Sehari ke Candi Borobudur dan Prambanan, Kian Bangga Jadi Orang Indonesia


Candi Borobudur (Foto-foto: jedadulu.com)

"Bunda, apa benar Candi Borobudur dibangun orang Indonesia?"
"Bun, Candi Borobudur katanya candi terbesar di dunia, ya?"
"Bun, Candi Borobudur dan Prambanan besar mana?"
"Bunda, di buku pelajaran, Candi Borobudur sering ada gambarnya, emang itu bekas gunung ya kok bentuknya kayak gunung?"
"Bun, kita wisata ke sana kapan? Teman-teman sudah banyak yang ke sana loh."

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan anak-anak, Damar (13 tahun) dan Nindita (7) setiap kali membicarakan obyek wisata di Yogyakarta. Kota Yogyakarta memang menarik dan istimewa sebagai destinasi wisata. Selain untuk berwisata, Yogyakarta dan sekitarnya pun bisa dijadikan sarana edukasi bagi anak-anak untuk lebih mengenal kebudayaan dan sejarah Indonesia.

Kesempatan bagi saya untuk menjawab semua pertanyaan serta mengenalkan Candi Borobudur dan Candi Prambanan pada dua buah hati akhirnya kesampaian juga pada Agustus 2018, atau beberapa hari setelah Lebaran. Sebenarnya semua serbadadakan, tak direncanakan. Asal jalan saja karena kebetulan suami sedang cuti dan anak-anak masih libur panjang sekolah.

Padahal, suami baru sekali pergi ke Yogyakarta. Itu pun saat study-tour di bangku SMP. Sementara, saya dan anak-anak boro-boro, baru kali ini menginjakkan kaki di Yogyakarta. Sanak-saudara di Yogya? Hehehe...kami tak punya. Modal kami hanya nekad dan Google Maps.

Dengan mobil pribadi, perjalanan ke Yogyakarta bisa dikatakan tak bermasalah karena selain Google Maps, sudah banyak penunjuk arah ke Yogyakarta selama kami berkendara dari kediaman kami di Kota Depok, Jawa Barat. Namun, lantaran waktu yang sangat terbatas, sesampainya di Yogyakarta kami berencana mengunjungi dua candi besar itu dalam sehari. Ya sehari saja.

Kata orang-orang (tentu saja yang sudah berpengalaman berkunjung ke candi itu) waktu terbaik untuk melakukan wisata ke Borobudur adalah di pagi hari saat melihat matahari terbit. Sedangkan, Candi Prambanan bisa dikunjungi saat sore atau senja, menjelang matahari terbenam. Berbekal masukan ini, kami pun memilih untuk berkunjung ke Candi Borobudur terlebih dulu.



Sudut Candi Borobudur

Letak Candi Borobudur sebenarnya bukan di Yogyakarta, tapi di Magelang, Jawa Tengah. Untuk sampai ke candi ini, kami harus menempuh jarak sekitar 40 kilometer ke sebelah barat laut dari arah Yogyakarta. Konon, Candi Borobudur adalah candi Buddha terbesar di dunia yang dibangun sekitar 770 Masehi.

Dari sejumlah literatur dan brosur yang saya baca (sekalian sebagai bahan tour guide buat anak-anak kami yang gemar bertanya), Candi Borobudur merupakan tempat yang dinobatkan oleh UNESCO sebagai situs warisan dunia. Candi ini terbuat dari batu andesit dan terbagi menjadi tiga bagian, kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu yang diwujudkan dalam 10 teras bertingkat. Secara keseluruhan Borobudur mempunyai ketinggian 34,5 meter dan luas 123 x 123 meter.

Setiap bagian candi dihias dengan 2.672 panil relief, 504 arca Buddha, dan 72 stupa. Berdasarkan data yang ada, diduga bahwa Candi Borobudur didirikan secara bertahap oleh tenaga kerja sukarela yang bergotong royong demi kebaktian ajaran agama Buddha Mahayana pada masa Pemerintahan Wangsa Syailendra antara tahun 750 hingga 842 Masehi. Hal yang menarik dari candi ini adalah batuan yang tersusun rapi tanpa adanya perekat.

Tak sulit untuk menuju area Candi Borobudur, walaupun sebenarnya letaknya jauh ke dalam dari jalan utama Magelang. Untuk menuju ke sana, ternyata kami harus memasuki suasana seperti perkampungan wisata. Kami sampai di sana sekitar satu jam perjalanan dari Yogyakarta atau sekitar pukul 10.00 WIB.

