Menu
Jedadulu

Bekal Rp 10 Juta, Bisa Liburan ke Luar Negeri Mana Saja?


Generasi millenials kini membuat traveling sebagai sebuah agenda rutin. Terdapat banyak survei yang menyimpulkan bahwa generasi tersebut rata-rata mengalokasikan Rp 10 hingga 11 juta untuk kebutuhan traveling. Namun sebetulnya, dengan nominal tersebut, destinasi apa saja sih yang bisa dikunjungi?

Inilah pilihan-pilihan destinasi wisata di luar negeri rekomendasi dari Panorama JTB Tours Indonesia. Anda bisa buktikan dengan datang ke travel fairnya Panorama JTB Tours, yaitu World of Holidays 2019 pada 21-24 Maret di Laguna Atrium, Central Park Mall, Jakarta.

Anda bisa mendapatkan paket tur seperti keliling Eropa Barat (Belanda-Prancis-Jerman-Swiss), Jepang, Korea Selatan, Turki, atau berbagai destinasi terkenal lainnya.

Tokyo (Jepang)

Jepang telah menjadi salah satu destinasi luar negeri hits yang wajib dikunjungi, terlebih bagi para generasi Millenials. Selain banyak yang ingin melihat langsung kebudayaan Jepang yang selama ini hanya dilihat melalui komik, Tokyo memiliki banyak toko merchandise bagi para penggila anime. Bagi Anda yang ingin menikmati pemandangan, keindahan gunung Fuji yang merupakan gunung tertinggi di Jepang akan memenuhi keinginan Anda. Didukung dengan suasana pemandian air hangat (onsen) khas Jepang akan membuat destinasi ini menjadi wishlist sebagian besar para generasi Millenials.

Nami Island (Korea Selatan)


Istilah seperti Drakor (Drama Korea), K-popers(Boyband/Girlband Korea), atau Oppa (panggilan untuk pria Korea) sudah sangat akrab di telinga sekarang ini. Hal ini wajar, karena demam budaya Korea Selatan sedang melanda generasi-generasi muda, khususnya Millenials dan Gen-z di Indonesia. Oleh karena itu tentu traveling ke Korea Selatan menjadi kewajiban dan prestise tersendiri. Selain melihat langsung lokasi-lokasi syuting drama korea, Anda dapat menjumpai tempat berkumpulnya pemuda-pemudi di sana, sambil mencicipi berbagai jajanan khas dari negeri gingseng tersebut.

Paris (Prancis)


Siapa yang tidak terpukau dengan keindahan salah satu bangunan paling bersejarah dunia seperti Menara Eiffel? Atau penasaran untuk melihat langsung Louvre Museum? Jika ya, Paris merupakan destinasi wisata yang cocok untuk Anda. Berlibur dengan suasana eksklusif dari khasnya kota-kota besar di Eropa Barat, dan menelusuri bangunan-bangunan bersejarah seperti Notre Dame Cathedral dan Arc de Triomphe menjadi alternatif pilihan lain. Menariknya ragam kuliner di kota ini cukup terkenal di berbagai belahan dunia, tentu Anda tidak ingin melewatkan liburan kali ini tanpa datang Paris bukan?

Amsterdam (Belanda)


Mau menikmati suasana country side di salah satu bagian Eropa Barat? Amsterdam bisa menjadi solusinya. Didukung dengan latar suasana pedesaan modern, tempat yang sesuai bagi Anda yang ingin santai sejenak dan menghilangkan penat dari hiruk pikuk dan padatnya perkotaan. Tidak jauh dari kota ini, Anda juga dapat menjumpai desa Zaanse Schans untuk melihat kincir angin raksasa, atau sekadar berfoto dengan pakaian tradisional Belanda di desa nelayan Volendam.

Engelberg (Swiss
)

Kota Engelberg sekilas terdengar masih asing di telinga kita sebagai warga Asia Tenggara, akan tetapi sebuah kota di negara Swiss ini menyimpan pemandangan yang menakjubkan. Bagaimana tidak, suguhan pemandangan dari pegunungan Titlis memanjakan mata sejauh mata memandang, dan glasier yang memukau menjadi daya tarik tersendiri. Anda pun dapat menikmati pemandangan ini dengan santai dari atas gunung melalui cable car yang terhubung antar gunungnya. Tempat ini cocok bagi Anda yang mencari udara segar dan menyukai suasana pegunungan.

Generasi millenials kini membuat traveling sebagai sebuah agenda rutin. Terdapat banyak survei yang menyimpulkan bahwa generasi tersebut ...
Menulis Indonesia 22 Mar 2019
Jedadulu

Delapan Tips Mendaki Gunung Bagi Pemula

(Mendaki gunung/Foto: Pixabay)

Belum lama ini atau pada Senin, 4 Maret 2019, tiga siswa SMP asal Kabupaten Indramayu tewas saat mendaki Gunung Tampomas, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Ketiganya tewas diduga akibat hipotermia. Saat ditemukan, ketiganya hanya mengenakan pakaian seadanya dan peralatan mendaki yang tak standar.

