Tips Menjadi Guru Dadakan Bagi Anak Saat Bersekolah di Rumah

Si bungsu yang bete saat pembelajaran jarak jauh.
Mata Dita, putri kecil saya tiba-tiba bersinar mendengar ayahnya membacakan berita dari sebuah situs web perihal dibolehkannya sekolah-sekolah dibuka kembali pada Januari 2021 mendatang. Tapi kebahagiaannya tak berlangsung lama, ketika selang beberapa hari kemudian ayahnya kembali membacakan berita mengenai dinas pendidikan di kota kami yang akhirnya menunda wacana pembukaan pembelajaran sekolah tatap muka pada semester kedua karena angka korban pandemi Covid-19 ternyata masih sangat tinggi.

Pandemi yang sudah berlangsung selama sekitar sembilan bulan ini memang "menghajar" seluruh manusia di dunia. Menghantam berbagai lini kehidupan. Saat ini, hidup terasa berat bagi mayoritas orang. Hampir tak ada orang di sekitar saya yang tak mengeluh. Mulai dari bisnis yang merosot tajam, kehilangan mata pencarian, sampai kehilangan anggota keluarga tercinta. Benar-benar situasi yang sangat sulit. Terlebih karena kebanyakan orang tak siap menghadapi situasi darurat yang sangat berkepanjangan seperti saat ini.

Sulitnya situasi tentu juga dialami di sektor pendidikan. Ketika anak-anak sekolah mau tak mau harus diliburkan panjang. Imbasnya tentu ke mana-mana. Kita sebagai orang tua tentu merasakannya. Dari mulai harus menyediakan perangkat elektronik sebagai penunjang pembelajaran jarak jauh semacam laptop, komputer PC, atau ponsel. Menyediakan wifi atau kuota internet. Meluangkan waktu menemani mengajari anak belajar sampai menyiapkan stok kesabaran ekstra agar semua anggota keluarga tetap bisa waras.

Sekolah online atau pembelajaran jarak jauh atau apapun namanya tentu sebuah keadaan yang dulu tak pernah dibayangkan masyarakat pada umumnya. Namun kondisi darurat membuat kita semua harus bisa menerimanya. Dan jangan dikira sekolah online yang saat ini sedang kita jalani hanya membebani para orang tua. Karena para guru dan anak sendiri juga merupakan korban dari kondisi yang ada saat ini.

Seperti kebanyakan orang, tadinya saya juga mengeluh mendampingi anak belajar di rumah. Saya menggerutu karena merasa kerepotan ketika harus selalu standby setiap hari menemani anak belajar online. Padahal saya "hanya" ibu rumah tangga. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana lebih repotnya lagi bagi orang tua yang juga masih harus bekerja kantoran.  

Saat itu saya sempat merasa gurunya "keenakan", hanya tinggal memberi materi tanpa mau tahu muridnya paham atau tidak. Karena orang tua lah yang harus ketiban "pulung" menjelaskan materi pelajaran pada anak bila anak tak paham dengan buku atau video ajar yang dikirimkan guru.

Apalagi si bungsu anak perempuan saya yang kebetulan bersekolah di SD swasta tetap harus membayar SPP full tanpa pengurangan, padahal hanya belajar di rumah. Mulanya saya merasa tak adil. Tapi bersama berjalannya waktu saya pun menyadari kesulitan ini tak hanya dirasakan saya sebagai orang tua. 

Para guru pun mengalaminya. Di era pandemi dan belajar online menjadi sebuah budaya baru, para guru akhirnya dituntut untuk harus lebih melek teknologi. Saya melihat bagaimana guru kelas anak saya harus bersusah payah belajar lagi membuat video-video materi pembelajaran untuk siswa-siswanya. Belum lagi video-videonya yang harus dikemas semenarik mungkin agar siswa tak bosan dan bisa cepat memahami materi pelajaran.

Bagi guru-guru muda yang masih enerjik, masih punya kemampuan untuk belajar hal-hal baru mungkin tak terlalu menjadi masalah. Tapi bagaimana dengan guru-guru sepuh yang sudah berusia lanjut yang hanya tinggal menunggu pensiun? Situasi seperti ini tentu lebih menambah beban bagi mereka. Ketika mereka dituntut tak hanya harus bisa menyampaikan materi pelajaran, tapi juga harus menguasai teknologi internet.

Dan kesulitan ini benar terjadi pada guru-guru anak saya yang sulung. Si sulung yang kini di bangku SMA, bahkan pernah sampai emosi ketika berhadapan dengan seorang gurunya yang sudah cukup senior. Ketika si sulung harus sampai empat kali mengulang mengirim tugas ke gurunya yang ternyata gaptek. Semua kejadian itu menyadarkan saya kalau situasi saat ini memang berat bagi kita semua. Bagi orang tua, guru, juga anak-anak.