Area parkir di depan Candi Borobudur ternyata sudah lumayan penuh pagi itu. Saat keluar dari kendaraan, kami sudah disambut para pedagang suvenir, terutama penjual topi. Saya sarankan membeli topi karena area Candi Borobudur yang terbuka cukup panas. Halaman luar sekitar Candi Borobudur juga penuh lapak pedagang layaknya pasar. Tak ada salahnya membeli oleh-oleh di sini karena menurut saya harganya lebih murah dibanding di kawasan Malioboro, Yogyakarta.

Pintu masuk tiket ke Candi Borobudur katanya diperbarui setiap tahun. Pintu masuk bagi pengunjung internasional dibedakan dengan warga negara Indonesia. Harga tiket pengunjung asing lebih mahal dibanding warga Indonesia. Anak-anak di bawah lima tahun bisa masuk secara gratis. Saat kami ke sana tiket untuk dewasa Rp 40 ribu dan anak-anak Rp 20 ribu.

Mengelilingi Candi Borobudur berasa seperti berolah raga. Bayangkan luas keseluruhan area taman wisata Candi Borobudur ditambah dengan Candi Borobudur adalah 85 hektare. Sementara, luas area Candi Borobudurnya saja adalah 3 hektare. Hmm cukup menguras energi dan waktu ya. Apalagi kalau berusaha naik ke stupa tertinggi, berasa seperti naik treadmill. Melelahkan tapi menyenangkan.

Berpose di depan stupa terbesar Candi Borobudur
Tak lama kami menikmati Borubudur, sekitar dua jam, karena kami harus melanjutkan perjalanan selanjutnya ke Candi Prambanan. Apalagi, lokasi Candi Borobudur dan Prambanan tidak berdekatan satu dengan yang lain.

Borobudur terletak di sebelah barat utara Yogyakarta dan Prambanan lebih dekat pada bagian timur Yogyakarta. Dari sudut jarak pandang, Borobudur adalah sekitar 45 km dari pusat kota, sementara Prambanan berjarak 16 km dari pusat kota. Jarak yang terbentang membuat kunjungan keduanya akan membuat hari yang sangat panjang bagi kami.

Namun, saat perjalanan pulang dari Candi Borobudur untuk menuju Candi Prambanan, kami menjumpai lagi satu candi yang cukup besar, Candi Mendut. Gampang untuk menemukan candi ini karena letaknya berada di pinggir jalan. Jaraknya mungkin tak sampai lima kilometer dari Candi Borobudur.


Di depan Candi Mendut
Seperti Candi Borobudur, Candi Mendut merupakan sebuah bangunan candi yang berlatar belakang dari agama Buddha. Dinamakan Candi Mendut karena letak candi yang memang berada di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Memang, Candi Mendut tidak semegah Candi Borobudur dan dan ukurannya pun tidak sebesar Candi Borobudur. Makanya, tiket masuknya murah hanya Rp 5 ribu. Saat kami berkunjung, sepertinya candi itu sedang dalam proses pemugaran.

Dari literatur yang kami baca, Candi Mendut didirikan pada masa pemerintahan Raja Indra dari Wangsa Syailendra. Di dalam sebuah prasasti Karangtengah yang mempunyai tahun 824 Masehi, di situ disebutkan bahwa Raja Indra telah membangun sebuah bangunan suci yang diberi nama Wenuwana yang mempunyai arti hutan bambu.

Bahan dari bangunan Candi Mendut adalah terbuat dari batu bata yang dilapisi dengan batu alam. Bangunan Candi Mendut ini berada pada sebuah dataran yang agak tinggi, sehingga bangunan Candi Mendut tampak terlihat anggun dan kokoh. Tak lama kami berkunjung ke candi ini, hanya sekitar 15 menit, karena tujuan utama kami selanjutnya adalah Candi Prambanan.

Setelah mengunjungi Candi Mendut, kami membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk sampai Candi Prambanan. Letak Candi Prambanan juga mudah dijangkau, berada di sisi jalan dan terlihat jelas dari kejauhan, sama seperti Candi Mendut. Kalau tidak salah, tiket masuk Candi Prambanan sama dengan Candi Borobudur dan pintu masuk antara wisatawan asing dan lokal juga dibedakan.