Mendaki gunung memang kegiatan luar ruangan yang menyenangkan, menantang, dan memacu adrenalin. Namun mendaki gunung sebaiknya tak dianggap remeh. Perlu persiapan khusus yang harus diperhatikan para pendaki, terutama kondisi fisik dan mental. Menganggap remeh persiapan bisa berakibat fatal. Kejadian seperti tiga siswa SMP dan korban-korban lain bisa menimpa siapa saja yang sedang beraktivitas mendaki gunung.

Banyak pemula yang masih menganggap kegiatan mendaki gunung hanya sebatas jalan-jalan, bahkan diperparah dengan persiapan yang sangat minim. Alhasil fisik pun kelelahan dan ujungnya berakibat fatal.

Mendaki gunung bukan tentang liburan atau hanya sebatas kegiatan treking, hura-hura, foto-foto di puncak, dan turun kembali ke basecamp. Tentu, perlu persiapan yang matang untuk mendaki gunung. Delapan tips mendaki gunung berikut bisa bermanfaat bagi pemula yang akan melakukan aktivitas satu ini.

1. Perencanaan dan Pengecekan Lokasi Pendakian


Periksa dahulu lokasi pendakian dan jalur pendakian yang akan dilewati. Apakah keadaan gunung dalam kondisi baik untuk didaki atau kondisi gunung siaga satu dan tak layak untuk didaki. Bertanya kepada teman atau petugas setempat yang sudah hapal jalur pendakian juga penting dilakukan agar lebih siap melewati medan.

2. Persiapan Fisik dengan Olahraga Teratur


Biasakan berjalan kaki minimal 30 menit setiap hari karena kaki adalah satu-satunya media bagi pendaki untuk mencapai puncak. Oleh karena itu perhatikan kekuatan otot kaki sehingga kaki yang digunakan dalam kondisi prima. Kemudian berlatih dengan jogging setiap pagi atau akhir pekan. Sama seperti halnya seorang bayi yang tengah belajar berjalan, pendaki pemula wajib menyiapkan fisik agar memiliki ketahanan yang baik.

3. Berlatih Kendalikan Emosi


Berbagai macam masalah sering kali muncul di luar dugaan saat mendaki gunung, terutama bagi yang belum pernah melakukan aktivitas mendaki gunung lantaran akan dihadapkan pada ujian mental dan fisik yang terbilang tak ringan. Oleh karena itu, cobalah untuk mengendalikan emosi selama mendaki dengan melatih diri sebelumnya. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan mengambil nafas selama 30 detik untuk setiap 30 menit pendakian. Jangan sungkan meminta berhenti berjalan pada teman atau rombongan jika sangat kelelahan. Ini berguna untuk mengatur sirkulasi oksigen mengingat tingginya dataran pegunungan memiliki tekanan udara yang cukup ekstrem, terutama pada saat akan sampai di puncak gunung. Mengeluh saat perjalanan mendaki gunung adalah sesuatu yang sia-sia. Bukannya lega, dengan mengeluh justru bakal merasa menyesal mendaki gunung. Kendalikan emosi ya.

4. Perbekalan yang Mencukupi


Siapkan sepatu yang memiliki grip dan kaus kaki khusus mendaki untuk mendukung kenyamanan selama mendaki gunung. Pilih sepatu yang tak mudah rembes jika terkena air dan yang terpenting tak berat. Tubuh juga akan sangat membutuhkan makanan yang mudah dicerna agar proses pengembalian energi dalam tubuh pun cepat. Selain asupan nutrisi, harus dijaga asupan air agar terhindari dari dehidrasi. Sebelum berangkat mendaki, pastikan telah memiliki banyak perbekalan makanan kering agar tak terlalu memberatkan tas punggung. Untuk persediaan air, bawalah setidaknya 3 hingga 5 liter air dalam botol yang dapat dimasukkan backpack. Perlengkapan memasak jadi salah satu komponen yang harus dibawa. Sebaiknya pendaki membawa kompor gas portable yang praktis. Bawa juga cadangan gas yang cukup untuk memasak. Bawa barang yang penting saja. Mendaki gunung bukanlah piknik yang segala sesuatunya harus dibawa. Pilihlah barang bawaan dengan bijak. Membawa barang berlebihan juga bisa menghambat pendakian.


