Bawa Bekal Makanan dari Rumah, Ribet tapi Banyak Manfaat


Bekal Makanan (Foto: Shutterstock)
Beberapa waktu lalu, di grup WharsApp sekolah Si Sulung dihebohkan dengan ditemukannya puluhan siswa yang positif hepatitis A. Seperti halnya penyakit yang disebabkan oleh virus, penyakit ini amat gampang menyebar. 

Jenis virus ini biasa menular lewat cairan. Salah satu penularannya lewat hubungan seks dan dari makanan minuman yang sudah terkontaminasi. Dari info para guru, penyebaran virus Hepatitis itu berasal dari salah satu kantin di sekolah.

Meski prolognya saya ngomongin soal penyakit hepatitis A, tapi sebenarnya saya bukan bermaksud membahas soal penyakit tersebut. Karena saya cukup tahu diri kalau saya gak punya background medis atau kesehatan sama sekali hehehe..

Saya hanya mencoba memberi gambaran betapa dengan sebuah kebiasaan sederhana, anak sulung saya bisa terhindar dari penyakit tersebut. Membawa bekal sendiri dari rumah. 

Itu kebiasaan sederhana yang sudah dilakukan Si Sulung sejak masih SD. Dan kebiasaan itu berlanjut hingga SMP. Kebiasaan itu pula yang menurut pengamatan saya berhasil menghindarkan Si Sulung dari tertular penyakit itu.

Ketika hepatitis A mewabah di sekolah dan Si Sulung tak tertular, saya sungguh sangat bersyukur. Bersyukurnya sampai double dua kali. Bersyukur karena sulung saya tak sampai tertular dan bersyukur karena dia masih mau membawa bekal dari rumah.

Sebetulnya memang bukan kebetulan kalau Si Sulung selalu bawa bekal makan dan minuman dari rumah. Semua karena banyaknya alergi yang ia idap sehingga membuatnya memiliki banyak sekali pantangan makanan.

Menyiapkan bekal buat dibawa orang-orang tercinta sebenarnya enggak gampang buat saya. Malah bisa dibilang susah atau bahkan merepotkan. Susah melawan rasa malasnya. 

Memang lebih gampang kalau mereka diberi uang jajan untuk makan jajanan apa saja yang mereka suka untuk makan siang. Sarapan tinggal beli nasi uduk, lontong sayur atau panggil tukang roti. Saya paling tinggal menyiapkan untuk makan malam saja. Ringan. Gak nambah pekerjaan.



Itu saya cuma menghayal lho ya...karena rasanya gak mungkin terjadi. Ya karena seperti yang sudah saya bilang tadi. Alergi Si Sulung yang teramat banyak bikin tak mungkin itu terjadi, hiks. Eits bukan cuma karena alergi Si Sulung aja si tapi juga karena saya diberi rezeki seorang suami vegetarian. Ya, Pak Suami saya punya menu makanan yang terbatas. Dia cuma mau makan tahu, tempe, dan telur. Gak suka daging, ayam, apalagi ikan. 

Sebenarnya mendapat rezeki orang orang tercinta dengan kebiasaan makan yang unik bukan tanpa beban buat saya. Kadang saya "sambat" juga. Kalau lagi capek, ya ngomel juga.

Karena yang repot jelas saya. Bisa dibayangin gak? Orang yang paling tak suka memasak tapi harus memasak setiap hari nyaris tanpa libur? Kadang rasanya berat juga. Berat banget malah. Saya hanya bisa libur memasak saat mama saya berkunjung ke rumah. Padahal beliau gak sering-sering datang ke rumah.

Tapi mungkin ini hebatnya "the power of kephepet!" Karena keterpaksaan saya jadi terbiasa. Saya jadi terbiasa masak sehabis Subuh. Saya jadi terbiasa menyiapkan bahan makanan yang mau dimasak esok pagi di malam hari menjelang tidur. Saya jadi terbiasa belanja ke pasar yang jauhnya sekitar 6-7 km dari rumah setiap Sabtu atau Minggu.

Tapi ya apapun itu, rasanya tetap harus saya syukuri. Walau kadang saya merasa ini seperti ujian hehehe..

Namun di balik semua ini ada hikmah yang bisa saya ambil. Di antaranya anak- anak dan suami saya insya Allah jadi lebih sehat dan gak gampang sakit. Minimal kami termasuk yang jarang terkena diare. 

Selain itu, memasak dan membawa bekal sendiri baik ke sekolah atau ke kantor jelas jauh lebih hemat. Menurut hitung- hitungan saya, kalau suami tak bawa bekal ke kantor, minimal beliau harus mengeluarkan uang sekitar Rp 30 ribu per hari sekadar untuk santap siang. Itupun makan dengan menu yang sederhana. Bukan di resto elite. Rp 30 ribu dikalikan lima hari kerja dikalikan empat minggu, jumlahnya cukup lumayan besar untuk keluarga sederhana seperti kami. 

Menurut hitungan saya lagi, daripada habis hanya untuk santap siang suami di kantor, bukankah uangnya lebih baik dialokasikan untuk tambahan tabungan pendidikan anak-anak, iya kan?

Nah, di balik ribet, repot, dan capeknya, segudang manfaat bisa kami dapatkan dengan membawa bekal sendiri dari rumah. Bagaimana dengan Anda? Yuk ikutan bawa bekal sendiri dari rumah. 

Selain lebih sehat, bawa bekal sendiri juga jauh lebih hemat. Uangnya bisa dialokasikan untuk hal lain. Kalau kami untuk tabungan pendidikan, buat Anda yang suka travelling mungkin juga bisa buat tambahan dana jalan- jalan.

(Dinar K Dewi)





No comments