Di area Candi Prambanan
Selain megah dan indah, bangunan penting umat Hindu ini juga memiliki berbagai hal yang seru untuk dieksplorasi. Mulai dari legenda Roro Jonggrang, kompleks bangunan yang luar biasa megah sampai Sendratari Ramayana. Bagian dalam bangunan pun tak kalah menarik. Ada banyak relief-relief yang sambung-menyambung dan membentuk suatu cerita tentang kehidupan masa lalu obyek wisata ini, termasuk asal usulnya.

Menurut literatur, ada total 240 candi berdiri di Prambanan. Candi yang memiliki nama lain Candi Roro Jonggrang ini terletak di perbatasan dua provinsi. Sama-sama berada di Kecamatan Prambanan, namun sebagian masuk wilayah Kabupaten Sleman, Yogyakarta, dan sebagian lagi masuk Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Wisata Candi Prambanan juga dijadikan warisan budaya dunia sejak tahun 1991.

Semakin sore dan mendekati senja, pemandangan gugusan candi-candi di Prambanan terasa semakin indah saat memunculkan siluet yang diterpa cahaya matahari. Sangat bagus untuk obyek berfoto. Instagramable, banget!
Candi Prambanan menjelang senja (Foto: jedadulu.com)
Namun, kami tak bisa berlama-lama lantaran sekitar pukul 17.30 WIB, arena Candi Prambanan sudah harus ditutup. Kami hanya sekitar satu jam berkeliling Candi Prambanan. Tentu, satu jam saja tidak cukup untuk menjelaskan semuanya. Terutama buat Damar, yang sejak awal begitu tertarik pada pelajaran sejarah dan budaya. Ada begitu banyak hal yang menarik untuk dipelajari dan diskusikan justru setelah kami mengunjungi tiga candi itu dalam sehari.

Paling tidak, seusai perjalanan, anak-anak mengaku kian bangga menjadi bagian Bangsa Indonesia. Ini lantaran nenek-moyang kita ternyata sudah mampu membangun candi-candi megah ribuan tahun yang lalu. Tak kalah dengan bangsa-bangsa lain yang memiliki peradaban kuno yang terkenal seperti Mesir dan Cina.

Selama perjalanan pulang ke Depok, tak ada habisnya anak-anak membicarakan tentang candi-candi di Indonesia, terutama di sekitar Yogyakarta. Apalagi dari brosur yang kami peroleh di Prambanan, ternyata masih ada puluhan candi yang tak kalah bagus di Yogyakarta yang belum sempat kami kunjungi.

Lega juga setelah kami sedikit banyak mengurangi rasa penasaran anak-anak seputar dua candi terbesar yang sangat terkenal di Indonesia bahkan dunia. Perjalanan kali ini menjadi begitu berarti.

Namun yang menjadi sedikit masalah sebenarnya adalah lokasi kami menginap selama tiga hari dua malam di Yogyakarta. Jika kami punya saudara di Yogyakarta mungkin masalah bisa teratasi karena kami bisa menumpang di rumah saudara sekaligus menghemat biaya akomodasi.

Untunglah, tak sulit untuk menemukan hotel di Yogyakarta. Ada satu aplikasi yang memudahkan kami untuk mencari hotel yang sesuai bujet kami yang terbatas, namanya Pegipegi.  Di sini kita akan menemukan sekitar 627 hotel dengan harga mulai Rp 66 ribu per malam. Murah banget!

Caranya mudah, kita tinggal klik pegipegi.com untuk mencari hotel. Lalu mulai pencarian di halaman utama dengan memasukkan kota/daerah/nama hotel dan data menginap (check-in & lama menginap). Kemudian, pilih hotel. Di halaman hasil pencarian, kita dapat langsung memilih hotel yang diinginkan. Lalu memesan hotel.

Setelah menemukan hotel yang sesuai, kita dapat memilih kamar hotel dan jumlahnya. Selanjutnya, isi data dan lakukan pembayaran. Isi data pemesan dengan data tamu yang akan menginap. Setelahnya, review kembali data kita di halaman review.  Lantas, memastikan data sudah benar, lanjutkan ke halaman pembayaran.

Voucher hotel/e-ticket akan dikirimkan, setelah pembayaran sukses diterima. Kita akan menerima e-mail berisi ringkasan voucher hotel berupa e-ticket secara instan, maksimal dalam 60 menit. Hmn, liburan ke Yogyakarta dijamin tak akan ribet.

(Dinar K Dewi)
loading...

No comments