(Berkemah di gunung/Foto: Pixabay)

5. Perlengkapan Tidur


Jangan lupa untuk membawa tenda anti-air sehingga dapat menjaga dari hujan yang sering kali terjadi tanpa dapat diprediksi sebelumnya. Selain itu tenda yang bagus juga dapat berfungsi untuk menghindarkan diri dari gangguan hewan liar yang bisa muncul di tengah malam. Untuk sleeping bag, silakan membawa yang sudah teruji kualitasnya. Selain itu, membawa matras juga sangat penting untuk keperluan tidur. Karena biasanya tanah yang digunakan sebagai alas tetap terasa dingin meskipun sudah menggunakan sleeping bag.

6. Jangan Lupa Jaket atau Pakaian Hangat


Siapkan juga jaket tebal agar terhindari dari hipotermia. Jaket berbahan katun atau wol adalah pilihan baik untuk mendaki gunung dan ingat jangan membawa jaket berbahan jeans karena bahan ini tampak kuat dan praktis, tetapi sulit sekali kering apabila basah. Saat ini ada banyak sekali varian jaket yang dikhususkan untuk medaki gunung dengan fasilitas waterproof, anti angin, dan tentunya tetap breathable. Jaket yang dirancang khusus mendaki gunung umumnya memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan suhu di luar. Misal, pada saat cuaca dingin akan membuat badan lebih hangat, bahkan sebaliknya jika cuaca panas tak akan membuat kegerahan. Selain itu biasanya jenis jaket ini juga mudah untuk dilipat dan ringkas sehingga lebih gampang untuk dibawa ke mana-mana.

7. Jas Hujan


Jas hujan diperlukan untuk melindungi tubuh dan seisi tas jika turun hujan saat pendakian. Sebab seringkali cuaca di gunung kurang bersahabat dan turun hujan yang cukup lebat secara tiba-tiba. Jika hujan cukup deras, ada baiknya berhenti sejenak dan mendirikan tenda sementara untuk berteduh.

8. Persedian Obat-obatan


Selain persiapan makanan dan minuman, perlengkapan lainnya yang harus disiapkan adalah pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), misalnya obat sakit kepala, obat anti mabuk, minyak angin, perban, dan obat-obat khusus bagi penderita penyakit tertentu. Meskipun terbilang sepele namun akan sangat berharga saat di tengah hutan yang tak ada toko atau jauh dari perumahan penduduk sekitar.

(Mendaki gunung/Foto: Pixabay) Belum lama ini atau pada Senin, 4 Maret 2019, tiga siswa SMP asal Kabupaten Indramayu tewas saat mendaki...
Menulis Indonesia 16 Mar 2019
Jedadulu

Ini Manfaat Anak Bermain dengan Teman Sebaya

(Anak-anak bermain air dengan teman sebaya/Foto: Pixabay)

Apa kegiatan sehari-hari yang paling disukai anak-anak? Pertanyaan yang gampang dijawab ya. Sudah menjadi rahasia umum, bermain adalah kegiatan yang paling disukai anak-anak.

Di balik keriaan itu, bermain ternyata penting bagi tumbuh kembang. Lewat bermain, sesungguhnya sang anak belajar banyak hal.

Banyak anak yang sehari-hari berada di antara orang-orang dewasa di rumahnya. Sehari-hari anak berhadapan dengan ayah, ibu, tante-om, kakek-nenek, atau asisten rumah tangga. Terkadang rumah pun berada di lingkungan yang tak banyak anak.

Padahal, ada beberapa perbedaan dan keuntungan antara bermain dengan teman lebih tua, sebaya, dan lebih muda. Bermain dengan teman lebih tua, anak akan belajar mengikuti, memantau, mencontoh, dan lain sebagainya.

Bermain dengan teman lebih muda, membuat anak akan belajar menjadi pemimpin, mengayomi, dan menjaga. Adapun bermain dengan teman sebaya menjadikan anak belajar berinteraksi setara.

Saat bermain dengan teman-teman sebayanya, sebetulnya anak bisa dilepas secara alamiah. Akan tetapi orang tua selalu perlu tahu apa yang dilakukan anak-anak yang sedang bermain bersama dan di mana mereka melakukan kegiatannya. Jangan sampai ternyata anak-anak melakukan kegiatan yang berbahaya, saling bertengkar, atau saling menyakiti.

Berikut ini beberapa manfaat bagi anak bermain bersama teman sebaya yang dirangkum dari beberapa pendapat psikolog anak.

- Sarana sosialisasi. Saat bermain masak-masakan bersama teman-temannya, misalnya, anak belajar berbagi, bergantian memakai alat, dan bekerja sama membuat sesuatu dan berinteraksi.

- Belajar membuat keputusan. Anak memutuskan bahan apa yang akan dimainkan dan bagaimana cara memainkannya. Nantinya, keterampilan memutuskan sesuatu akan mengasah rasa percaya diri si kecil.

- Mengembangkan kemampuan berbahasa. Saat bermain, si kecil akan mendengar dan berbicara tentang apa yang dilakukannya. Ia bisa belajar menggunakan kosa kata baru, menjelaskan apa yang sedang dilakukan, serta menggunakan mimik dan gestur.