Bagi anak-anak, sekolah online atau pembelajaran jarak jauh pada mulanya pasti menyenangkan. Di awal pandemi ketika sekolah mulai diliburkan, kedua anak saya sempat berteriak kegirangan. Tadinya mereka pikir dua pekan pertama sekolah di rumah adalah liburan tambahan yang bisa mereka gunakan semaunya. Ketika pemerintah mengumumkan dua pekan tambahan lagi sekolah di rumah pun mereka masih belum mengeluh.



Tapi ketika sampai usai Idul Fitri ternyata masih harus bersekolah di rumah, rona kecewa jelas terlihat di wajah mereka. Terutama bagi anak saya yang kecil. Belajar online bagi anak usia SD terlebih dengan karakter ekstrovert seperti gadis kecil saya, terasa sangat menyiksa. Saya tahu pasti soal itu.

Bagaimana tersiksanya dia menghadapi pandemi saat ini. Di rumah dia saya larang keras bermain dengan anak tetangga mengingat komplek perumahan kami termasuk zona merah, sekolah pun tidak memungkinkan. Padahal selama ini gadis kecil saya termasuk yang "cinta" sekolah. Sekolah bagi dia bukan cuma tempat belajar tapi juga tempat bermain, bertemu teman, bercanda, dan bersosialisasi.

Secara psikologis saya melihat tekanan lebih terasa pada anak bungsu saya ketimbang yang sulung. Bagi si bungsu, pembelajaran jarak jauh benar-benar seperti meneror mentalnya. Di tengah kejenuhan yang luar biasa dia tetap harus dibebani materi-materi pelajaran yang dikirimkan gurunya setiap hari. Belum lagi tekanan yang secara tak sadar juga saya berikan agar dia tetap bisa mempertahankan nilai-nilai pelajarannya.

Puncak kejenuhannya mungkin terlihat seperti pada saat sebelum kenaikan kelas kemarin. Gadis kecil saya bahkan pernah mogok selama satu pekan tak mau mengerjakan tugas-tugas yang diberikan sekolah. Dia benar-benar tak mau menyentuh buku atau membuka video pembelajaran yang dikirimkan gurunya. Benar-benar situasi yang bisa dibilang membuat tensi emosi saya naik.

Sudah di ujung tahun pelajaran. Menjelang ulangan akhir semester si bungsu sempat pula berulah seperti itu. Dan endingnya pun bisa ditebak. Nilai-nilai rapornya menurun tajam. Marah dan kecewa pasti saya rasakan. Untungnya, suami saya bisa melihat permasalahan dengan lebih jernih. Dia selalu mengingatkan saya untuk sabar dan mencoba memahami kondisi yang dialami si bungsu.

Dari situlah saya mulai introspeksi diri, mencoba menata ulang ritme hidup yang kami jalani. Mencoba menyesuaikan lagi dengan kondisi yang ada. Ibaratnya saya akhirnya mencoba merestart ulang hidup kami.

Dari kasus mogoknya putri kecil saya itu, akhirnya saya membuat kesimpulan poin-poin kecil tips mendidik anak yang harus saya lakukan di saat pandemi.

* Bersabar
* Tidak kaku pada jadwal yang ada
* Menurunkan ekspektasi pada anak dan pada diri sendiri agar tak selalu menuntut semua hal berjalan dengan sempurna.
* Tetap beri anak kesempatan menyelesaikan tugas-tugasnya sendiri. Orang tua cukup memantau hasil kerjanya kecuali bila ada materi yang anak sangat kesulitan baru diajari. Jangan sampai orang tua yang mengambil alih mengerjakan tugas-tugas anak.
* Berusaha menjalin komunikasi yang baik dengan guru dan pihak sekolah untuk mengkomunikasikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak dan orang tua selama pembelajaran jarak jauh diterapkan.

Sungguh sekolah online atau pembelajaran jarak jauh menjadi tantangan besar bagi kita semua. Di tengah ekonomi yang menghimpit, para orang tua diberi beban tambahan mendampingi anak belajar di rumah menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya. 

Bagi yang anaknya sudah di sekolah lanjutan mungkin tak terlalu terasa karena mayoritas anak sudah lebih mandiri. Hal ini menjadi kesulitan tersendiri bagi orang tua yang anak-anaknya masih di bangku sekolah dasar. 

Tapi apa mau dikata, keadaannya memang sedang seperti ini. Selain bersabar, pasrah pada Yang Maha Kuasa adalah satu-satunya jalan agar kita bisa tetap waras menghadapi pandemi yang belum jelas kapan berakhirnya. Karena saya yakin selalu ada hikmah di balik musibah.

(Dinar K Dewi)

2 comments: