Header Ads

Ketika Resolusi Pribadi tak Lagi Berarti


(Resolusiku Dua Buah Hatiku)
Dulu, ketika masih remaja tahun baru mungkin menjadi salah satu momen yang paling saya nantikan. Saya bisa berkumpul bersama teman walau hanya ngobrol sambil makan dan begadang sampai pagi.

Melewati momen pergantian tahun hampir selalu saya lakukan. Walau sejatinya, saya tak benar-benar paham maknanya, selain hanya hura-hura semata.

Dan, seperti teman-teman, membuat sebuah resolusi untuk tahun yang baru pun saya lakukan. Bahkan resolusi itu sering tak hanya satu. Tapi bahkan sampai beberapa.

Yang entah lucu atau ironis, resolusi yang saya buat pun selalu hal yang sama. Dari tahun ke tahun sama, yang sayangnya lagi hampir tak pernah tercapai. Karena seringnya resolusi itu terlupakan. Terhapus bersama berjalannya waktu dan baru kembali teringat ketika momen tahun baru datang lagi.

Mungkin benar teman saya bilang, kalau saya tak sungguh-sungguh dalam membuat resolusi. Makanya sering terlupakan. Atau tekad saya yang kurang kuat untuk mengejar resolusi tahunan yang saya buat.

Namun, seiring berjalannya waktu, kalau saya pikir-pikir lagi mengapa saya mudah melupakan resolusi yang saya buat di awal tahun, mungkin karena semua resolusi yang saya buat hanyalah tempelan belaka. Dangkal dan cenderung absurd.

Diet alias menurunkan berat badan dan menabung lebih banyak supaya bisa jalan-jalan ke tempat-tempat baru dan indah yang belum pernah saya datangi adalah dua resolusi yang selalu saya gaungkan setiap tahun, selain berjanji akan belajar untuk lebih mematutkan diri. Minimal berpakaian dengan lebih baik nggak tabrak motif atau warna.

Hari berganti hari, pun bulan berganti bulan. Diet hanya menjadi rencana karena saya termasuk orang yang doyan makan dan bukan pemilih dalam hal makanan.

Kalau binatang, bisa dibilang saya ini omnivora alias pemakan segala. Jadi, sudah pasti gagal total. Begitu pula dengan urusan menabung. Jelas gagal total juga. Karena ini sangat berkaitan dengan hobi makan saya. Rencana tabungan berubah menjadi tabungan lemak di tubuh. Hiks.

Dan apakah saya menyesali itu? Ternyata tidak. Semakin tua, entah karena usia atau lelah membuat resolusi yang tak pernah tergapai, saya berhenti membuat resolusi lagi. Mungkin sudah lebih dari 10 tahun saya tak pernah membuat resolusi tahun baru.

Momen pergantian tahun tetap saya nantikan walaupun tak lagi saya rayakan seperti dulu. Karena bagi saya, tahun baru kini hanyalah momen pergantian kalender belaka. Tak terlalu istimewa lagi. Sudah beberapa tahun belakangan mungkin sejak menikah dan mempunyai dua orang anak (sulung/Damar dan bungsu/Dita), bagi saya tahun baru atau tidak, sama saja tak ada bedanya.

Resolusi hidup tak lagi saya dengungkan setiap tahun. Melainkan setiap hari. Sepanjang tahun. Ya, resolusi hidup saya kini bukan lagi rencana tahunan melainkan rencana hidup sepanjang tahun selama Tuhan masih memberikan saya napas.
Resolusi saya kini adalah resolusi besar yang saya ibaratkan dengan sebuah puzzle di mana setiap kepingnya harus saya susun setiap hari. Hingga nanti bisa menjadi sebuah bentuk yang sempurna.

Anak-anak saya, merekalah resolusi hidup saya kini. Bukan lagi tubuh langsing, fashionable, atau traveling keliling dunia.

Terlebih, ternyata Tuhan menganugerahkan saya seorang anak istimewa. Anak sulung saya adalah penyandang high function autism atau biasa dikenal dengan asperger. Memiliki anak yang unik tentu menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Bagaimana saya harus mentreat dia agar kelak bisa menjalani hidupnya dengan baik. Apalagi kini ia beranjak remaja.

 Vlog Damar Peyek

Bagi saya dan suami, dia adalah pekerjaan rumah terbesar bagi kami. Dengan segala keterbatasannya, kami harus bisa menjadikan dia "seseorang". Agar kelak dia bisa mandiri dan tidak menggantungkan hidupnya pada orang lain.

"Memberikan dia skill atau keahlian khusus," itulah pesan psikolog pada kami saat terakhir sesi konsultasi. Setelah berpikir keras menimbang banyak hal, saya pun mencoba mencari tahu berbagai jenis pekerjaan atau profesi yang bisa dilakukan seorang dengan gangguan interaksi sosial dan cenderung memiliki rutinitas yang repetitif seperti sulung saya.

Akhirnya, pilihan jatuh pada rencana memberikan dia skill yang berkaitan dengan digital marketing. Sesuai dengan bakat dan minatnya yang memang terlihat sangat menonjol dalam hal verbal dan dunia pemasaran. Ini sudah terlihat saat saya mengamati Si Sulung yang mulai rajin nge-vlog di Youtube.

Beberapa pekan lalu, saya mencari-cari informasi perihal kursus belajar atau tempat apapun untuk mengasah skill Si Sulung agar kelak lebih bisa mandiri. Bagaimana pun saya sangat ingin memberikan dan menjadikan yang terbaik bagi makhluk ciptaan Tuhan yang telah dititipkan kepada saya.

Sudah tak ada lagi resolusi yang hanya untuk kesenangan diri sendiri. Semua tentang Sang Buah Hati. Saat ini, itulah resolusi hidup saya.

(Dinar K Dewi)

No comments