- Mengembangkan kemampuan dan kecerdasan. Selain mendapatkan kesenangan, lewat bermain anak-anak belajar banyak hal dan mengembangkan semua aspek kemampuan serta kecerdasannya. Termasuk stimulasi panca indra, mengasah kemampuan motorik halus, koordinasi mata dengan tangan, melatih konsentrasi, memperluas pengetahuan, dan mengasah kreativitas dan daya imajinasi.

Jadi bunda-bunda yang hebat, tak ada salahnya untuk mengizinkan anak bermain dengan teman sebayanya, asalkan semua tetap dalam pengawasan kita sebagai orang tua. Salam.

(Dinar K Dewi)

(Anak-anak bermain air dengan teman sebaya/Foto: Pixabay) Apa kegiatan sehari-hari yang paling disukai anak-anak? Pertanyaan yang gam...
Menulis Indonesia 13 Mar 2019
Jedadulu

Tips Travelling Bersama Anak Berkebutuhan Khusus

(Anak kecil berlibur/ilustrasi/Foto: Pixabay)

Berbagai kemungkinan bisa timbul selama masa liburan, termasuk bila kita mengajak anak yang berkebutuhan khusus, misalnya yang memiliki gangguan spektrum autisme. Pengidap gangguan spektrum autisme akan memiliki cara berbeda dalam berinteraksi dengan orang lain.

Namun, bukan berarti pengidapnya tidak bisa melancong atau berwisata dengan nyaman. Asalkan punya persiapan yang matang, acara liburan bersama anak berkebutuhan khusus tetap akan sangat menyenangkan. Seperti dilansir dalam laman Reader's Digest, penulis Inggris Lydia Wilkins membagikan tips agar anak berkebutuhan khusus bisa melancong tanpa kendala.

- Persiapkan dan Perencanaan Lokasi Tujuan

Pemilihan lokasi liburan menjadi hal penting yang harus Anda pikirkan. Kemasi semua barang yang perlu dibawa dengan cermat, serta tuliskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama perjalanan. Pesan hotel dan moda transportasi sejak jauh-jauh hari. Idealnya, pengidap autis bepergian bersama orang tua atau pendamping yang bisa membantu mengatasi suasana serta stimulus baru di lokasi tujuan.

- Tetap Tenang dan Jaga Emosi

Untuk orang tua yang mendampingi wisata pengidap spektrum autisme, sebaiknya memang harus punya stok sabar. Menggertak, berteriak, dan bersikap tidak sabar tidak akan membantu situasi, terutama jika pengidap autis sedang mengalami krisis. Tetap tenang dan tak perlu panik saat buah hati Anda bertemu dengan orang lain atau anggota keluarga lain dan harus mengajarkan sopan santun. Yang diperlukan oleh buah hati Anda adalah pengawasan. Tarik napas Anda dan tetap tenang menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Semakin Anda panik dan menaikkan emosi, maka buah hati Anda juga akan semakin tidak nyaman.

- Sediakan Makanan dan Obat-Obatan
Siapkan persediaan berupa obat-obatan yang diperlukan selama perjalanan. Jika buah hati Anda tidak boleh atau alergi dengan makanan tertentu, maka pikirkan juga hal ini. Anda bisa mencari tahu restoran di sekitar lokasi liburan atau mencari tahu apakah pihak hotel tempat Anda menginap memungkinkan Anda memesan makanan khusus di luar menu yang mereka sediakan.

- Selalu Awasi Buah Hati Anda
Berkomunikasilah dengan jelas dan langsung merujuk ke pokok masalah. Gunakan suara dengan intonasi tenang dan ajukan pertanyaan sederhana. Cobalah untuk tidak memakai istilah metaforik karena pengidap autisme bisa kesulitan menafsirkannya. Beberapa anak berkebutuhan khusus biasanya tidak terlalu suka bertemu dengan orang-orang yang asing, maka selalu awasi setiap gerak-gerik atau perubahan emosi buah hati Anda. Jika buah hati Anda merasa senang dengan masa liburannya, maka nikmati hal tersebut bersama-sama. Tetapi jika dia merasa tidak nyaman, maka Anda bisa mencari apa yang menarik di lokasi liburan tersebut yang akan membuatnya senang.

So, jangan lupa membawa kamera atau handycam untuk mengabadikan saat-saat menyenangkan bersama buah hati dan keluarga Anda. Selamat berlibur ya.

