali. Bagi bunda, aku adalah segala-galanya dan bagaimanapun caranya, meskipun tak akan cukup membalas jasanya dengan kugendong dari Sabang sampai Merauke.

Aku ingat saat masih duduk di bangku taman kanak-kanak, aku pernah memberinya setangkai bunga yang kudapatkan dari acara kondangaan dan saat aku memberikan bunga itu padanya, ia tertawa dan memelukku erat-erat. Aku pun menyematkan bunga itu ke daun telinganya sebagai ungkapan sayangku padanya. Meskipun, terkadang aku membuatnya marah, pintu maaf tak pernah tertutup dari hatinya, hatinya bagai bunga. Yang tetap berusaha memaafkan walau diberi rasa kecewa. Ia memang lembut bagaikan bunga matahari yang penuh kehangatan.

Sebenarnya tak ada hari terkhusus untuk merayakan Hari Ibu atau bunga untuk Hari Ibu. Hari ini, kemarin, esok, dan seterusnya bahkan sampai akhir zaman adalah Hari Ibu. Ibu bagaikan bunga yang selalu mekar sepanjang zaman. Aku anak yang tidak sempurna, tetapi siap berbakti dengan menanam ribuan bunga di hatinya yang biru. Selamat Hari Ibu.

Bundaku, ibu terhebat sepanjang masa, membawa harapan untuk hari esok yang lebih cerah dan impian masa depan yang bahagia. Apakah kalian bisa lahir tanpa ibu? Ya  tentu saja tidak, kalian semua pasti tidak bisa hidup di dunia ini tanpa ibu! Jadi mulai sekarang sayangilah ibu kalian karena saat kita lahir ke dunia, kita tak membawa setangkai bunga pun, tetapi saat kita lahir sang ibunda telah menanam jutaan bunga di jiwanya untuk menyambut kehadiran kita.
floweradvisor.co.id
Bukan berarti aku merasa anak paling berbakti di dunia, justru mungkin teman-teman lebih tahu dariku bagaimana cara membahagiakan orang yang telah melahirkan dengan mengorbankan nyawa, bagaikan bunga dandelion yang serbuknya menyebar di udara. Jika aku bertanya pada bunda apakah aku sudah cukup mencintainya? Sudah pasti kata iya yang selalu keluar dari lisannya.

Aku yakin jawaban itu diungkapkan agar aku tidak merasa rendah diri. Tapi aku merasa belum cukup membalas kebaikannya, yah memang siapa pun anak tak akan mampu membalas kebaikan sang ibu yang melahirkan dengan sakit yang setengah mati, seperti puluhan tulang patah sekaligus dalam waktu yang bersamaan, dan rela berkorban demi anaknya yang selalu menjadi bagian dari dirinya.

Tapi aku masih merasa entah kenapa di bawah standar dibanding anak-anak lain dalam hal menyayangi ibunya jika mau mengingat kebaikannya padaku, tak akan cukup untuk ditulis dalam artikel ini. Bundaku bahkan rela untuk hidup sederhana dan menahan diri membeli busana mahal, bahkan hatiku rasanya mau copot saat melihat dia tak punya sepatu sama sekali, hanya punya satu sandal jepit. Bundaku pun sering kebingungan saat kondangan karena ia hanya memiliki dua baju untuk pergi keluar rumah.

Meskipun terkadang bundaku agak sedikit iri dengan tetangga kami yang punya koleksi baju hingga lemarinya penuh. Demi membiayai sekolahku dan membiayai lesku dan juga adik perempuanku, ia rela hidup sederhana. Menurut pemikiran bundaku, lebih baik ibu dan ayahku hidup sederhana yang penting anak-anaknya bisa sukses dan jadi orang yang berguna untuk banyak orang atau minimal berguna untuk dirinya sendiri, dengan mengutamakan pendidikan serta punya masa kecil yang bahagia.

Jika ke mal, bundaku lebih mementingkan membeli baju untukku dan adikku, daripada bajunya sendiri. Sekali lagi aku tekankan jangankan artikel ini luas Samudra Pasifik, jika dijadikan kertas tak akan cukup menuliskan kebaikannya.

