LinkCollider - Free Social Media Advertising

Adegan 5 Film Ini Dipotong Sembrono

Justice League karya Zack Snyder (foto: catchplay.com)
 

Membuat sebuah film berkualitas tidaklah mudah. Ibarat perang yang tak bisa dimenangkan dalam sekali mengayunkan pedang.

Beberapa sutradara pernah merasakan filmnya dipermainkan pihak studio film. Apapun masalahnya, potongan akhir dari sebuah film kerap tidak selalu seperti yang seharusnya diinginkan sejak awal. Berikut lima film yang membuat sutradara berkonflik dengan studio film dalam hal editing alias pemotongan beberapa adegan, seperti dilansir CBR, awal Juli 2021.


Justice League (karya Zack Snyder)


Pembuatan Justice League karya Zack Snyder adalah kisah yang penuh dengan tragedi, pelecehan, dan akhirnya penebusan. Setelah berurusan dengan gangguan studio, Zack Snyder meninggalkan Justice League usai kematian tragis putrinya. Warner Brothers menyewa Joss Whedon untuk menyelesaikan film, tetapi sebenarnya, hampir semuanya direkam ulang. Butuh waktu bertahun-tahun dan dorongan besar-besaran dari para penggemar Snyder, tetapi sutradara akhirnya mampu menyelesaikan film itu.

Once Upon A Time In America (karya Sergio Leone)


Sebuah drama epik oleh pembuat film Italia, Sergio Leone, dan dibintangi oleh Robert De Niro, Once Upon A Time In America menceritakan kisah dua anak laki-laki Yahudi yang terkenal sebagai gangster di New York City. Potongan asli film Leone hampir enam jam, dan dia berencana merilisnya dalam dua bagian. Namun, studio memotongnya menjadi satu film. Sutradara menunjukkan potongan film selama empat jam 29 menit di Festival Film Cannes, tetapi dipaksa untuk memotongnya lagi menjadi tiga jam 49 menit untuk membuat distributor senang.

1776

Awalnya drama musikal Broadway hit, 1776, adalah komedi yang menceritakan kembali penciptaan Deklarasi Kemerdekaan dan awal Revolusi Amerika Serikat (AS). Dibuat dengan banyak pemeran Broadway asli, ada satu hal yang hilang dari film ini dari produksi panggung, lagu "Cool, Cool, Considerate Men". Lagu itu tidak begitu diminati di Partai Republik, dan kemudian Presiden AS Richard Nixon meminta presiden Columbia Pictures Jack L Warner untuk menghapus lagu tersebut dari film. Sutradara Peter H Hunt keberatan dengan pemotongan adegan dan tetap memfilmkannya. Warner kemudian mengeditnya dari potongan terakhir tanpa sepengetahuan Hunt.

Brazil (karya Terry Gilliam)

Sebuah komedi kelam tentang masa depan distopian, film Brazil karya Terry Gilliam telah digembar-gemborkan sebagai salah satu film Inggris terhebat sepanjang masa. Namun, versi yang ditonton orang Amerika Serikat pada 1985 tidak sama dengan yang disaksikan seluruh dunia. Potongan 142 menit asli Gilliam dengan akhir yang gelap dirilis di Eropa dan internasional oleh 20th Century Fox. Namun, Universal Pictures yang memiliki hak distribusi AS memutuskan membuat ulang film tersebut tanpa sepengetahuan Gilliam. Ketika Gilliam mengetahuinya, dia mengeluarkan iklan satu halaman penuh di Variety, menuntut versinya dirilis. Kepala Universal, Sid Sheinberg mengeluarkan iklan satu halaman penuhnya untuk menjual film tersebut ke studio lain. Setelah potongan asli Gilliam memenangkan sejumlah penghargaan kritikus, studio mengalah dan merilis film tersebut.

Alien 3 (dibintangi aktris Sigourney Weaver)

Sulit membayangkan sebuah studio tidak membiarkan David Fincher membuat film seperti yang dia inginkan. Fincher menandatangani kontrak dengan produksi Alien 3, dan akhirnya berkonflik dengan studio. Fincher membuat film yang gelap dan menakutkan, tetapi studio menginginkan seperti Aliens karya James Cameron. Karena itu, studio menutup produksi sebelum Fincher selesai syuting, dan mengedit film tanpa sutradara. Bintang Alien, Sigourney Weaver, membela sutradara muda, tetapi bahkan pengaruhnya tidak cukup.

(nnn)

Comments