(Dinar K Dewi)

(Anak kecil berlibur/ilustrasi/Foto: Pixabay) Berbagai kemungkinan bisa timbul selama masa liburan, termasuk bila kita mengajak anak ya...
Menulis Indonesia 10 Mar 2019
Jedadulu

Kembali Travelling ke Yogyakarta, Bromo, Lalu Bali


(Candi Prambanan, Yogyakarta/Foto: jedadulu.com)


Pulang ke kotamu...iya kotamu, bukan kotaku, tapi kami akan selalu merindukan kotamu. Di lain hari, kami akan pulang lagi ke kotamu...Yogyakarta.

Ya, Yogyakarta memang menjadi salah satu kota yang ngangenin seperti alunan lagu karya KLA Project yang ngehits di akhir tahun 1980-an. Kami dengan formasi lengkap, saya, suami, dan dua buah hati, Damar (13 tahun) dan Dita (7) kesampaian juga main-main ke Yogyakarta selama tiga hari pada Agustus 2018 lalu atau beberapa hari setelah Lebaran.

Semua serbadadakan, tak direncanakan. Asal jalan saja karena kebetulan suami sedang cuti dan anak-anak masih liburan panjang sekolah. Soal Yogyakarta, kami memang sudah lama mengidamkan akan berwisata ke sana. Tapi sebenarnya tidak pada 2018.

Kami mengindamkan travelling bersama keluarga kecil terutama untuk mempererat ikatan batin antara kami, mempertebal kekayaan batin, dan memperluas wawasan pada dua buah hati kami.

Yogyakarta adalah ikon wisata di Indonesia selain Bromo dan Bali yang menjadi resolusi travelling keluarga kecil kami. Selain menawarkan wisata lengkap, alam, alternatif, dan budaya, kebetulan jarak terdekat dari tempat tinggal kami di Kota Depok, Jawa Barat, adalah Yogyakarta. Jika ini dibanding Bromo dan Bali ya.

Jadilah Yogyakarta destinasi pertama kami untuk berpetualang berempat. Kami perkirakan dengan jarak paling dekat tak akan terlalu menguras isi kantong sisa tunjangan hari raya (THR).

Dari Depok dengan MPV lama buatan Korea yang dikendarai suami, kami pun berangkat sejak habis Subuh di hari Selasa. Jalan saja sampai masuk tol, keluar tol, masuk tol, keluar tol lagi, jalan berliku karena lewat Bumiayu, hingga sampai Yogykarta sekitar pukul 23.00 WIB. Benar-benar nggak direncanakan asalkan sampai Yogyakarta dulu.

Padahal, suami baru sekali ke Yogyakarta pas study-tour saat masih duduk di bangku SMP. Sementara, saya dan anak-anak boro-boro, baru kali ini menginjakkan kaki di Yogyakarta. Sanak-saudara di Yogya? Hehehe...kami tak punya. Modal kami hanya nekad dan Google Maps.

Untunglah saat di rest area selama perjalanan, suami sempat menghubungi kenalannya yang sedang bertugas di Yogyakarta untuk referensi penginapan. Di Yogyakarta, sejak lama kami ingin melihat Candi Borobudur, Candi Prambanan, Malioboro, Keraton Yogyakarta, Taman Sari Yogyakarta, dan Pantai Parangtritis. Tempat-tempat itu selain ikonik juga kebetulan lokasi study-tournya suami pas SMP. Yah, sekalian napak tilas mungkin.

Kenalan suami pun menyarankan untuk mencari penginapan di daerah Sleman karena relatif dekat dengan obyek wisata yang kami tuju. Hmm, kami ikutin saja gak ada salahnya, toh kami memang sama sekali buta medan. Dan, tak sulit menemukan penginapan di Sleman, banyak betebaran. Kami memilih penginapan di daerah Condong Catur.

(Di Candi Borobudur/Foto: jedadulu.com)

Singkat cerita, tujuan kami ke Candi Borobudur (ini di Kota Magelang sebenarnya), Candi Prambanan, Malioboro, Taman Sari, Keraton Yogyakarta, Pantai Parang Tritis, pun akhirnya kesampaian. Puas? Tentu saja tidak.

Semakin sering keliling Yogyakarta, kami semakin paham banyak obyek wisata lain yang tak kalah bagus dan (sedihnya) terlewat dari pantauan kami. Masih ada candi-candi selain Borobudur dan Prambanan yang ternyata tak kalah eksotik. Bahkan ada puluhan jumlahnya yang tersebar di Yogyakarta dan sekitarnya.

Belum lagi wisata alam yang terlewat, seperti Kaliadem, Bukit Kali Kuning, Kalibiru, Kaliurang, Air Terjun Kedung Pedut, Embung Nglanggeran Gunung Kidul, Pantai Indrayanti, Tebing Breksi, Hutan Pinus Mangunan, dan masih ada lagi puluhan obyek wisata yang terlewat oleh kami. Ini semua karena kami travelling secara dadakan.