Belum lagi ia adalah seorang bunda yang mau menerima keadaanku apa adanya meskipun aku berbeda dibandingkan dengan anak-anak lainnya. Awalnya aku sendiri yang malu karena menyandang sindrom asperger. Tapi bundaku tak malu sama sekali. Aku sering menjadi bahan bullyan teman dan aku dibenci oleh beberapa guru dan teman-temanku karena dianggap suka menyalahi aturan.

Pada saat aku masih kecil bahkan terkadang mungkin sampai sekarang bundaku selalu berusaha yang terbaik untukku agar aku tidak putus sekolah. Bundaku sangat sering membawaku ke psikolog untuk tahu apa yang menyebabkanku sulit berbaur dengan anak-anak lain.

Dan akhirnya orang tuaku pun tahu aku memang memiliki sesuatu yang berbeda dari anak lain pada umumnya. Saat mendengar aku punya sindrom asperger, bundaku tidak kecewa sama sekali. Aku pun sangat terkejut saat mengetahuinya dia bagaikan mawar dark pink yang memiliki rasa syukur yang mendalam dan terima kasih kepada seseorang supaya aku tumbuh kuat seperti bunga-bunga di pekarangan dan dia terus berada di sisiku untuk menyiramiku dengan semangat yang menyala-nyala.

Bahkan saat menerima rapor di kelas 9, bundaku mendapat laporan dari wali kelasku kalau ternyata aku sering menjadi bulan-bulanan beberapa temanku. Bundaku memang bukan orang yang cuek bagaikan toko bunga dengan kepedulian dan koleksi bunga yang seakan tak terbatas. Bunda sudi untuk menyelesaikan masalah ini kepada wali kelasku dan orang tua teman-temanku yang menggangguku.

Dan saat aku outing ikut ke Ujung Kulon kala masih duduk di bangku SD, bundaku tahu jika aku sedang sakit di sana padahal jarakku denganya sangat jauh. Aku memang penyakitan, aku pernah tes di Bio E, aku punya puluhan alergi. Itu sebabnya bundaku selalu menghawatirkan kesehatanku. Itu sebabnya ia agak ragu saat aku keluar kota tanpa kehadirannya.

Saat aku sedang pilek dan buang ingus, guru SD ku menyodorkan panggilan telepon dari bundaku. Ternyata bunda mengetahui jika aku sedang sakit, seakan bundaku memiliki GPS yang dapat mengetahui keadaanku tanpa melihatnya, bagaikan bunga seruni merah, yang penuh rasa cinta.

Sudah dulu ya artikelku teman-teman, aku ingin mengakhiri artikel ini dengan sepotong puisi sederhana yang kubuat dan kubacakan saat hari ulang tahun bunda.

Aku harap artikelku bermanfaat, terima kasih telah membaca artikel ini. Meskipun ini bukan tulisan dengan kualitas tingkat tinggi, tapi ini sudah cukup untuk meluapkan rasa cintaku pada bundaku.

Semoga hari ini menjadi yang sangat menyenangkan bagi ibu-ibu di seluruh dunia yang bagaikan bunga yang berseri-seri. Aku tak pernah  kehabisan kata kata untuk bundaku. Inilah puisiku yang sederhana selamat menikmati.

Terkadang aku merasa resah dengan semua ujaranmu
tapi kupersembahkan sajak ini untukmu                                            
di bulan ini para pemuda bersumpah
di bulan Naruto lahir dengan gagah

Tali emas di bungkus sutera adalah rambutmu
omelanmu memecahkan pintu menjelma cermin patah 
yang menggugah waktu dalam sejuta kisah dongeng peri
tak ada yang sekuat perwatakanmu

Aku seakan menikam mata tanpa membukanya
tak kuasa menahan parasmu
menahan segala kebaikanmu
secepat kedatangan bulan Oktober
cintaku hanya untuk bundaku
bertahun tahun aku menunggu untuk menyampaikan ini
aku mengalami kegelisahan 
aku bersumpah pujian ini bukanlah satire


Damar Pratama Yuwanto
Siswa Kelas 9 SMPN 20 Depok
Blog: damarpeyek.blogspot.com
loading...

No comments