(Damar di Pantai Parangtritis/Foto: jedadulu.com)

Padahal, semestinya setiap perjalanan membutuhkan itinerary. Ini agar tidak keluar dari tujuan dan bisa menetapkan budget yang diperlukan, terutama bagi traveller dengan budget perjalanan yang terbatas seperti kami.

Sayangnya, kami baru menemukan referensi travelling terbaik pada awal tahun 2019 ini di blog RedDoorz. Di sini ada referensi dan rekomendasi mulai dari destinasi wisata, tips-trik, kuliner, bahkan akomodasi penginapan pun ada.

Kami pertama kalinya mendengar nama RedDoorz dari salah seorang Blogger yang hobi banget traveling dan solo-trip dengan budget yang sangat murah. Sampai akhirnya ia berbagi tips and trik plus menyarankan untuk menggunakan RedDoorz sebagai pilihan utamanya.

(Salah satu kamar di RedDoorz/foto: reddoorz.com)

Coba kalau Agustus 2018 kemarin kami sudah kenal RedDoorz, mungkin jalan-jalan ke Yogyakarta akan lebih terarah dan terpuaskan. Tapi lebih baik tahu sekarang daripada tidak sama sekali, bukan?

Berbicara mengenai penginapan, kami selama ini memang tidak mencari penginapan mahal nan mewah di hotel berbintang lima. Kami lebih memilih penginapan low budget namun tetap dengan fasilitas yang lengkap.

Nah, bagi Anda yang hobi travelling dan menggunakan penginapan di dormitory hostel atau hotel-hotel murah, fasilitas yang nyaman, dan lokasi strategis dengan harga terjangkau, RedDoorz bisa jadi solusinya. Ia bisa memanjakan kebutuhan penginapan Anda tanpa perlu ragu dan khawatir dengan biaya.

RedDoorz selalu memberikan pelayan terbaiknya untuk para tamu yang menginap, interior dan fasilitas yang nyaman, bersih dan juga wangi, enak buat liburan sambil kerja atau bersama keluarga, seperti kami. Tentu, dengan harga yang tidak menguras isi kantong.

Meskipun harganya bersahabat, bukan berarti fasilitasnya ala kadarnya. Ini karena RedDoorz mengutamakan kenyamanan tamu. RedDoorz merupakan jaringan penginapan budget online terbesar di Indonesia dengan standar pelayanan yang berkelas. RedDoorz menjamin standar pelayanan service assurance pada setiap kamar yang tersedia dan dilengkapi juga dengan enam guarantee service:

Ø  Akses Wifi Gratis
Ø  Kamar Mandi yang Higenis dan Bersih
Ø  Televisi dengan Parabola tersedia semua kamar
Ø  2 Botol Air Mineral Gratis
Ø  Linen (Sprei) Bersih
Ø  Perlengkapan Mandi (Sabun, Shampo, Sikat Gigi, dan Moisturizer)




RedDoorz terdiri dari 3 tipe, yaitu RedDoorz (standar), RedDoorz Plus, dan RedDoorz Premium. Perbedaannya terletak pada besarnya kamar, lokasi properti, dan fasilitas lainnya. Jadi kita bisa memilih properti sesuai dengan budget kita.

Kamar RedDoorz tersebar di Indonesia, tinggal pilih destinasi yang ingin kita kunjungi, maka di aplikasi muncul banyak pilihan kamar yang bisa kita pilih. Harga kamar dari RedDoorz sangat terjangkau, sesuai dengan slogannya, “Comfortable Rooms at Great Prices.”

Tak hanya fasilitasnya yang lengkap, harga bersahabat, dan cari booking-nya mudah, tapi RedDoorz juga kerap memberikan promo atau potongan harga. Metode pembayarannya pun cukup lengkap, bisa menggunakan kartu kredit, transfer antarbank, bahkan metode pembayaran yang memungkinkan kita sebagai traveller untuk membayar langsung ke hotel. Wah kurang lengkap gimana coba? Tidak alasan untuk tidak memilih RedDoorz.


Itulah resolusi traveling kami tahun 2019 ini. Sebuah resolusi traveling yang sudah terjawab dengan kehadiran RedDoorz. Traveling tidak lagi ribet. RedDoorz sudah memberikan panduannya di dalam blog RedDoorz serta banyak pilihan penginapan murah yang bisa dipesan di dalam genggaman aplikasi.

Lain kali, jika kembali ke Yogyakarta, kami tak akan bingung lagi mau menginap di mana atau mau ke mana. Atau jika kesampaian ke Bromo dan Bali, kami tak akan ribet lagi membuat itinerary. Ini lantaran RedDoorz pasti menyediakan referensi wisata plus kamar yang nyaman dan pas di kantong. Liburan pun bakal semakin terarah dan menyenangkan.

(Dinar K Dewi)

(Candi Prambanan, Yogyakarta/Foto: jedadulu.com) Pulang ke kotamu...iya kotamu, bukan kotaku, tapi kami akan selalu merindukan k...
Menulis Indonesia 7 Mar 2019
Jedadulu

Wisata Kuliner di Dieng, Coba Mampir ke Warung Selera Raja

(Warung Selera Raja Dieng/Foto: Jedadulu.com)

Sensasi dingin. Itulah yang kami rasakan saat kali pertama berwisata ke Dataran Tinggi Dieng atau Dieng Plateau, Wonosobo, Jawa Tengah, pada awal Desember 2017 lalu. Suhu Dieng rata-rata 10 derajat Celcius bahkan di pagi hari atau musim tertentu mencapai di bawah 0 derajat Celcius.

Jadi jangan tanya apakah ada air conditioner (AC) atau tidak di rumah-rumah warga dan penginapan di Dieng. Karena jelas nggak membutuhkan AC. Suhu dinginnya saja melebihi suhu terendah AC yang biasanya hanya 16 derajat Celcius.

Penginapan kami yang berada di sekitar Kompleks Candi Arjuna, Dieng Kulon, jelas tak memiliki AC. Namun dinginnya sudah terasa menusuk tulang, apalagi saat malam hingga pagi dini hari. Sampai-sampai kami sering berkelakar mencari remote AC untuk 'mematikan' dinginnya suhu udara.


Pada dini hari WIB, rombongan kami yang dikoordinir oleh sebuah biro travel berencana mengunjungi Bukit Sikunir yang terletak di Desa Sembungan. Bukit Sikunir menjadi salah satu obyek wisata andalan Dataran Tinggi Dieng. Salah satu yang paling diincar wisatawan adalah indahnya view sunrise dari Puncak Sikunir yang dikenal dengan Golden Sunrise Sikunir yang fenomenal. Selain itu, dari Puncak Sikunir, pengunjung bisa menyaksikan gagahnya gunung-gunung tinggi di Jawa tengah berderet di kejauhan.

Namun, karena kami membawa dua anak kecil, Damar (12 tahun) dan Dita (6), kami memutuskan tak ikut ambil bagian dalam rombongan besar ke Bukit Sikunir. Apalagi untuk melihat sunrise, rombongan harus berangkat sekitar pukul 03.30 WIB. Terlalu pagi dan pasti suhunya masih sangat dingin, terutama buat dua bocah kami.

Kami memutuskan untuk tetap tinggal di penginanapan dan memilih jalan-jalan pagi di sekitar penginapan dan Kompleks Candi Arjuna.

Sensasi dingin biasanya berimbas dengan persoalan selera makan yang hangat. Untuk soal kuliner di Dieng, tak perlu khawatir, warung makan dan resto kecil banyak betebaran di sekitar Kompleks Candi Arjuna. Rasanya lumayan dan harganya tak menguras isi kantong.

Kami pun memilih wisata kuliner di sekitar penginapan. Pilihan jatuh pada Warung Selera Raja. Selain desainnya yang unik, kebetulan saat itu, sekitar pukul 06.00 WIB warung itu sudah buka duluan sehingga cocok sekalian buat sarapan. Warung itu berada di jalan masuk utama Kompleks Candi Arjuna.


Kami memesan makanan dan minuman hangat pada seorang bapak paruh baya yang ternyata si pemilik warung. Sayang, kami lupa menanyakan siapa namanya. Ia dibantu seorang asisten pria menyiapkan sarapan kami, nasi goreng, sate ayam, dan sate sapi, serta mie ongklok.

Tempat ini memiliki suasana yang sangat nyaman dan bersih cocok juga buat hangout. Tapi kebetulan, hari itu kami pembeli pertama karena datang terlalu pagi. Sehingga, baru kami yang duduk menyantap makanan di situ.

Pelayanannya sangat ramah dan cepat. Kita pun bisa menanyakan apa saja seputar wisata Dieng pada si Bapak pemilik warung. Ia akan menjawabnya dengan ramah. Kata si Bapak pemilik warung, lokasi itu dan termasuk warungnya ramai dikunjungi setiap ada event Dieng Culture Festival. Festival ini biasanya digelar di bulan Agustus setiap tahun.

Semua menu yang dihidangkan di Warung Selera Raja lumayan lezat. Ayamnya pun terasa segar dan entah mengapa terasa berbeda dibanding ayam-ayam yang dijual di kota. Belum lagi mie ongkloknya, salah satu makanan khas kota ini, rasanya cukup enak dan mengenyangkan.

Mie ongklok memang paling istimewa karena ini makanan khas Dieng. Menu ini merupakan olahan mie yang direbus lalu diracik dalam mangkuk yang ditambah dengan potongan kol, daun kucai, serta kuah kental berkanji. Mie ongklok biasanya disajikan dengan sate sapi dan tempe kemul khas Wonosobo. Hampir semua warung menyediakan termasuk Warung Selera Raja.

Semula kami sempat khawatir berapa yang harus kami bayar untuk makanan dan minuman hangat yang memuaskan itu. Karena sudah menjadi rahasia umum, di bebarapa lokasi obyek wisata, ada saja pedagang makanan yang menggetok harga.

Rasa khawatir pun sirna saat si Bapak menyodorkan bon makanan. Tak sampai 100 ribu rupiah untuk kami berempat. Wow murah! Ini bisa jadi salah satu lokasi kuliner yang kami rekomendasikan buat para pengunjung yang hendak berwisata ke Dieng.

(Dinar K Dewi)

(Warung Selera Raja Dieng/Foto: Jedadulu.com) Sensasi dingin. Itulah yang kami rasakan saat kali pertama berwisata ke Dataran Tinggi Di...
Menulis Indonesia 6 Mar 2019
Jedadulu

Mengapa Saat Bosan Waktu Terasa Lamban dan Saat Senang Waktu Terasa Cepat?

(Waktu yang relatif/Foto: Pixabay)

Setiap manusia punya jatah waktu yang sama setiap hari, yakni 24 jam. Waktu pada dasarnya memang berlalu dengan kecepatan yang konstan setiap saat. Kekacauan yang mungkin terjadi pada laju waktu hanya sekitar satu detik per 300 juta tahun.

Namun persepsi manusia terhadap waktu sangat dipengaruhi oleh tingkat fokus, keadaan fisik, dan suasana hati. Ketika kita bosan, waktu seolah terasa panjang dan tanpa akhir.

Dalam keadaan yang lain, waktu bisa terasa sangat cepat, misalnya bagi orang-orang yang sedang melakukan kegiatan menyenangkan. Waktu bisa terasa berjalan lebih cepat dari biasanya.

Fenomena ini ternyata berkaitan dengan persepsi otak terhadap waktu. Persepsi otak terhadap waktu dipengaruhi dengan ekspektasi.

"Setiap pikiran memiliki cakrawala yang beragam," ujar ahli neurosains dari Columbia University Irving Medical Center, Dr Michael Shadlen, seperti dilansir Live Science belum lama ini.

Ketika seseorang merasa sangat senang terhadap sesuatu, otak akan melihat cakrawala yang dekat dan cakrawala yang jauh. Hal ini membuat waktu tampak berlalu dengan sangat cepat.

Ketika seseorang bersenang-senang, sel-sel di otak akan menjadi lebih aktif sehingga melepaskan banyak dopamin (senyawa alami tubuh yang memiliki peran penting pada proses pengiriman sinyal di dalam otak). Akibatnya, otak melihat waktu berlalu lebih cepat dari seharusnya. Sebaliknya, saat merasa tidak senang, sel-sel di otak ini tak melepaskan banyak dopamin sehingga waktu terasa berjalan lamban.

Teori lain, persepsi seseorang terhadap durasi waktu berkaitan dengan cara otak menyimpan memori pada saat itu. Jaringan saraf yang menyimpan memori baru lebih padat dibandingkan jaringan saraf yang berurusan dengan memori yang tidak baru.

Sebaliknya, ketika merasa bosan, seseorang cenderung hanya akan mengantisipasi cakrawala paling dekat. Misalnya melihat akhir demi akhir sebuah kalimat dibandingkan akhir sebuah cerita dalam buku. Akibatnya, waktu akan terasa berlalu sangat lambat.

Sebagai contoh, seseorang akan merasa waktu berlalu cukup lambat ketika melakukan penerbangan jangka panjang ke suatu lokasi untuk pertama kalinya. Namun ketika melakukan perjalanan yang sama untuk kedua atau ketiga kalinya, penerbangan jangka panjang itu akan terasa lebih singkat.

Ketika mengingat hal-hal di masa lalu, kita akan merasa waktu di masa lalu kita lebih lambat dan waktu yang sedang kita jalani menjadi lebih cepat. Beragam hal yang ditemukan anak-anak merupakan pengalaman dan memori baru. Dari masa kecil hingga beranjak dewasa, kita akan mengalami banyak hal-hal baru dan belajar banyak hal.

Namun ketika sudah dewasa, manusia cenderung mengalami banyak hal atau kejadian yang serupa berulang kali sehingga tak banyak memori baru yang dibentuk. Waktu pun cenderung terasa lebih cepat berlalu seiring dengan bertambahnya usia.

Apalagi, ketika dewasa, kehidupan kita akan semakin rutin. Tak heran bila orang dewasa lebih banyak mengeluh tentang waktu yang berlalu lebih cepat.

(Dinar K Dewi)

(Waktu yang relatif/Foto: Pixabay) Setiap manusia punya jatah waktu yang sama setiap hari, yakni 24 jam. Waktu pada dasarnya memang ber...
Menulis Indonesia 5 Mar 2019